INTERVIEW: Abdul Hamid, CEO Mika Group

Share on Facebook
Tweet on Twitter

PROPERTY INSIDE – Kegigihannya dalam mengembangkan usaha sangat pantas diacungi jempol. Abdul Hamid bukan terlahir dari keluarga kaya raya atau berlatar belakang pengusaha, tapi dirinya mampu mengelola holding company yang menaungi beberapa perusahaan dengan berbagai bidang usaha berbeda.

Mika Group, saat ini tercatat memiliki 6 unit usaha yang bergerak di bidang properti, general contractor, security, parking, furnitur dan automotive trading. Dengan latar belakang sarjana hukum dirinya mengaku tidak mempelajari ilmu bisnis secara formal, hanya keberanian dan tekad yang kuat mendorongnya memulai usaha.

Ilmu bisnis diperolehnya secara otodidak dari pengalaman dan buku-buku bisnis. Saat masih menjadi anggota Polri, Abdul Hamid memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berternak ayam potong, berternak lele dan pengolahan limbah. Rintisan bisnisnya ini berguguran dan mengalami kebangkrutan, bahkan beberapa kali sempat tertipu. Namun hal itu tidak membuatnya jera, malah semakin meyakinkan tekadnya untuk maju.

“Kegagalan bukan hambatan untuk maju. Yang perlu kita sadari, tak ada kesuksesan yang diraih secara instan. Semua pasti ada proses sebelum mencapai sukses. Orang sukses itu mampu belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya. Jika tidak memiliki semangat entrepreneurship yang kuat, para pengusaha pemula akan sulit untuk maju,” ujar dia.

Saat ini, Abdul Hamid tengah fokus mengembangkan bisnis properti yang menyasar segmen pasar rumah sederhana di kawasan Tiga Raksa, Tangerang. Selain untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat bawah yang sangat besar, dirinya juga berkomitmen mendukung “Program Sejuta Rumah” yang dicanangkan pemerintah.

Setelah 11 tahun mengabdi pada negara sebagai anggota Polri, agaknya bisnis menjadi dedikasi seorang Abdul Hamid untuk “mengayomi dan melayani masyarakat” dengan cara dan profesi yang berbeda. Berikut petikan wawancara Property Inside dengan Bapak dari dua orang putri ini;

alt text

Apa rahasia sukses bisnis Mika Group hingga mampu mencapai titik sukses seperti saat ini?

Sebelum seperti ini, saya sudah kenyang mengalami kegagalan. Bahkan ada satu titik dimana saya sempat terpikir untuk menyerah. Mulanya, saat masih menjadi anggota Polri saya mencoba berbisnis, benar-benar dimulai dari bawah. Saya memberanikan diri menggadaikan SK saya untuk modal awal budidaya lele dan ternak ayam tapi hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan.

Kemudian saya mencoba peruntungan lagi dengan berbisnis limbah, bahkan sempat tertipu. Memori inilah jadi pelajaran paling berharga sebagai pengusaha. Kesimpulannya mengelola bisnis itu tidak bisa sembarangan, harus ada ahlinya, tidak bisa asal berani, asal punya modal.

Harus ada yang ahli di bidangnya, karena itulah saya selalu menempatkan orang-orang yang telah ahli dan berpengalaman di tiap unit bisnis Mika group. Pencapaian Mika Group ini tak lepas dari kesolidan para ahli dan profesional tersebut.

Bisnis apa yang menjadi titik balik kesuksesan Mika Group?

Setelah beberapa kali gagal, saya hampir menyerah, tapi rasa penasaran dan semangat bisnis mengalahkan keputus-asaan saya. Kami mulai berbisnis teralis kecil-kecilan, pemasarannya pun door to door. Sampai suatu saat kami mendapat tawaran kontrak dari Paramount Land untuk mengerjakan pagar teralis di kawasan proyeknya.

Dengan nilai kontrak sekitar Rp 1 miliar, tentu ini nilai yang sangat besar bagi kami karena sebelumnya proyek-proyek yang kami kerjakan nilainya hanya kisaran belasan sampai puluhan juta saja. Mendapat kepercayaan besar seperti itu, bagi saya adalah ujian untuk menjaga komitmen bisnis.

Alhamdulillah kami bisa memberi kepuasan dengan kualitas. Sejak itu kerjasama kami dengan Paramount Land terus berjalan. Paramount Land bahkan memberi kepercayaan kepada unit bisnis general contractor kami untuk pengerjaan cut & fill lahan. Tidak hanya Paramound Land, kami juga mengerjakan proyek cut & fill BSD City Sinar Mas Land.

Artinya branding image sangat penting dalam bisnis?

Brand image akan datang dengan sendirinya jika kita menjalankan bisnis dengan kualitas terbaik. Dengan memberi kualitas terbaik, konsumen yang puas akan merekomendasikan kita, itu adalah marketing paling berharga bagi perusahaan. Saya telah menerapkan itu dan berkat itu kami mendapat proyek dari PT Angkasa Pura II untuk pengerjaan proyek cut & fill bandara Sultan Taha, Jambi.

Dalam bisnis properti seperti apa implementasi branding image tersebut?

Saya kira sama saja, kualitas produk harus nomor satu. Bisnis properti katanya bisnis dengan margin yang besar, tapi jika pengembang mau mengurangi margin yang didapat untuk meningkatkan kualitas propertinya, saya yakin brand image yang bagus akan terbentuk sendiri.

Seperti yang kami lakukan di proyek Savana Residence, Tigaraksa, meski membangun rumah sederhana tapi kualitas bahan bangunan kami siapkan sekelas rumah real estate. Tak masalah keuntungan minim, asal konsumen puas. Saya yakin, hal inilah yang diterapkan pengembang-pengembang besar.

Saya yakin, Pak Ciputra melakukan hal ini dalam membangun perusahaannya. Lihat saja sekarang, proyek apapun yang dilansir brand Ciputra pasti disambut antusias oleh pasar.

Kenapa Anda lebih memilih mengembangkan rumah sederhana untuk proyek perdana Mika Land?

Karena pasarnya paling besar. Kebutuhan rumah sederhana di kawasan Tigaraksa luar biasa. Terbukti penyerapannya sangat cepat, kami mulai memasarkan bulan Januari 2015 lalu, hanya dalam waktu 4 bulan terjual 600 unit rumah. Selain itu, kami membangun rumah sederhana untuk ikut andil dalam Program Sejuta Rumah yang dicanangkan pemerintah.

alt text

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.