Masjid Jami’ Bengkulu, Karya Indah Bung Karno

PROPERTY INSIDE – Bung Karno, sang proklamator Republik ini adalah seorang insinyur teknik sipil meski dirinya sangat menyenangi ilmu arsitektur. Bahkan dalam karir profesionalnya, Bung Besar pernah mendirikan biro aristek bersama teman kuliahnya.

Jaman itu mahasiswa yang berminat menekuni bidang arsitektur harus meneruskan kuliah ke di Delft, Belanda karena Technische Hogeschool-Bandoeng (ITB) belum memiliki Jurusan Arsitektur. Bagi yang ingin menjadi arsitek tanpa harus ke Belanda, satu-satunya cara adalah magang di kantor-kantor biro arsitek.

Baca juga: 313 Tahun Menjadi Masjid Terbesar Dunia, Inilah Keindahan Arsitektur King’s Mosque

1928 Bung Karno bersama Ir. Anwari mendirikan “Biro Insinyur Soekarno & Anwari”, di Regentsweg no. 22 Bandung, sekarang Jl. Dewi Sartika. Lalu bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.

Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami di tengah kota. renovasi bangunan masjid yang dirancang Bung Karno ini berlangsung pada tahun 1938-1942.

Masjid Jami’ Bengkulu ini pertama kali dibangun diperkirakan pada abad ke 18 dengan bentuk yang sangat sederhana.  Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu.

Bisa jadi masjid tersebut merupakan masjid yang dibangun oleh Sentot Ali Basya dan pengikutnya. Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang sekitar awal abad ke 19. Ketika pertama kali dibangun, masjid jami ini hanya menggunakan konstruksi kayu beratap rumbia.

Baca juga: Tips Menata Rumah Saat Lebaran

Bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil Soekarno, dengan mengubah beberapa bagian bangunan masjid. Bagian yang dipertahankan adalah dinding dan lantai. Tapi dinding tersebut ditinggikan lagi 2 meter dan lantainya 30 cm.

Sedangkan bagian yang dirancang ulang oleh Soekarno adalah atap dan tang masjid. Atap masjid rancangan baru ini berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.

Dana pertama renovasi masjid ini didapat dari swadaya masyarakat, bahan material bangunan diambil dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara. Selama di pengasingan Bung Karno juga sempat merancang 4 rumah tinggal, tapi hanya 2 yang terbangun, yakni rumah kembar untuk refendaris residen dan rumah seorang demang.

Share this news.

Leave a Reply