PROPERTY INSIDE – Peringatan Jakarta tenggelam sudah banyak disampaikan oleh berbagai pihak dari dalam dan luar negeri. Pada pertengahan tahun 2021, Presiden Amerika Serikat Joe Biden memprediksi DKI Jakarta akan tenggelam 10 tahun lagi. Disebutkan bahwa Jakarta akan tenggelam karena adanya ancaman penurunan tanah dan naiknya air laut dampak perubahan iklim.
Salah satu bukti nyata adalah Masjid Wal Adhuna di Jakarta Utara yang selama 12 tahun belakangan ini secara perlahan tenggelam dan menjadi bagian dari laut utara Jakarta.
Masjid ini berlokasi tepat di balik tanggul besar penahan air laut di Pelabuhan Sunda Kelapa. Air sudah menggenangi separuh dari bangunan masjid. Cat putih pada dinding sudah mengelupas digantikan lumut-lumut yang tumbuh subur.
Seng pada atap masjid juga sudah hancur. Berbagai jenis sampah yang terbawa arus tersangkut di sisi-sisi masjid. Melihat kondisi demikian, siapa sangka bahwa dahulunya Masjid Wal Adhuna merupakan salah satu pusat ibadah di kawasan Sunda Kelapa.
Dahulu, ratusan jamaah rutin menunaikan ibadah shalat lima waktu di sana. Terlebih di momen shalat Jumat dan Hari Raya.
Seorang warga bernama Kusno, kepada CNN Indonesia menuturkan bahwa kondisi masjid tersebut saat ini kontras dibandingkan dengan masa jayanya sebagai rumah ibadah dulu. Ketika, pelbagai kegiatan keagamaan maupun aktivitas sosial kerap dilakukan warga Gang Gudang Koja.
Berdasarkan penuturan Kusmo, dahulunya wilayah ini juga masih dijadikan tempat untuk sandaran bagi kapal-kapal pengangkut kayu. Berbagai kawasan pergudangan juga memadati area tersebut.
Ia ingat betul, dahulu ratusan jamaah rutin menunaikan ibadah salat lima waktu di sana. Jumlah tersebut menurutnya akan melonjak kala salat Jumat ataupun ketika memasuki hari raya. Pasalnya, bangunan itu menjadi satu-satunya masjid terdekat yang berada di sekitar pemukiman masyarakat dan pelabuhan.
“Wah dulu mah ramai banget, soalnya masjid yang lain itu adanya di depan dekat jalan raya. Jadilah orang-orang beribadah di sini,” kenangnya.
Intensitas ibadah dan aktivitas masyarakat di masjid, menurut Kusmo, mulai berkurang secara drastis ketika pelabuhan tersebut dipindahkan ke daerah Sunda Kelapa pada 2008-an silam. Apalagi terjadi kenaikan air laut atau penurunan muka tanah yang membuat masjid itu kini dikelilingi air.
Dari yang awalnya hanya sebatas mata kaki pada 2009 silam, saat ini ketinggian permukaan air laut sudah naik hingga mencapai satu setengah meter.









