PROPERTY INSIDE - Pasar properti untuk Gen-Y atau generasi milenial berpotensi untuk terus tumbuh hingga 10 tahun ke depan, segmen ini mendominasi hunian seharga Rp 1 miliar ke bawah. Menurut pengamat properti yang juga pendiri Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit, orientasi pengembang saat ini mengarah kepada pembangunan produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial.
“Daya beli kelompok milenial didukung oleh orang tua mereka yang sudah mapan secara ekonomi. Kemampuan mereka sendiri dalam membeli properti hanya berkisar antara 500 juta hingga satu miliar. Namun jumlah penduduk dari segmentasi ini akan terus bertambah secara signifikan karena adanya bonus demografi sehingga berpengaruh terhadap industri ini,” kata Panangian.
Panangian menegaskan bahwa pasar milenial adalah potential market yang akan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030. Bank-bank pemberi kredit perumahan pun saat ini telah membuka diri agar bisa diakses oleh generasi ini. “Salah satu bank pemerintah telah serius menggarap kredit perumahan untuk segmen pasar ini,” ungkapnya lagi.
Potensi ini jelas akan ikut berimbas pada pertumbuhan industri kreatif subsektor arsitektur dan interior. Salah satu pemain industri kreatif lokal di subsektor ini adalah Velospace & Co, perusahaan design and build, yang memiliki portofolio proyek rumah tapak, apartemen, ritel, perkantoran, hingga pergudangan.
Verik Angerik, pendiri Velospace, mengatakan bahwa keterbatasan lahan untuk rumah di bawah Rp 1 miliar tidak membuat segmen ini harus mengabaikan nilai-nilai estetika dalam unsur arsitekturnya. Ruang yang terbatas juga tidak membuat properti menjadi terbatas untuk dikembangkan dengan konsep interior yang menarik.
“Misalnya pemilihan warna dinding, sangat berpengaruh terhadap estetika ruangan dengan luasan terbatas karena dapat mempengaruhi psikologis penghuninya. Selain itu efisiensi ruangan juga menjadi fokus yang diperhatikan saat menata produk-produk hunian berukuran terbatas,” kata Verik, Minggu (10/12).
Pasar milenial, ujar Venrik, lebih melihat pada ide dan keunikan sebuah desain properti, meski soal harga bergantung dari daya beli masing-masing. Verik menambahkan, kebutuhan akan jasa arsitek dan desain interior juga meningkat seiring dengan bertumbuhnya permintaan residensial high-end, perkantoran, perhotelan, hingga ritel atau ruang usaha.
“Tidak saja karena kebutuhan millennial, secara umum, permintaan produk turunan properti lainnya juga mempengauhi pertumbuhan permintaan jasa industri kreatif seperti arsitektur dan interior. Ini yang kami rasakan sejak dua tahun terakhir.”
Lebih lanjut dijelaskannya, meski pemain subsektor ini cukup banyak yang merupakan pemain asing namun secara kualitas, arsitek dan desainer lokal tidak kalah dengan penyedia jasa dari luar.
“Kita memiliki daya saing yang cukup tinggi. Soal kreatifitas, Indonesia punya banyak talent-talent di industri kreatif. Dan tahun 2018 ini bisa menjadi momentum untuk kita para pemain sub sektor ini untuk semakin solid,” sarannya.