PROPERTY INSIDE – Arsitektur industrial merupakan salah satu inovasi yang berkembang pada masa modern, ketika terjadi revolusi industri di Negara Amerika dan Eropa. Konsep ini muncul sekitar tahun 1950-an, saat banyaknya bangunan bekas pabrik yang terbengkalai.
Agar tidak terbuang, barang bekas ini dialihfungsikan dan dimanfaatkan sebagai estetika ektsterior maupun interior. Mengedepankan aspek fungsional dan efisien, arsitektur industrial dikenal akan penggunaan material mentah atau material pabrikasi seperti semen, besi, baja dan batu bata.
Penyesuaian dan pemanfaatan kembali barang bekas bangunan pabrik ini kemudian lahir sebagai sebuah tren baru dengan ciri khas material yang unfinish, penggunaan warna alami, penggunaan warna monokrom atau cerah pada material serta mengekspos utilitas elemen material.

Salah satu ciri utama bangunan dengan arsitektur jenis ini adalah over expose. Banyak bagian pada eksterior dan interior bangunan dibiarkan “terlihat” dan “terbuka”, namun ditata sedemikian rupa sehingga tetap tampak rapi, berkonsep dan bergaya. Misalnya pada saluran listrik, pipa air, ventilasi dan pendingin udara.
Elemen-elemen yang biasanya tersembunyi di balik bangunan sengaja dimunculkan. Elemen bangunan yang sengaja diekspos dengan memperlihatkan elemen industri membuat karakter arsitektur industrial menjadi lebih kuat dan terkesan maskulin. Hal ini juga memberi kesan gloomy khas pabrik tua Eropa pada bangunan.
Selain menambah kesan, material yang diekspos juga bertujuan untuk memudahkan pembangunan dan perawatan. Sehingga aspek efisiensi waktu dan biaya menjadi salah satu nilai tambah.

Walaupun menggunakan material mentah, arsitektur industrial tetap mempertimbangkan estetika. Kini, konsep industrial telah banyak diterapkan pada bangunan rumah, cafe, perkantoran, pusat pendidikan, museum seni hingga fasilitas pelayanan publik seperti pusat transportasi.
Atap tanpa plafon, dinding dengan material unfinish dan lantai yang tidak diberi keramik, melainkan menggunakan parket kayu atau lantai acian, menjadi ciri khas interior arsitektur industrial. Sementara perangkat furniture yang digunakan berasal dari material industri unfinish seperti kayu yang hanya diberi politur untuk menghindari rayap, baja, logam, besi, aluminium dan stainless yang tidak diwarnai sehingga terlihat material aslinya. Meskipun lebih banyak memadu padankan material unfinish, arsitektur industrial juga kerap mengaplikasikan material yang di-finishing.

Kebanyakan bangunan bergaya industrial menggunakan material upcycle dan recycle. Material upcycle merupakan barang bekas yang dimodifikasi dengan barang lain sehingga menciptakan produk yang memiliki nilai lebih dari bahan aslinya. Misalnya, menggunakan drum bekas dan mamadukannya dengan kayu sehingga menjadi tempat duduk yang unik dan bernilai seni. Sedangkan recycle adalah proses daur ulang barang bekas agar bisa digunakan kembali. Seperti kotak besi bekas, pipa bekas, kursi bekas dan ubin.
Pola atau ornamen pada bangunan industrial sekilas terlihat mirip dengan pola yang ada pada desain minimalis, yaitu garis-garis tegak lurus. Bagi sebagian orang, arsitektur dengan konsep industrial mencirikan gaya yang khas, modern, simpel dan bercita rasa seni tinggi.
Oleh: Mei Dila Harisfa
SUMBER:
Hamdani, Dedi Hantono. (2021). Kajian Arsitektur Industrial pada Bangunan Hotel (Studi Kasus: Chara Hotel, Bandung. Modul, Vol. 21, No. 1)
https://www.aca.co.id/Info-Asuransi-Detail/Ciri-Khas-Desain-Industrial
https://www.arsitag.com/article/konsep-desain-arsitektur-industrial
https://www.rumah.com/panduan-properti/arsitektur-industrial-43183









