logo

KOLOM: Revolusi PropTech Segera Tervisualisasi

KOLOM: Revolusi PropTech Segera Tervisualisasi
PROPERTY INSIDE - Lingkungan kerja hari ini semakin mencerminkan kepentingan generasi milenium, seperti kenyataan yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penyedia ruang kerja fleksibel (co-working space,-red) baru-baru ini. Dan dengan alasan yang bagus, pada tahun 2025, tiga dari empat pekerja kantor diproyeksikan dari generasi milenium.

Ada sedikit area kehidupan kita yang belum diubah secara permanen oleh teknologi. Aplikasi telah memungkinkan semakin banyak kehidupan kita dikendalikan dengan hanya menekan sebuah tombol, sementara kecerdasan buatan melakukan segalanya mulai dari menciptakan seni hingga membuat keputusan investasi.

Diakui, laju perubahan belum merata di seluruh sektor ekonomi. Beberapa sektor rela mengikuti disrupsi digital (perubahan besar-besaran yang menandai perubahan era.-red), sementara yang lain masih tampak terjebak di masa lalu.

Sayangnya, industri properti tampaknya yang terakhir. Meskipun telah ada banyak sensasi seputar Proptech, faktanya; revolusi proptech belum benar-benar lepas landas. Seperti banyak sektor yang muncul, dunia Proptech terlalu sering diisi dengan kata kunci dan klise.

Yang tidak banyak membantu teknologi apa yang akan berubah, dan bagaimana hal itu akan membantu meningkatkan potensi pengembang, operator dan - yang terpenting - publik.

Ada banyak perdebatan baru-baru ini tentang mengapa konstruksi perlu 'memodernisasi atau mati', tapi sebenarnya seluruh pihak perlu berinovasi jika kita ingin menghadapi tantangan utama abad ke-21: perubahan iklim; migrasi massal dan populasi yang menua.

Kolaborasi adalah kunci

Konferensi teknologi pertama dari Urban Land Institute (ULI), yang berlangsung di kantor Ashurst baru-baru ini menyampaikan kesimpulan. Kunci dari tantangan digital ini adalah kolaborasi. Platform berbagi data akan menjadi dasar untuk membangun pasar yang lebih terbuka, transparan dan kolaboratif, membawa pemangku kepentingan bersama-sama membentuk kemitraan yang langgeng.

Secara lebih luas, teknologi visualisasi akan membawa tingkat wawasan baru ke sektor properti. Teknologi Virtual Realty memungkinkan kita berjalan menyusuri koridor yang belum dibangun dan memahami tata letak skema regenerasi sebelum tanah dibangun. Kita akan mampu mengalami apa yang direncanakan pengembang ke depan, dan ini membantu pengembang memiliki kemampuan untuk membangun lebih baik.

Meskipun ada banyak acara yang dilakukan di konferensi tersebut, pesan gemilang dari semua pembicara dan panelis, terlepas dari potensi Proptech yang besar, Anda perlu mengembangkan kemitraan yang langgeng antara pemangku kepentingan dan memiliki visi yang jelas tentang apa yang ingin Anda lakukan hingga memiliki dampak yang berarti.

Teknologi akan membantu kita membangun kota yang lebih baik dan lebih cerdas yang memungkinkan kita hidup dan bekerja tanpa menodai peluang anak dan cucu kita. Tapi tanpa pandangan ke depan, dana dan keberanian untuk mengambil keputusan yang membentuk kota kita, sektor properti akan gagal mewujudkan potensi teknologi sesungguhnya.

Kolumnis: Liz Waller, Executive Director Urban Land Institute, United Kingdom

SHARE :
Tweet
In Depth KOLOM: Revolusi PropTech Segera Tervisualisasi
PUBLISHED : Wednesday, 10 January 2018

Most Popular

Tingkatkan Penjualan Properti 2018 dengan 4 Trik Marketing PropTech ini

Para pakar di industri real estate mengakui bahwa sektor bisnis ini cukup lamban menerima perubahan dan teknologi baru.

Berapa Ketentuan Besaran Komisi Broker Properti

Ketentuan besaran komisi tersebut telah ada sejak tahun 2008, yang tertuang dalam Permendag No 33/M_DAG /PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti.

Ciputra Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Ciputra mengamini bahwa Kalimantan sangat tepat dipilih sebagai alternatif ibukota baru bagi republik ini. Letak geografis yang berada di tengah akan memberi efek domino yang besar bagi pembangunan kawasan-kawasan lain di luar Jawa.

Artificial Inteligence Semakin Berkembang Ruang Sewa Kantor Diprediksi Berkurang

Perusahaan akan lebih memanfaatkan ruang co-working dan ruang fleksibel lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

INTERVIEW Alvin Andronicus AVP Marketing Agung Podomoro Land

Hampir genap 30 tahun pria kelahiran Sukabumi ini meniti karir professional di industri properti tanah air sejak tahun 1988. Selama itu pula dirinya mampu mengadaptasi banyak perubahan di dunia bisnis yang sangat dinamis ini.

Helen Hamzah Associate Director Ciputra Group Konsistensi Pada Profesi

Dedikasinya pada dunia properti tak perlu diragukan lagi, lebih dari dua dekade Helen Hamzah berkecimpung di industri ini.

KOLOM Startegi Peluang Pasar Real Estate Segmen GenY di 2018KOLOM: Startegi & Peluang Pasar Real Estate Segmen Gen-Y di 2018

Generasi yang lahir antara awal tahun 80’an hingga pertengahan 90’an ini, kini mewakili sekitar 20 persen sampai 30 persen dari total populasi dunia.

INTERVIEW Abdul Hamid CEO Mika GroupINTERVIEW: Abdul Hamid, CEO Mika Group

Ilmu bisnis diperolehnya secara otodidak dari pengalaman dan buku-buku bisnis. Saat masih menjadi anggota Polri, Abdul Hamid memulai bisnis kecil-kecilan.

Reklamasi Kebutuhan Peradaban ModernReklamasi, Kebutuhan Peradaban Modern

Terlepas dari politik, kontroversi dan polemik reklamasi pantai utara Jakarta, jika berbicara tentang reklamasi pantai, banyak kota-kota besar di dunia yang menggarap potensi pantai untuk dikembangkan secara positif.

INTERVIEW Linda Chang Marketing Director PT Mega NusatamaINTERVIEW: Linda Chang, Marketing Director PT Mega Nusatama

"Berbekal pengalaman, apapun bisa kita lakukan, karena pengalaman itu adalah sekolah yang tidak pernah habis digali."

KOLOM Revolusi PropTech Segera TervisualisasiKOLOM: Revolusi PropTech Segera Tervisualisasi

Beberapa sektor rela mengikuti disrupsi digital, sementara yang lain masih tampak terjebak di masa lalu. Sayangnya, industri properti tampaknya yang terakhir.

Iklan kanan 1
Iklan kanan 2