PROPERTY INSIDE – Fakta-fakta mengagumkan tentang arsitektur candi-candi di Indonesia membuat kita tak henti berdecak. Candi-candi ini memiliki seni arsitektur yang bahkan telah ada ratusan tahun sebelum Katedral-katedral Agung di Eropa berdiri megah.
Namun saat ini karya arsitektur peninggalan kebudayaan bersejarah ini sedikit terlupakan, padahal gaya seni arsitektur yang jenius dari candi-candi ini bisa diadopsi untuk pengembangan karya arsitektur modern. Berikut kami sajikan beberapa fakta menarik 3 candi tersohor milik kita.
Borobudur
Candi ini adalah monumen Buddha terbesar di dunia yang telah diakui oleh UNESCO. Mahakarya Agung ini memiliki sekira 2672 panel relief yang konon apabila dibentangkan akan mencapai panjang 6 kilometer. UNESCO bahkan mengakuinya sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia.
Untuk membangun candi ini dibutuhkan sekira 2 juta balok batu vulkanik raksasa yang dipahat sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci (interlock) meski tanpa menggunakan semen atau perekat apa pun.
Ibarat permainan lego, candi yang diarsiteki oleh Gunadharma ini tersusun indah dengan pahatan-pahatan relief yang menggambarkan kisah-kisah kehidupan, sebuah mahakarya seni yang utuh dan luar biasa tinggi nilainya.
Borobudur adalah bukti bahwa bangsa ini pernah mencapai puncak keindahaan teknik arsitektur berpadu dengan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini sendiri diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala.
Punden berundak atau piramidabertingkat yang ditemukan dari periode prasejarah Indonesia membuktikan bahwa arsitektur asli Indonesia tempo dulu juga sangat kaya. Informasi tentang Gunadharma, sang arsitek Borobudur, sangat minim dan misterius. Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda, bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.
Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya.
Tentu saja satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini. Struktur Candi Borobudur dibagi atas tiga bagian, yakni; dasar (kaki), tubuh, dan puncak.
Teras pertama mundur 23 ft dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 6.6 ft, menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris.
Candi Borobudur memiliki 100 talang air berbentuk makara (patung ikan berkepala gajah) sebagai saluran air sekaligus untuk menambah keindahan candi. Dahulu, air hujan yang mengalir melalui makara akan terlihat seperti air mancur.
Berbeda dengan rancangan candi-candi lainnya, Borobudur tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat.
Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Candi ini ditemukan tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris.
Prambanan
Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepada tiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta.
Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.
Arsitektur candi Prambanan berpedoman kepada tradisi arsitektur Hindu yang berdasarkan kitab Wastu Sastra. Denah candi megikuti pola mandala, sementara bentuk candi yang tinggi menjulang merupakan ciri khas candi Hindu.
Prambanan memiliki nama asli Siwagrha dan dirancang menyerupai rumah Siwa, yaitu mengikuti bentuk gunung suci Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Seluruh bagian kompleks candi mengikuti model alam semesta menurut konsep kosmologi Hindu, yakni terbagi atas beberapa lapisan ranah, alam atau Loka.
Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan. Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan.
Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.
Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya.
Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan ini terbuat dari bahan kayu.
Kalasan
Ditemukan di desa Kalasan, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Candi Kalasan memiliki 52 stupa. Awalnya hanya Candi Kalasan yang ditemukan di situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan pendukung di sekitar candi.
Selain candi Kalasan dan bangunan-bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa. Candi Kalasan memiliki lapisan penutup candi yang dinamakan Bajralepa, semacam plesteran di ukiran batu halus.
Denah bangunan Candi Kalasan berbentuk persegi, atapnya segi delapan dan puncaknya berbentuk dagoba (stupa). Keadaannya sudah sangat rusak. Hanya bagian selatan yang masih utuh. Disebut-sebut, bilik pusatnya dahulu memiliki arca perunggu setinggi 6 meter yang kini hilang. Sedangkan ketiga biliknya juga kosong.
Tubuh dan atap candi dihias dengan ukiran-ukiran yang sangat indah. Terdiri dari relung-relung, sulur-sulur, arca-arca Budha, dagoba-dagoba dan arca Gana, yaitu manusia kerdil berperut buncit yang biasanya memikul barang.
Bernet Kempers dalam bukunya, “Indonesia Selama Zaman Hindu”, menyebutkan bahwa cara pembuatan hiasan yang cukup rapi dan memikat ini menunjukkan bahwa pada masa pembuatannya, candi ini memiliki pemahat dan ahli plester bangunan yang sangat cakap.
Sekalipun candi ini telah dipugar pada tahun 1927 dan pada tahun 1929, namun masyarakat tetap akan menemui kesulitan untuk melihat keindahan Candi Kalasan ini. Itu karena ada bagian-bagian yang terpaksa tidak dapat dikembalikan seperti sediakala, disebabkan karena banyak batu -batu aslinya yang hilang. Beberapa ahli mengatakan bahwa bangunan yang ada sekarang itu merupakan banguan tambahan di sekitar abad ke-9.