logo

Asia Pasifik, Potensi Besar Industri Properti Digital

Asia Pasifik, Potensi Besar Industri Properti Digital
PROPERTY INSIDE – Penerapan teknologi dalam menghadapi tantangan di industri real estate yang mulai diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan start-up teknologi di bidang properti (proptech) mulai menunjukkan taringnya.

Konsultan properti global, JLL dalam siaran persnya melaporkan, star-up proptech di Asia Pasifik telah berkembang secara signifikan sejak pertama kali muncul di tahun 2007 dengan listing start-up properti residensial. Dengan keadaan ini, proptech akan mulai melayani kebutuhan perusahaan besar dan sektor real estate komersial.

Proptech melayani empat pasar Utama, yaitu: Brokerage dan Leasing, Investasi dan pendanaan, Pengembangan Proyek dan Manajemen Properti. Lebih dari setengah atau 52 persen start-up yang telah mengumpulkan dana sejak tahun 2013 berasal dari kategori brokerage dan leasing, di mana mereka berfungsi sebagai marketplace untuk para broker, pemilik dan pembeli properti.

Anthony Couse, CEO, JLL Asia Pacific mengatakan, semakin banyak perusahaan start-up yang bermunculan, perusahaan seperti JLL dapat memiliki solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahan besar. "Begitu kita mulai melihat penerapan teknologi seperti pencetakan 3D, robotika dandrones bersamaan dengan pertumbuhan Smart Cities (Kota Cerdas) di Asia, maka hal ini dapat mentransformasi industri real estate,” ujarnya.

Berdasarkan matriks analisa The Total Investasi Real Estate Universe yang dikembangkan secara khusus oleh konsultan properti global JLL dan Digital Savviness yang ditetapkan oleh World Economic Forum’s Networked Readiness Index, Tech in Asia memproyeksikan bahwa negara-negara dengan potensi tertinggi untuk memiliki unicorn – atau yang disebut dengan miliaran dollar start-up – di Asia Pasifik yaitu terdapat di Cina dan Jepang.

"Kami telah memperhatikan bahwa Cina telah memiliki unicorn proptech. Khususnya di wilayah Lianjia – berhasilkan mendapatkan dana dari investor sebesar USD 1,69 miliar untuk bisnis brokerage yang berbasis teknologi. Dengan antusiasnya Cina dalam mengadopsi fintech dan pembayaran via mobile, pertumbuhan proptech diprediksi akan lebih banyak di Cina. Selain Cina, Jepang sudah mempunyai pondasi untuk menciptakan miliaran dolar startup yang sukses karena keinginan yang tinggi untuk mengadopsi blockchain," jelas Terence Lee, editor utama di Tech in Asia.
SHARE :
Tweet
Property News Asia Pasifik, Potensi Besar Industri Properti Digital
PUBLISHED : Friday, 17 November 2017
Iklan kiri 1
Iklan kiri 3
iklan kiri 4
Iklan kiri 2

Most Popular

Tak Ada Pribumi di Jakarta

Tak Ada Pribumi di Jakarta

Helen Hamzah Associate Director Ciputra Group Konsistensi Pada Profesi

Helen Hamzah - Associate Director Ciputra Group; "Konsistensi Pada Profesi"

Kuba Keindahan Arsitektur Dunia di Negara Revolusi

Kuba, Keindahan Arsitektur Dunia di Negara Revolusi

Artificial Inteligence Semakin Berkembang Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

Artificial Inteligence Semakin Berkembang, Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

INTERVIEW Alvin Andronicus AVP Marketing Agung Podomoro Land

INTERVIEW: Alvin Andronicus, AVP Marketing Agung Podomoro Land

Ciputra Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Ciputra: Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Berapa Ketentuan Besaran Komisi Broker Properti

Berapa Ketentuan Besaran Komisi Broker Properti?

Tingkatkan Penjualan Properti 2018 dengan 4 Trik Marketing PropTech ini

Tingkatkan Penjualan Properti 2018 dengan 4 Trik Marketing PropTech ini

Iklan kanan 2
Iklan kanan 1
Iklan kanan 3
Page Iklan Bawah
Facebook
Instagram
Twitter
Copyright 2017 www.PropertyInside.id. All Rights Reserved
Jasa Pembuatan Website by IKT
Switch to Desktop Version