Dua Sisi Si “Big Durian”

By 21 February 2019In Depth

PROPERTY INSIDE – Tak hanya pergeseran urbanisasi dari orang-orang daerah yang berjuang menantang ibukota, para pengusaha, bahkan investor asing pun berbondong memasang taruhan dan keberuntungan di kota tua yang dulu dinamakan Jayakarta oleh Fatahillah.

Sebelum menjelma menjadi kota megapolitan seperti sekarang, catatan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan kota bernama Kalapa ini awalnya adalah bandar utama bagi kerajaan Hindu bernama Sunda. Pusat kerajaan ini terletak sekitar 40 kilometer dari Kalapa, berdekatan dengan kota Bogor sekarang.

Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa, ketika itu, kota ini dikuasai oleh Fatahillah, dia mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta.

Baca juga: Bernilai Fantastis, Proyek-proyek Properti ini Mangkrak dan Angker

Saat bangsa Belanda menguasai kota ini, Gubernur Jenderal JP Coen mengganti namanya menjadi Batavia di tahun 1619. Belanda membangun kanal-kanal untuk melindungi kota ini dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar.

Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Kota Batavia berkembang ke arah selatan, pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.

Dan kini, hampir genap 492 tahun Jakarta berdiri, namun pembangunannya masih kalah jauh dibandingkan Ibu Kota negara tetangga. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) baru-baru ini menyindir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan mengatakan Jakarta seperti dua negara.

Seperti durian, si raja buah yang tampilannya buruk rupa namun isinya sungguh tiada buah manapun yang menandingi, begitulah juga dengan Jakarta. Di tengah kesemrawutan kota dengan horor kemacetan dimana-mana, namun tetap mampu menjadi magnet ekonomi bagi banyak orang.

Baca juga: #SaveKomodo, Ramai-ramai Tolak Komersialisasi Taman Nasional Komodo

Thamrin dan Sudirman seperti Singapura, dan Tanjung Priok seperti Bangladesh. JK mengatakan hal tersebut, usai melakukan pantauan udara kondisi Jakarta bersama Anies dan sejumlah menteri.

“Ini Jakarta kalau kita ada di Jalan Thamrin seperti di Singapura, tapi kalau kita di Tanjung Priok seperti Bangladesh,” kata JK kepada pertengahan Januari lalu.

Anies yang berada di samping JK pun tak menampik pernyataan tersebut. Mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut menyadari bahwa ketimpangan pembangunan di Ibu Kota memang benar-benar nyata. Bagi Anies, apa yang dikatakan Wakil Presiden RI itu bukanlah kritik, melainkan sebuah fakta.

Kesalahannya, ada pada perencanaan tata ruang yang kurang benar. Sebab, selama ini pembangunan moda transportasi dan tata ruang Jakarta diurus oleh institusi-institusi yang berbeda, sehingga sulit untuk membentuk suatu integrasi yang sejalan. Compang-campinglah hasilnya.

Baca juga: Kisah Horor Dibalik Keindahan Arsitektur Rumah-rumah “Berhantu”

“Jakarta kalau kita ada di Jalan Thamrin seperti di Singapura, tapi kalau kita di Tanjung Priok seperti Bangladesh”

Wakil Presiden – M Jusuf Kalla

“Di satu sisi pembangunan benar-benar masif dan tertata, di sisi lain pembangunan dilakukan hanya setengah-setengah. Tidak ada integrasi antar satu titik ke titik lainnya,” imbuhnya.

Namun terlepas dari polemik tersebut, ‘jahitan’ Ibu Kota Jakarta yang tidak rapi saat ini, tidaklah lepas dari peran gubernur dan para pemimpin sebelumnya. Ditelisik dari zaman Gubernur Soewirjo (1945) hingga Sutiyoso (2007), pembangunan Jakarta terpusat pada wilayah-wilayah penting saja, seperti Sudirman, Thamrin, Kuningan dan kawasan Medan Merdeka.

Belum ada pemerataan yang nyata dan kesadaran integrasi tata ruang seperti yang dilakukan negara-negara berkembang lain di kawasan Asia dan Amerika. Baru sekitar sepuluh tahun lalu atau tahun 2009, Jakarta mulai memikirkan konsep penataan tata ruang kota dan moda transportasi yang sejalan.

Share this news.

Leave a Reply