MRT Jakarta, Kembangkan Pendapatan Non Tiket

By 15 December 2020Property News

PROPERTY INSIDE – Pandemi telah menghantam berbagai sektor ekonomi negara, salah satunya sektor transportasi publik. Jumlah harian pengguna jasa MRT Jakarta pada Januari dan Februari 2020 lalu mencapai sekitar 88 ribu orang dan skalanya naik menuju target 100 ribu orang per hari.

Namun, awal Maret sampai dengan Mei menurun drastis. Awal Juni mulai bergerak naik. Per 8 Desember 2020 lalu, rata-rata pengguna jasa MRT Jakarta mencapai 27.901 orang per hari.

Baca juga: BTN, 44 Tahun Fokus Salurkan KPR

Dari sisi bisnis, pendapatan tiket tersebut tidak mencapai harapan. PT MRT Jakarta (Perseroda) berinisiatif mengembangkan pendapatan nontiket, dan salah satunya ialah periklanan.

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar  mengatakan, kita memanfaatkan pilar-pilar stasiun layang sepanjang koridor MRT Jakarta dengan pemasangan LED dan LCD.

Menurutnya, pada tahun pertama ini, terdapat 438 pilar neonbox dan 50 pilar LED. “Selain itu, kita juga merambah ke bisnis digital melalui kerja sama dengan perusahaan rintisan maupun anak muda yang bergerak di bidang ekonomi digital dan pembuatan program digital,” imbuhnya.

Baca juga: Rumah Subsidi, Wapres: Perlu Intervensi Yang Lebih

William mengacu kepada program MRTJ Accel dan MRTJ Star Track Incubation program yang diluncurkan beberapa bulan lalu. Optimalisasi sarana dan prasarana MRT Jakarta berkontribusi besar terhadap pendapatan perusahaan.

Sejak awal beroperasinya, PT MRT Jakarta (Perseroda) telah mendapatkan pemasukan dari berbagai sektor nontiket selain periklanan, yaitu retail, telekomunikasi, hak penamaan, dan pengembangan kawasan berorientasi transit.

“Pada 2020 ini, sektor nontiket menghasilkan pendapatan sekitar Rp370 miliar, lebih baik dari tahun lalu. Kita dibantu dengan pendekatan dari non-fare box revenue,” terang William.

Baca juga: Bisnis Ritel Tunjukkan Tanda-Tanda Positif

Lebih lanjut William juga menyebutkan kondisi perusahaan masih positif, arus kas (cash flow) positif sehingga tidak ada pengurangan karyawan. Selain itu, pelayanan pun masih baik tidak berkurang.

“Bahkan, dari hasil survei kepuasan pelanggan (customer satisfaction index), angkanya mencapai 86 persen. Lebih bagus dari tahun lalu yang ada di angka 82 persen. Artinya penumpang masih sangat puas naik MRT Jakarta meskipun dalam situasi pandemi,” tegasnya.

Share this article:

Leave a Reply