PROPERTY INSIDE – Menghadapi potensi pertumbuhan bisnsi property di Batam, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) akan segera mengevaluasi lahan terlantar. Tujuan pendataan ini agar dapat diketahui jumlah lahan yang tersedia agar bisa menyerap kebutuhan industri.
Saat ini memang agak sulit untuk mengakomodir kebutuhan industri terhadap lahan, karena hampir seluruh lahan di Batam sudah teralokasikan. Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo mengatakan, saat ini, lahan-lahan yang tersisa tidaklah banyak namun tersebar secara parsial di seluruh Batam.
Baca juga: Presiden Resmikan Pelabuhan Kuala Tanjung Agustus 2018
“Tapi tetap juga ada industri recycling kardus dari Tanjunguncang yang berinvestasi di Tanjunguncang. Tahap awal mereka gunakan 16 hektar dan tahap kedua akan nambah 22 hektar,” ujarnya.
Untuk kawasan Batamcentre, sebut Dwianto, saat ini telah ada komitmen dari dua perusahaan besar untuk mengembangkan bisnis perhotelan dan MICE. Adapun kedua perusahaan tersebut adalah Jakarta Inti Land dan Grup Santika.
“Mereka serius untuk mengembangkan bisnis perhotelan, selanjutnya ini bisa adendum atau dibuat perjanjian dengan mereka. Jakarta Intiland memang akan membangun hotel sedangkan Grup Santika akan membangun hotel dan juga pusat konvensi, termasuk juga sebagai operator hotelnya.”
Baca juga: Index Pasar Apartemen Terus Meningkat dalam Tiga Tahun Terakhir
Sementara itu, General Manager Batamindo, Mook Soi Wah mengatakan kebutuhan lahan untuk industri di Batam memang masih tinggi. Batamindo masih memiliki lahan kosong sebanyak 17 ha, sisa lahan tersebut dirasa masih cukup untuk mengakomodir investor di Batamindo.
“Lahannya masih cukup. Apalagi untuk ekspansi perusahaan disini atau menerima perusahaan yang baru,” katanya seperti dilansir Batampos.co.id.
Meski lahan tinggal sedikit, hal tersebut bukan masalah. Menurut Mook, hal terpenting adalah bagaimana menjaga agar iklim investasi di Batam tetap kondusif.



















