PROPERTY INSIDE – Dedikasinya pada dunia properti tak perlu diragukan lagi, lebih dari dua dekade Helen Hamzah berkecimpung di industri ini. Dunia properti bagi Helen bukan hanya sekedar profesi yang wajib ia jalani, namun baginya ini adalah passion. Sepanjang karirnya, tak sedetik pun Helen berpaling dari dunia properti. Baginya, konsistensi pada profesi adalah hal mutlak yang harus dijaga, karena konsistensi adalah implementasi dari pengabdian.
Kecintaan Associate Director Marketing & Sales Commercial Building Ciputra Group ini pada dunia properti dimulai saat dirinya masih duduk di bangku kuliah, dia memulai karir sebagai marketing properti freelance. Sejak saat itu, Helen berfokus pada bidang strategi pemasaran meski ibu dari Clarice dan Liuz ini sebenarnya adalah seorang arsitek.
Bagi Helen, seorang pemasar properti harus memiliki goal untuk satu tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya, menyiapkan target dengan ekspektasi tinggi adalah cara terbaik untuk mencapai goal tersebut. Selanjutnya, kerjakan secara maksimal dan fokus pada target yang ingin dicapai tersebut.
“Pada prinsipnya, semua harus punya target. Jika kita punya goal yang baik, tentu saja itu menjadi motivasi bagi diri sendiri dan team work. Kita menjadi lebih fokus dengan apa yang ingin dicapai, dan otomatis apa yang dikerjakan menjadi lebih maksimal. Yang penting dicatat, ketika target telah tercapai, jangan cepat berpuas diri, tapi siapkan target berikutnya yang ingin dicapai,” ungkap Helen.
Prinsip seperti inilah yang selalu diterapkan Helen dalam meniti karir professionalnya sejak tahun 1995. Helen selalu konsisten dan selalu berpikiran positif dalam mengaplikasikan target yang telah disiapkan. Dirinya memastikan bahwa apapun yang dikerjakan dengan pemikiran positif dan konsisten, otomatis akan menempa seseorang menjadi pribadi yang kuat. Semangat seperti ini juga selalu ditekankan Helen kepada team work-nya.
”Bagaimanapun kita orang Timur, karakteristik kita dalam berinvestasi adalah properti”
“Yang tidak kalah penting adalah positive thinking dan optimis, apapun target yang diamanatkan perusahaan dapat dicapai jika kita selalu berpikiran positif, disitulah kekuatannya. Pemimpin harus optimis, dan optimisme itu harus didistribusikan kepada tim,” jelasnya.
Berbicara tentang industri properti yang dinamis dan selalu berubah menurut Helen hal itu sudah menjadi keniscayaan. Sejak awal istri Jimmy ini menyadari bahwa properti akan terus berkembang. Developer harus siap dengan perubahan, karena industri ini selalu menuntut perubahan kebutuhan dan bahkan juga perubahan policy pemerintah.
“Industri properti itu bergeraknya sangat cepat, perubahannya juga sangat pesat. Artinya, tantangan setiap zaman itu berbeda, dan startegi yang diterapkan juga harus sesuai dengan zamannya. Jika dulu masyarakat kita lebih memilih hunian landed house, sekarang mulai beralih pada highrise building. Highrise building pun konsepnya terus bergerak mengikuti perkembangan zaman dan teknologi,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Helen, dalam kondisi apapun pengembang juga harus bergerak cepat menangkap peluang. Meski saat ekonomi sedang mengalami perlambatan pun pasti ada celah peluang yang bisa dibidik. Namun keberanian mengambil peluang tersebut tetap harus dibarengi dengan analisis yang tepat sebelum melakukan eksekusi.
Lebih lanjut Helen menjelaskan, analisis sebelum eksekusi wajib dilakukan pengembang manapun untuk meminimalisir resiko. Analisa pasar, mempelajari kompetitor dan melakukan persentase target penjualan adalah bagian dari manajemen resiko yang harus dilaksanakan. Selain itu, pengembang juga wajib menyiapkan plan B sebagai substitusi rencana awal jika tidak sesuai dengan ekspektasi.
“Berani mengambil peluang sekecil apapun adalah salah satu kunci sukses dalam memasarkan properti. Seperti Tower Newton di Ciputra World 2 Jakarta, misalnya. Seharusnya rencana kami Tower Newton akan dipasarkan pada kuartal pertama 2017. Namun kami melihat ada peluang pada momentum tax amnesty gelombang pertama yang sukses. Akhirnya kami rilis Tower Newton pada kuartal IV 2016, dan ternyata sukses melebihi ekspektasi. Seratus persen sold out,” ungkap Helen.
“Yang penting dicatat, ketika target telah tercapai, jangan cepat berpuas diri, tapi siapkan target berikutnya yang ingin dicapai”
Generation Y
Banyak praktisi properti melihat generasi yang lahir antara tahun 80an hingga awal 90an ini adalah target pasar yang sangat seksi. Namun tidak banyak yang melihat dan mempelajari seperti apa karakter hunian yang dibutuhkan oleh generasi Gen-Y ini. Kebanyakan melihat Gen-Y hanya target pasar yang potensial semata.
Tapi tidak demikian pendapat Helen, menurutnya, jika pengembang ingin membidik segmen Gen-Y, yang harus diperhatikan adalah karakteristik hingga gaya hidup mereka. Dengan demikian developer akan memahami properti seperti apa yang mereka butuhkan. Ini sangat perlu dilakukan mengingat kebutuhan hunian untuk mereka yang sering juga disebut sebagai “echo boomer” ini sudah cukup tinggi.
“Gen-Y ini karakternya unik, mereka menjaga keseimbangan antara lifestyle dan pekerjaan. Jika dulu Gen-X hanya fokus kepada pekerjaan saja, saat ini sudah berbeda. Gaya hidup sudah masuk dalam daftar kebutuhan Gen-Y. Meski mereka sangat ambisius dalam bekerja namun tetap masih menyempatkan waktu untuk travelling, misalnya.”
“Nah karakter lifestyle mereka ini yang kita implementasikan pada proyek properti untuk Gen-Y ini. Generasi ini biasanya sangat cozy tinggal di apartemen dengan fasilitas yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Maka kami siapkan fasilitas itu, seperti area terbuka yang biasanya menjadi meeting point mereka, atau library dengan akses teknologi yang baik. Satu point penting lagi, dekat dengan pusat bisnis dan lifestyle. Bahkan kami sangat detail memperhatikan desain interior hingga pilihan warna untuk mereka, sedetail itu,” jelas Helen.
Tumbuh besar di era teknologi informasi, Gen-Y adalah generasi yang kritis dalam berbagai hal, termasuk dalam memilih properti. Mereka tidak hanya sangat kritis dalam melihat desain, fasilitas sampai harga apartemen saja, lokasi dan akses pun sangat diperhatikan. Biasanya yang dipilih adalah lokasi yang strategis dan dekat dengan pusat bisnis.
“Kami tidak hanya menyiapkan hunian yang comfortable untuk generasi ini, tapi kami juga memfasilitasi kerjasama pembiayaan dengan pihak perbankan. Tinggal bagaimana mereka memilih opsi pembiayaan terbaik menurut mereka. Ini penting dilakukan supaya mereka bisa mulai belajar berinvestasi, menjadi startup invesment,” ungkap Helen.
Helen menjelaskan, memulai investasi properti itu memang lebih baik dilakukan sejak dini. Karena, meski tidak liquid, investasi properti adalah instrumen investasi yang paling aman. “Bagaimanapun, kita orang Timur. Karakteristik kita dalam berinvestasi adalah properti. Berbeda dengan Western, mereka lebih memilih stock investing, bond dan lainnya. Kita membeli properti biasanya untuk investasi jangka panjang, untuk diwariskan. Karena orang Timur itu selalu ingin agar keturunannya mendapat hidup yang lebih baik dari dirinya sendiri.”
Menutup wawancara dengan Property Inside, Helen menyampaikan optimismenya untuk perkembangan properti Tanah Air. Menurutnya pembangunan infrastruktur yang digenjot pemerintah secara masif saat ini sudah sangat tepat menjadi solusi dari banyak hal, termasuk imbas positif untuk industri properti.
“Khusus untuk Jabodetabek, infrastruktur seperti LRT, MRT dan ruas tol yang dibangun pemerintah ini, jika telah selesai nanti akan berdampak signifikan mengurangi kemacetan. Sementara untuk pembangunan infrastruktur di luar Jabodetabek dipastikan akan berkontribusi pada pemerataan ekonomi.”
“Kota-kota kedua pertumbuhan ekonominya akan pesat, otomatis kebutuhan properti untuk semua sektor dan segmen bertumbuh. Pariwisata pun akan menarik, kawasan wisata seperti Bali akan semakin bersinar, imbasnya banyak orang memburu properti disana,” tutup Helen.