PROPERTY INSIDE - Masa kolonial Belanda di Indonesia banyak meninggalkan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur The Empire Style yakni suatu gaya arsitektur neo-klasik. Arsitekur gedung-gedung bergaya kolonial ini disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan material pada waktu itu.
Museum Fatahilah, Jakarta
Gedung ini awalnya berfungsi sebagai Balai Kota, dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan ini mirip dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Arsitektur bangunannya bergaya neo-klasik abad ke-17 terdiri dari tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.
Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm).
Selain digunakan sebagai Stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai “Raad van Justitie’’ (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942, gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintahan Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon.
Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
Kantor Pos Besar, Medan
Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter. Kantor pos yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan. Bangunan yang di dominasi dengan warna putih dan orange, yang merupakan identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik.
Bentuk kubah tetap dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Jendela-jendela yang terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah lingkaran, dengan tiang putih yang menyangganya, membuat bangunan tersebut terlihat seperti kandang burung.
Di Kantor Pos Besar kota Medan ini juga masih tertera ukiran-ukiran tulisan yang menjadi penanda tahun bangunan ini. Ukiran tulisan ‘ANNO 1911’ di bagian atas samping kiri-kanan bangunannya pun masih terlihat jelas. Ia menjadi salah satu bukti tahun kelahiran bangunan tersebut.
Kantor Pos Medan berdiri tahun 1911, yang diarsiteki oleh arsitek Belanda bernama Snuyf. Arsitek bangunan bersejarah ini tak lain adalah Snuyf. Dia memulainya pada 1909 dan selesai pada 1911. Dia sendiri merupakan pejabat pekerjaan umum Belanda untuk Kesultanan Deli.
Di Eropa, desain bangunan seperti pada Kantor Pos Besar Medan dikenal dengan nama arsitektur modern fungsional (art deco geometrik). Jenis arsitektur ini merupakan generasi ketiga setelah arsitektur klasik yang hadir sebelum 1910 dan arsitektur neo-klasik (art deco ornamental) sebelum 1920. Kedua jenis arsitektur terakhir juga pernah digunakan Belanda dalam pembangunan beberapa bangunan yang mereka kontrak di Medan.
Bangunan bergaya geometris rata-rata dibangun sebelum 1935. Jika melihat waktu berdiri kantor pos pada 1911, diperkirakan ia merupakan bangunan era pertama yang menggunakan arsitektur geometris di Medan. Oleh karena itu juga, tak banyak ditemukan bangunan tua dengan gaya arsitektur serupa di kota ini.
Salah satu ciri khas bangunan zaman dulu adalah keberadaan langit-langitnya yang lebih tinggi. Begitu pun lampu dan kipas angin yang terpasang dengan pegangan yang panjang, seperti di beberapa ruangan kantor pos.
Awalnya, langit-langit vestibule dilapisi dengan kuningan asli. Hanya saja, lapisan itu mengelupas akibat tragedi kebakaran yang sempat menghanguskan sebagian kecil bangunan kantor pos pada Juni 2003.
Gedung Arsip Nasional, Jakarta
Bekas kediaman gubernur jenderal VOC Reinier de Klerk ini dibangun pada abad ke-18. Tahun 1900, ada rencana untuk membongkarnya dan membangun pertokoan di tempatnya. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu), yang justru didirikan de Klerk, turun tangan untuk menyelamatkannya.
Hingga tahun 1925, gedung ini dipakai departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian, tempat tersebut dijadikan Lands archief (arsip negeri), kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi gedung arsip nasional. Tahun 1992, arsip nasional dipindahkan ke gedung baru di Jalan Ampera di Jakarta Selatan.
Tahun yang sama, ada kabar angin bahwa gedung lama akan dibongkar keluarga mantan presiden Soeharto untuk membangun pertokoan, seperti pada tahun 1900. Gedung ini diselamatkan sekelompok usahawan Belanda yang mendirikan Stichting Cadeau Indonesia (yayasan hadiah Indonesia) yang ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50.
Jam Gadang, Bukittinggi
Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Jam berbentuk menara ini menghabiskan biaya sekitar 3000 gulden. Arsitekturnya dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, orang Indonesia asli dari suku Minangkabau sendiri.
Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter dengan ketinggian 26 meter, menara ini memiliki beberapa tingkat di dalamnya, tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Terdapat 4 jam dengan diameter 80 cm pada pada masing-masing jam.
Mesin jam yang kini menjadi landmark Kota Bukittinggi, Sumatera Barat itu hanya ada 2 unit di dunia, satu lagi adalah Big Ben, landmark Kota London. Mesin jam ini dibuat oleh Vortmann Relinghausen, seperti tertera pada bagian lonceng jam.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda. Saat ini atap Jam Gadang berbentuk gonjong Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau.
Lawang Sewu, Semarang
Lawang Sewu dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, pada 27 Februari 1904. Arsiteknya adalah Prof Klinkhamer dan B.J. Qüendag. Bangunan Lawang Sewu di Semarang terkenal sebagai arsitektur kolonial yang dirancang sesuai dengan iklim setempat .
Orientasi dari bangunan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga sebagian besar dari gedungnya tidak menghadap ke arah Timur-Barat secara langsung. Awalnya bangunan tersebut didirikan untuk digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS.
Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiun Samarang NIS. Namun pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang cukup pesat, dengan sendirinya membutuhkan penambahan jumlah personel teknis dan bagian administrasi yang tidak sedikit seiring dengan meningkatnya aktivitas perkantoran.
NIS pun menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai jalan keluar sementara. Namun hal tersebut dirasa tidak efisien. Belum lagi dengan keberadaan lokasi Stasiun Samarang NIS yang terletak di kawasan rawa-rawa hingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting.
Kemudian diputuskan untuk membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).
NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Negeri Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke kota Semarang.