logo

Tak Ada Pribumi di Jakarta

Tak Ada Pribumi di Jakarta
PROPERTY INSIDE - Sebagai kota tujuan investasi properti, tahun 2014 lalu Jakarta mencatatkan tonggak sejarah baru. Kota berjuluk The Big Durians ini berhasil menyisihkan kota-kota tersohor seperti Shanghai, Singapura, Sydney, Kuala Lumpur, Bankok, Beijing dan banyak lagi kota besar lainnya.

Posisi ini berdasarkan riset Pricewaterhouse Coopers dan Urban Land Institute yang mewawancarai lebih dari 400 orang ahli industri, investor, fund manager, developer, hingga konsultan properti.

Inilah pertama kalinya Jakarta menempati top ranking sebagai kota tujuan investasi properti terbaik. Padahal tahun 2012 lalu, Jakarta hanya bertengger di peringkat 11, dan Singapura yang menduduki peringkat pertama.

Beruntunglah yang telah memiliki investasi properti apartemen, landed house, ataupun kondotel di kota ini karena capital gain properti di Jakarta akan terus melesat. Setiap tahun diprediksi nilai investasi properti di Jakarta bertumbuh di atas 25%.

Sebelum menjelma menjadi kota megapolitan seperti sekarang, catatan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan kota bernama Kalapa ini awalnya adalah bandar utama bagi kerajaan Hindu bernama Sunda. Pusat kerajaan ini terletak sekitar 40 kilometer dari Kalapa, berdekatan dengan kota Bogor sekarang.

Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Ketika kota ini dikuasai oleh Fatahillah, dia mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta.

alt text

Saat bangsa Belanda menguasai kota ini, Gubernur Jenderal JP Coen mengganti namanya menjadi Batavia di tahun 1619. Belanda membangun kanal-kanal untuk melindungi kota ini dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar.

Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Kota Batavia berkembang ke arah selatan, pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.

alt text

Pembauran Budaya Menciptakan Etnis Betawi

Awal abad ke-17 wilayah kekuasaan antara Banten dan Batavia dibatasi dengan batasan geografis Kali Angke dan Cisadane yang kemudian menjadi tembok benteng kota Batavia. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong karena gerilya pasukan Banten dan prajurit Mataram yang tersisa.

Lalu diadakan perjanjian antara Kompeni dengan Banten dan Mataram yang menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Kemudian pada akhir abad ke-17 barulah daerah Batavia mulai dihuni lagi.

Para perantau Tionghua, Arab, Moor (India) mulai berdatangan bercampur dengan masyarakat suku Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Melayu dan lainnya yang sebelumnya telah lebih dulu menghuni Batavia. Dari sinilah metamorfosis pembauran kebudayaan dimulai. Pribumi dan peranakan bercampur padu, bersatu, berbaur di sini menghadirkan budaya baru.

Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, seorang antropolog dari Universitas indonesia menaksir bahwa etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Etnis baru ini terbentuk dari pembauran beragam kebudayaan berbagai suku-bangsa. Perkiraan ini didasarkan dari studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle.

Penelitian sejarah itu menyebutkan bahwa pemerintah kolonial Belanda selalu melakukan sensus penduduk sejak 1615 hingga 1815. Sensus dilakukan dengan mengkategorikan penduduk berdasarkan suku-bangsa atau golongan etnisnya.

Dalam data sensus penduduk di Batavia itu, tercatat penduduk dari berbagai golongan etnis, namun tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Kemudian pada hasil sensus tahun 1893 sejumlah etnis yang sebelumnya ada, seperti orang Jawa, Sunda, Arab, Moors, Bugis, Sumbawa dan Melayu, tidak tercatat. Kemungkinan telah terjadi pembauran sejak pertengahan abad ke 18.

Barulah pada sensus penduduk tahun 1930 ditemukan adanya kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam sensus-sensus terdahulu. Tahun itu jumlah orang Betawi tercatat sebanyak 778.953 jiwa, jumlah itu menjadi jumlah mayoritas penduduk Batavia kala itu.

Sebenarnya, sebelum sensus tahun 1930 itu telah ada pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok. Pengakuan itu muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Sejak itulah segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan dan sebagai satuan sosial dan politik.

Selain bukti dari sumber-sumber sejarah itu, bukti konkrit Bhineka Tunggal Ika yang teraplikasi dengan indah dalam etnis Betawi dapat dilihat dari ragam kesenian, kuliner dan adat-istiadat suku Betawi.

alt text

Salah satu contoh kesenian adalah Gambang Kromong, kesenian ini tercipta ketika orang-orang Tionghoa peranakan sudah semakin banyak di kota ini. Di waktu senggang mereka memainkan lagu-lagu Tionghoa dari kampung halaman mereka di Cina dengan instrumen gesek Tionghoa Su-Kong, The-Hian, dan Kong-A-Hian, Bangsing (suling), Kecrèk, dan Ningning, dipadukan dengan Gambang. Pada perkembangan selanjutnya, sekitar tahun 1880-an barulah orkestra Gambang ditambah dengan Kromong, Kendang, Kempul, Goong, Kecrek. Dan terciptalah Gambang Kromong.

Banyak lagi kearifan lokal suku Betawi yang menjadi bukti pembauran dari berbagai suku-bangsa di negeri ini. Lihatlah tradisi Palang Pintu dalam moment pernikahan suku Betawi, tradisi ini ternyata sama dan identik dengan tradisi adat suku Minangkabau dan Melayu ketika menerima menantu laki-laki.

Contoh lain adalah tari Cokek yang mirip dengan tari Tayub dari Jawa Tengah, Tanjidor diadopsi dari budaya Eropa, bahkan Wayangpun ada, Wayang kulit Betawi menggunakan bahasa dialek Melayu Betawi. Jika kita bicara tentang kuliner Betawi, tak akan bisa kita lepaskan dari kenikmatan berbagai masakan Nusantara yang berbaur menjadi satu di dalamnya.

Kita bisa lihat mulai dari Sop Kambing Betawi, diadopsi dari masakan Arab dan India, kue Cucur sama persis dengan kue Pinyaram dari Sumatera Barat, olahan sayur Pange’ yang juga ada di daerah perbatasan Riau-Jambi-Sumbar, dan masih banyak lagi contoh lainnya.Itulah bukti-bukti konkrit tentang persatuan yang terwujud dalam sebuah kesatuan geografis yang kini bernama Jakarta.

alt text

Jayakarta, Batavia dan Jakarta adalah tiga nama untuk sebuah kota tempat dimana pembauran kebhinekaan ini terjadi, kota yang menjadi saksi persatuan dan kesatuan suku-bangsa Nusantara.Tempat dimana seharusnya persatuan kebangsaan negeri ini menjadi contoh dengan melihat betapa kayanya budaya dan kearifan lokal suku Betawi.

Melihat ini semua, adakah kita mempunyai malu ketika saat ini kita masih berdebat, saling serang atas nama kesukuan, ras dan mengkotak-kotakan golongan berdasarkan suku dan ras, sementara para pendahulu kita telah memberikan contoh betapa indahnya hidup dalam pembauran.

Pembauran yang bahkan menciptakan sebuah kekayaan budaya sedemikian indah. Kebhinekaan yang bersatu ini ternyata sudah diaplikasikan oleh kakek-buyut kita jauh sebelum Indonesia merdeka.

Jayakarta, Batavia dan Jakarta, tiga nama untuk kota dimana mimpi-mimpi Indonesia dijual dan terjual. Kota dimana keberagaman suku-bangsa di negeri ini dipersatukan dalam Bhineka Tunggal Ika.

Oleh: Erwin J.Koto - Editor in Chief Property Inside
SHARE :
Tweet
In Depth Tak Ada Pribumi di Jakarta
PUBLISHED : Tuesday, 24 October 2017

Most Popular

Tingkatkan Penjualan Properti 2018 dengan 4 Trik Marketing PropTech ini

Para pakar di industri real estate mengakui bahwa sektor bisnis ini cukup lamban menerima perubahan dan teknologi baru.

Berapa Ketentuan Besaran Komisi Broker Properti

Ketentuan besaran komisi tersebut telah ada sejak tahun 2008, yang tertuang dalam Permendag No 33/M_DAG /PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti.

Ciputra Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Ciputra mengamini bahwa Kalimantan sangat tepat dipilih sebagai alternatif ibukota baru bagi republik ini. Letak geografis yang berada di tengah akan memberi efek domino yang besar bagi pembangunan kawasan-kawasan lain di luar Jawa.

Artificial Inteligence Semakin Berkembang Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

Perusahaan akan lebih memanfaatkan ruang co-working dan ruang fleksibel lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

INTERVIEW Alvin Andronicus AVP Marketing Agung Podomoro Land

Hampir genap 30 tahun pria kelahiran Sukabumi ini meniti karir professional di industri properti tanah air sejak tahun 1988. Selama itu pula dirinya mampu mengadaptasi banyak perubahan di dunia bisnis yang sangat dinamis ini.

Helen Hamzah Associate Director Ciputra Group Konsistensi Pada Profesi

Dedikasinya pada dunia properti tak perlu diragukan lagi, lebih dari dua dekade Helen Hamzah berkecimpung di industri ini.

Inovasi Improvisasi Tuti MugiastutiInovasi & Improvisasi Tuti Mugiastuti

Sukses SPS Group dibawah komando Asmat Amin tak lepas dari dukungan sosok-sosok penting di belakangnya. Salah satunya adalah Tuti Mugiastuti, GM Sales & Marketing SPS Group, yang memiliki pengalaman panjang selama 30 tahun di bisnis properti.

Welthauptstadt Rancangan Ibukota Dunia ala HitlerWelthauptstadt, Rancangan “Ibukota Dunia” ala Hitler

Hitler merencanakan Berlin menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdaban dunia di bawah naungan "Kekaisaran Dunia Raya" Jerman.

Tulus adalah Startegi Menjual Paling Ampuh bagi Agen PropertiTulus adalah Startegi Menjual Paling Ampuh bagi Agen Properti

Taktik penjualan bagi agen properti memainkan peran besar untuk melakukan deal dengan konsumen, meski keterampilan dasar tidak akan cukup.

KOLOM Rail Oriented Development Mendukung Transit Oriented DevelopmentKOLOM: “Rail Oriented Development” Mendukung “Transit Oriented Development”

Penerapan sistem TOD berbasis ROD harus didukung oleh pengembangan properti multi fungsi. Bagi developer, pembangunan yang mengusung konsep ini menjadi opportunity tersendiri.

INTERVIEW Nathalia Sunaidi CEO Samara Dana Properti INTERVIEW: Nathalia Sunaidi, CEO Samara Dana Properti

“Properti ini mampu memberi perlindungan tidak hanya dalam arti kata sebagai tempat tinggal semata."

Iklan kanan 1
Iklan kanan 2