Sutedja S Darmono, Sentuhan Millennial Leader Visioner

PROPERTY INSIDE – Sentuhan tangan dingin millennial leader ini telah mengubah Kota Jababeka menjadi kawasan bisnis sekaligus hunian berkelas, liveable & comfortable.

Wajah Kota Jababeka dalam beberapa tahun terakhir berbeda dari sebelumnya. Kawasan yang dikembangkan sejak 30 tahun lalu, saat ini fokus pada produk residensial dan komersial. Produk yang dikembangkan Kota Jababeka telah menyaingi kawasan skala kota lainnya di Indonesia.

Konsep lifestyle yang kuat dan produk hunian yang tak biasa ini lahir dari tangan dingin dari Sutedja S Darmono, President Director PT Graha Buana Cikarang, yang merupakan anak usaha dari PT Jababeka Tbk.

Di tangan Sutedja, yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur termuda di PT Jababeka Tbk,. Kota Jababeka melakukan terobosan. Salah satunya adalah membidani proyek hunian terpadu bernama Jababeka Residence pada 2013.

Berkat kepiawaiannya, citra Jababeka yang sangat lekat sebagai kawasan industri mulai menjadi kawasan kota mandiri internasional yang lengkap dengan berbagai fasilitas bisnis, lifestyle sekaligus hunian yang asri. Perlahan Kota Jababeka menjelma menjadi kota yang layak huni.

Sutedja pantas disebut sebagai anak muda yang visioner dalam melihat future development kawasan. Terbukti, gagasannya mengembangkan konsep kawasan hunian Jababeka Residence di bawah bendera PT Graha Buana Cikarang kini berkembang pesat menjadi kawasan hunian bergengsi yang sarat fasilitas.

Bahkan kawasan ini pun telah merancang rencana pengembangan Transit Oriented Development (TOD) City sejalan dengan masifnya pembangunan infrastruktur di Koridor Timur Jakarta ini. Nantinya Kota Jababeka akan menyiapkan one stop station & shelter yang menyatukan berbagai transportasi masal di Koridor Timur Jakarta.

sutedja s darmono

“Perkembangan Kota Jababeka juga didukung dengan kemudahan aksesbilitas dan konektivitasnya dengan dukungan pembangunan infrastruktur. Kawasan Koridor Timur ini akan menjadi kawasan transit oriented development (TOD) yang memiliki kelengkapan infrastruktur dan juga moda transportasi,” jelas Sutedja.

Selain Tol Layang Jakarta – Cikampek yang telah beroperasi dan merupakan rangkaian dari pengembangan infrastruktur di Timur Jakarta, kawasan ini nantinya akan memiliki beragam infrastruktur. Selain memiliki 3 akses tol langsung ke Kota Jababeka (pintu tol Cikampek-Jakarta Km 29, Km 31, dan Km 34,7), Kota Jababeka juga dekat dengan stasiun dan KRL Commuter Line.

Kemudian juga ada jalan tol JORR II yang akan rampung pada tahun 2020, MRT fase III Jakarta-Balaraja, LRT Jakarta-Cikarang, High Speed Train Jakarta-Bandung, Pelabuhan Patimban serta Bandara Internasional Kertajati yang telah beroperasi sejak Juli 2019.

Kota Jababeka kini hadir dengan beragam fasilitas yang telah disesuaikan dengan karakteristik penghuni kota mandiri. Tentunya dengan sentuhan anak muda seperti Sutedja, produk-produk yang dikembangkan di Kota Jababeka memiliki karakter dan memiliki value tinggi.

“Kota Jababeka merupakan kawasan kota mandiri masa depan yang layak disebut sebagai One Stop Smart Living dimana penghuninya dapat bekerja, tinggal, berekreasi dan berbisnis di dalam satu kawasan.

Inisiator Koridor Timur Jakarta

Dijumpai di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Sutedja juga menjelaskan bahwa Koridor Timur Jakarta yaitu Bekasi, Cikarang, dan Karawang adalah jantung penting bagi perekonomian Indonesia yang pada tahun 2018 mencapai Rp14,8 triliun berdasar pada data Produk Domestik Bruto (PDB), tumbuh 5,17 persen lebih tinggi dari capaian tahun 2017.

Setidaknya lebih dari 60% aktivitas perekonomian nasional disumbang oleh Koridor Timur Jakarta yang 70%-nya berpusat di Bekasi-Cikarang. Dengan fakta tersebut, Sutedja beserta beberapa pengembang besar lain di kawasan ini menginisiasi  pembentukan Komite Timur Jakarta.

sutedja darmono

“Ini berawal dari tukar pikiran bersama antara teman-teman developer yang ada di wilayah Timur Jakarta terkait permasalahan yang sama mengenai image kawasan Koridor Timur Jakarta yang secara tidak langsung turut berdampak pada sisi pemasaran yaitu mengenai kemacetan dan kawasan industri,” jelas Sutedja.

Padahal, image ini sebenarnya tidak tepat. Sebab, macet itu lebih dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur. Dan, kedepannya, kemacetan tersebut nantinya akan berakhir seiring selesainya pembangunan infratruktur tersebut.

Nah, terkait image sebagai kawasan industri, yang patut diingat Koridor Timur Jakarta ini adalah light to medium industry. Yaitu kawasan indutri yang ringan atau tidak menciptakan polusi seperti daerah industri lainnya. Sehingga sangat nyaman sebagai kawasan hunian.

Saat ini Koridor Timur Jakarta juga telah menjadi kawasan industri terbesar di Asia Tenggara yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja. Lebih dari 50.000 industri dari setidaknya 30 negara, baik nasional maupun mulitinasional beroperasi di Koridor Timur Jakarta.

Share this news.

Leave a Reply