Tinggal di Kawasan Hunian Berbasis TOD Adalah Kebutuhan

PROPERTY INSIDE – Pembangunan berorientasi transit oriented development (TOD) adalah solusi utama dalam pengembangan perkotaan khususnya untuk mengatasi masalah transportasi dan backlog perumahan. Karena itu, konsen pemerintah dalam mengembangkan pembangunan kawasan-kawasan TOD tentu harus diapresiasi.

Bagi para pengembang properti, konsep ini adalah konsep masa depan. Mau tidak mau, nantinya pengembangan perkotaan dan kawasan akan berpatokan pada konsep ini. PT Adhi Commuter Properti sebagai pionir pengembangan kawasan hunian berbasis TOD terus bergerak cepat mengembangkan hunian-hunian yang akan menjadi pilihan tempat tinggal utama di masa depan.

Membahas mengenai hal ini Property Inside telah mewawancarai Director Of Business Development PT Adhi Commuter Properti, Rozi Sparta, berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana sejarah dan latar belakang pendirian Adhi Commuter Properti (ADCP)?

Berawal dari upaya turut memberikan salah satu solusi masalah kemacetan di DKI, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mendapat penugasan sesuai Peraturan Presiden No 98 Tahun 2015 beserta perubahannya untuk membangun LRT Jabodebek Tahap 1. Mengkreasikan peluang yang ada dari penyediaan fasilitas pendukung yang terintegrasi transportasi publik, ADHI mengembangkan Kawasan berbasis transportasi, melalui anak perusahaan PT Adhi Commuter Properti.

Pendirian perusahaan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam menyediakan kawasan hunian terintegrasi dan support facilities di area sekitar jalur Light Rail Transit (LRT), KRL, BRT dan transportasi massal lainnya.

Apa saja ekspansi bisnis dan rencana pengembangan ADCP di tahun 2021 ini?

Di akhir tahun ini kami akan mengembangkan 2 proyek baru lagi di lokasi LRT City, sehingga menguasai 9 dari 17 titik stasiun LRT Jabodebek tahap 1. Selain itu, saat ini karena progres dari pembangunan apartemen hampir selesai dimana pada podiumnya merupakan commercial area, ADCP berencana untuk menjadikan commercial area di LRT City menjadi reccuring income yang dimiliki oleh ADCP.

Saat ini ada beberapa unit yang sudah selesai, strategi ADCP yaitu membuat service apartemen untuk disewakan dengan brand Stay G. Hal ini untuk menangkap peluang dari orang yang ingin menginap dengan kedekatan stasiun LRT terutama untuk orang yang berasal dari luar Jabodetabek.
ADCP juga memiliki restoran seperti Kalandara, Sixty Five, dan Origami dimana memiliki target pasarnya masing masing, Kalandara memiliki target pasar orang indonesia, Sixty Five untuk keperluan meeting sedangkan Origami biasanya untuk expartriat dari Jepang. Selain itu ADCP juga memiliki brand Elarte Coffee & Bike Spa dimana cukup populer bagi orang yang memiliki karakteristik urban lifestyle sehingga dengan adanya Elarte Coffee & Bike Spa mampu mendorong penjualan dari produk ADCP.

Mengapa ADCP memilih menjadi pengembang dengan spesialisasi Transit Oriented Development? Seberapa besar peluangnya di Jabodetabek?

Pengembangan kota di Indonesia saat ini cenderung mengembangkan transportasi masal berbasis rel, dimana pada tahun sebelumnya hanya membangun KRL sebagai moda transportasi masal namun saat ini banyak pengembangan berbasis rel seperti MRT, LRT Jabodebek, LRT Jakarta, KCIC serta peraturan pendukungnya (Peraturan Terkait TOD). Banyak masyarakat khususnya di Jabodetabek beralih ke transportasi masal berbasi rel tersebut karena penerapan dari TOD / membangun segala aktivitas yang berada di titik transit baik hunian, perkantoran, komersial area, hiburan / rekreasi, belanja serta aktivitas lainnya.

ADCP sebagai properti yang memiliki konsep Transit Oriented Development (TOD) akan lebih diminati oleh pasar. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh inventura dimana 61% konsumen tidak setuju bila pengembang tidak mempertimbangkan transportasi publik dalam perencanaannya. Realisasi infrastruktur dalam tiga tahun kedepan, terutama dalam sarana transportasi semakin meyakinkan pasar bahwa prinsip lokasi properti menjadi menekankan waktu tempuh bukan kepada jarak tempuh.

Bagaimana Anda melihat karakter konsumen perkotaan memandang konsep TOD ini?

Dalam perubahan preferensi orang untuk tinggal di daerah rural sehingga konsep TOD tidak menjadi prioritas, perusahaan memandang kondisi ini justru mendukung konsep TOD. Mobilitas tetap kebutuhan mutlak bagi wilayah rural yang masih bergantung pada wilayah inti. Dan kondisi terus berkembang seiring dengan proses urbanisasi yang terus berjalan, World Bank mencatat 56% penduduk indonesia tinggal dikota.

Perkembangan yang berkelanjutan ini mendorong gaya hidup untuk terus efisien terutama dalam konteks mobilitas memenuhi kebutuhan. Karena kondisi itulah, konsep TOD dirasa yang paling tepat untuk mengakomodir perubahan prilaku serta kebutuhan tersebut. Konsep TOD ini kunci efisiensi dalam mobilitas dimana transportasi massal terintegrasi. Strategi apa yang diterapkan oleh ADCP untuk pengembangan usaha dan apakah akan ada lini bisnis baru di tahun ini?

Strategi ADCP dalam mengembangkan reccuring business adalah dengan mengelola hotel dan commercial area / mall di podium apartemen, membuat fasilitas pendukung seperti Elarte Coffee and Bike Spa, restaurant, mengembangkan service apartement untuk unit yang belum terjual dengan brand Stay G serta mengelola produk ADCP baik dari building management dan estate management.

Yang melandasi pembangunan reccuring income di TOD area adalah adanya captive market dari penumpang yang menggunakan LRT khususnya di LRT Jabodebek. Berdasarkan contoh di Blok M Plaza, dimana saat ini dengan beroperasinya MRT dapat meningkatkan occupancy rate dari Blok M plaza tersebut. Selain itu juga di dukung dari pengembangan berbasis TOD dimana seluruh fasilitas penunjang dari aktivitas masyarakat berada di kawasan tersebut / sebagai crowd puller.

Selain mengembangkan high rise building ADCP juga berencana untuk memperkuat Portofolio bisnis properti dengan pengembangan township development untuk meningkatkan pendapatan sesuai dengan kebutuhan pasar dan pendapatan yang cepat. Selain itu berencana untuk menperkuat recurring income baik dari pengelola commercial area, service apartment dan building management.

Secara umum, bagaimana Bapak melihat pertumbuhan industri properti saat ini?

Perusahaan memandang bahwa properti sekarang pada posisi mulai take off memasuki harapan baru setelah sebelumnya semenjak tahun 2013-2020 mengalami masa pencarian keseimbangan baru antara penawaran dan permintaanya. Di 2021-2022 properti akan bergerak naik dan akan terus terdorong tinggi berjalan parallel dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 sebesar 4,3%-5,3% (data Bank Indonesia) dan realisasi infrastruktur pemerintah terutama pada proyek strategis (MRT, LRT, KCIC, ataupun Toll).

Share this article:

Leave a Reply