PROPERTY INSIDE – Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur sudah dipastikan akan terealisasi dengan disahkannya Rancangan Undang undang Ibu Kota Negara oleh kota negara ini, namun dipastikan tak lama lagi Jakarta tidak lagi menyandang gelar bergengsi sebagai daerah khusus ibukota.
Sebenarnya ibu kota negara Indonesia pernah berpindah beberapa kali. Yang paling dikenal adalah Yogyakarta dan Bukittinggi. Namun ada satu kota yang jarang menjadi pembicaraan karena kurangnya literasi, yakni kota Bireun di nagroe Aceh Darussalam.
Kabarnya Bireun juga sempat menjadi ibu kota negara selama satu minggu. Pada 18 juni 1948 presiden Soekarno hijrah dari Yogyakarta ke Bireuen selama satu minggu dan mengendalikan pemerintahan dalam keadaan darurat.
Belanda melancarkan agresi yang keduanya terhadap Yogyakarta sehingga dengan sekejap ibu kota RI itupun jatuh. Presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh, presiden Soekarno datang ke Bireun dengan menumpangi pesawat udara Dakota dan mendarat di lapangan sipil Cot Gapu pada juni 1948.
Kedatangannya disambut oleh Gubernur militer Aceh Tgk.Daud Bereueh, Panglima divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para Perwira militer, juga Para alim ulama dan tokoh masyarakat. Selama seminggu presiden Soekarno berada di Bireuen dan semua aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen.
Namun, cerita tentang Bireuen ini masih menjadi perdebatan, apakah ketika itu Sukarno hanya mengadakan kunjungan biasa atau memang sedang menghindari pengejaran pasukan Belanda?
Presiden Soekarno dan para perwira militer di Pendopo Bireun tahun 1948
Secara resmi yang kita ketahui dalam buku-buku sejarah bahwa Ibu kota negara di Jakarta pernah dipindahkan ke Yogyakarta, pada 4 Januari 1946. Semua bermula saat kedatangan tentara NICA Belanda membonceng tentara Sekutu yang ingin menguasai kembali wilayah jajahan di Indonesia.
Sebelumnya, Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Kemudian 16 September 1945, tentara sekutu berlabuh di Tanjung Priok untuk melucuti senjata dan memulangkan tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang. Namun pada tanggal 29 September 1945, NICA yang membonceng Sekutu menguasai Jakarta.
Saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengusulkan supaya ibu kota untuk sementara dipindahkan ke Yogyakarta. Usulan tersebut diterima Presiden Soekarno dan mulai 4 Januari ibu kota secara resmi pindah dari Jakarta ke Yogyakarta sampai 17 Desember 1949 kembali lagi ke Jakarta.
Kemudian yang paling dikenal lagi adalah Bukittinggi. Kota terbesar kedua di Sumatera Barat ini pernah menjadi Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau PDRI menggantikan Yogyakarta yang jatuh ke tangan Belanda mulai Desember 1948 hingga Juni 1949.
Alasan pemindahan ibu kota ke Bukittinggi disebabkan oleh agresi militer Belanda kedua. Saat itu Yogyakarta jatuh setelah diserbu pasukan Belanda. Para pemimpin Republik, termasuk Presiden Soekarno ditangkap dan diasingkan.
Saat itu, Syafrudin Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI sedang berada di Bukittingi. Maka ditunjuklah beliau menjabat sebagai Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia dan menjalankan pemerintahan dari Bukittinggi. Ini dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintahan RI masih ada meski Soekarno – Hatta ditangkap Belanda.









