logo

KOLOM: Persaingan Pengembang Lokal dengan Para Pemain Global di Pasar Properti Australia

KOLOM: Persaingan Pengembang Lokal dengan Para Pemain Global di Pasar Properti Australia
PROPERTY INSIDE - Perlu kita akui saat ini bahwa pasar properti Australia, khususnya di Sydney, mendapatkan serbuan dari perusahaan properti global yang memiliki kemampuan modal yang fantastis.

Perusahaan pengembang lokal saat ini menghadapi masalah dengan keterbatasan sumber dana pada umumnya, yaitu dari sektor perbankan. Sementara perusahaan global yang masuk ke pasar memiliki modal yang jauh lebih besar.

Ditambah dengan harga tanah yang semakin melambung, meskipun kemampuan daya beli pasar masih kuat. Sebagai contoh, harga lahan di kawasan green square yang dahulu senilai Rp. 500 milyar, sekarang menjadi sekitar Rp. 1 – 1,5 triliun jika dibandingkan dengan 3 atau 4 tahun yang lalu.

Sementara pada saat yang bersamaan, perbankan semakin memperkecil pinjaman kepada perusahaan pengembang local. Yang biasanya mereka memberikan pinjaman sebesar Rp. 2 – 3 triliun untuk 1 kali pinjaman, saat ini hanya sekitar Rp. 1 triliun. Yang terjadi adalah, nilai skala proyek semakin membesar, sementara jumlah dana yang bisa didapatkan semakin mengecil.

Di satu sisi dapat dimengerti bahwa pihak perbankan menjadi lebih berhati-hati, namun di sisi lain kondisi ini meningkatkan kompleksitas yang terjadi dimana harga tanah semakin melambung selama proses perijinan berjalan, sementara para pengembang lokal harus mencari pinjaman ke dua atau tiga bank untuk memenuhi kebutuhan pendanaan mereka.

Hal inilah yang mengakibatkan supply hunian di Sydney tidak bisa memenuhi jumlah permintaan yang ada dikarenakan banyak sekali pengembang skala menengah ke bawah yang kesulitan mendapatkan pendanaan.

Sementara hal ini tidak berpengaruh kepada perusahaan pengembang global yang memiliki akses pendanaan dari luar Australia. Seperti halnya Crown Group yang juga memiliki akses kepada institusi pendaaan global, sehingga kami tidak tergantung kepada institusi pendanaan lokal.

Kondisi yang dihadapi oleh para pengembang lokal dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan pengembang global saat ini dapat diartikan seperti David vs Goliath. Alasan mereka masuk ke pasar properti Australia lebih dikarenakan pertumbuhan dalam negeri mereka yang sudah terbatas.

Mereka memiliki level berbeda dengan perusahaan pengembang lokal Australia dimana mereka memiliki sumber dana dan sumber daya yang lebih besar. Situasi ini membuat segala sesuatunya semakin kompleks karena kita mengalami kondisi persaingan yang tidak seimbang.

Pertanyaannya bagaimana caranya untuk bisa berkompetisi dengan para raksasa tersebut?

Seperti halnya David dan Goliath, it’s not the big that would beat the small, it’s the fast that would beat the slow. Kita harus lebih gesit, lebih merespon pasar dan lebih mengerti pasar. Karena bagaimanapun para pengembang lokal yang lebih mengerti pasar jika dibandingkan dengan para pemain global tersebut.

Memang mereka memiliki dana yang tidak terbatas, namun mereka juga tidak memiliki pemahaman yang mendalam terhadap pasar lokal, mereka juga lebih lambat dalam memubuat keputusan meskipun di satu sisi mereka juga memiliki kemampuan untuk mendorong harga secara signifikan.

Kalau kita tidak gesit dan cepat, akan sulit untuk bersaing dengan mereka. Sementara untuk Crown Group, kami memposisikan diri sebagai The Best of The Best di pasar. Saya kira Kesuksesan peluncuran produk kami dalam 3 tahun terakhir telah membuktikan kualitas perusahaan kami.

Dan saya melihat, kesuksesan tersebut bisa diraih dikarenakan kekuatan dari brand kami dan loyalitas konsumen kami serta kualitas bangunan yang kami kerjakan selama ini. Sesuatu yang saya kira belum dimiliki oleh para pemain global tersebut di pasar Australia.

Dan terakhir, saya rasa pemerintah juga harus berperan aktif dalam membuat regulasi yang mendukung perusahaan lokal dibandingkan berbagai macam pembatasan. “I don’t really believe in a lot of red tapes, I think we need a lot of more red carpets.”

Bagaimanapun jika ada pembatasan, “they always find a way to go somewhere through the back door”. Seperti halnya yang kita lihat saat ini, dengan banyaknya pembatasan yang diterapkan contohnya dalam hal pembiayaan dan penjualan hunian ke orang asing, dimana hal ini sangat berdampak kepada perusahaan pengembang local.

Adalah hal yang baik jika kita mampu mendorong semakin banyak pengembang baik asing maupun lokal untuk bermain di pasar properti Australia dan tentu saja kita harus welcome dengan kehadiran para pemain global tersebut, namun juga jangan dilupakan dukungan yang diberikan pemerintah terhadap perusahaan local.

Daripada terus mengkhawatirkan bahwa pasar sedang slowing down, yang pada kenyataannya pasar tidak mengalami perlambatan dan terus mengalami peningkatan. Dan ya, memang bukan pertumbuhan 2 digit, melainkan 1 digit, namun menurut saya ini adalah hal yang sehat. Karena menunjukan betapa pasar terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

alt text
Kolumnis: Iwan Sunito, CEO & Komisaris Crown Group Australia

Penulis adalah salah satu diaspora Indonesia yang sukses membangun bisnis properti di Australia. Selain sebagai pengusaha, dia juga dikenal sebagai filantropis. Iwan aktif dalam penggalangan dana untuk Rumah Sakit Anak Sydney, Yayasan John Fawcett Eye di Bali dan panti asuhan di Indonesia.

SHARE :
Tweet
In Depth KOLOM: Persaingan Pengembang Lokal dengan Para Pemain Global di Pasar Properti Australia
PUBLISHED : Monday, 08 January 2018

Most Popular

Tingkatkan Penjualan Properti 2018 dengan 4 Trik Marketing PropTech ini

Para pakar di industri real estate mengakui bahwa sektor bisnis ini cukup lamban menerima perubahan dan teknologi baru.

Berapa Ketentuan Besaran Komisi Broker Properti

Ketentuan besaran komisi tersebut telah ada sejak tahun 2008, yang tertuang dalam Permendag No 33/M_DAG /PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti.

Ciputra Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Ciputra mengamini bahwa Kalimantan sangat tepat dipilih sebagai alternatif ibukota baru bagi republik ini. Letak geografis yang berada di tengah akan memberi efek domino yang besar bagi pembangunan kawasan-kawasan lain di luar Jawa.

Artificial Inteligence Semakin Berkembang Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

Perusahaan akan lebih memanfaatkan ruang co-working dan ruang fleksibel lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

INTERVIEW Alvin Andronicus AVP Marketing Agung Podomoro Land

Hampir genap 30 tahun pria kelahiran Sukabumi ini meniti karir professional di industri properti tanah air sejak tahun 1988. Selama itu pula dirinya mampu mengadaptasi banyak perubahan di dunia bisnis yang sangat dinamis ini.

Helen Hamzah Associate Director Ciputra Group Konsistensi Pada Profesi

Dedikasinya pada dunia properti tak perlu diragukan lagi, lebih dari dua dekade Helen Hamzah berkecimpung di industri ini.

INTERVIEW Nathalia Sunaidi CEO Samara Dana Properti INTERVIEW: Nathalia Sunaidi, CEO Samara Dana Properti

“Properti ini mampu memberi perlindungan tidak hanya dalam arti kata sebagai tempat tinggal semata."

KOLOM Strategi Peluang Pasar Real Estate Segmen GenY di 2018KOLOM: Strategi & Peluang Pasar Real Estate Segmen Gen-Y di 2018

Generasi yang lahir antara awal tahun 80’an hingga pertengahan 90’an ini, kini mewakili sekitar 20 persen sampai 30 persen dari total populasi dunia.

INTERVIEW Abdul Hamid CEO Mika GroupINTERVIEW: Abdul Hamid, CEO Mika Group

Ilmu bisnis diperolehnya secara otodidak dari pengalaman dan buku-buku bisnis. Saat masih menjadi anggota Polri, Abdul Hamid memulai bisnis kecil-kecilan.

Reklamasi Kebutuhan Peradaban ModernReklamasi, Kebutuhan Peradaban Modern

Terlepas dari politik, kontroversi dan polemik reklamasi pantai utara Jakarta, jika berbicara tentang reklamasi pantai, banyak kota-kota besar di dunia yang menggarap potensi pantai untuk dikembangkan secara positif.

INTERVIEW Linda Chang Marketing Director PT Mega NusatamaINTERVIEW: Linda Chang, Marketing Director PT Mega Nusatama

"Berbekal pengalaman, apapun bisa kita lakukan, karena pengalaman itu adalah sekolah yang tidak pernah habis digali."

Iklan kanan 1
Iklan kanan 2