PROPERTY INSIDE – Revolusi digital di industri properti telah terjadi, kemajuan digitalisasi mau tidak mau juga menyentuh industri properti. Meski penggunaan teknologi digital di semua lini dalam era teknologi industri 4.0 telah menjadi hal utama.
Namun harus diakui industri properti termasuk yang paling belakangan ikut andil dalam revolusi digital ini. Padahal faktanya penggunaan teknologi digital di industri properti atau yang biasa disebut sebagai Proptech adalah suatu keharusan dan tidak bisa dihindari.
Hal ini yang disadari oleh Pashouses sebuah platform marketplace rumah tapak pertama di Indonesia yang berfokus pada transaksi jual-beli rumah dengan memanfaatkan data dan teknologi. Pashouse secara visioner mampu melihat potensi besar revolusi digital di industri properti yang saat ini belum tersentuh maksimal.
CEO dan Co-founder Pashouses, Junghans Tasani, menjelaskan bahwa Pashouses hadir untuk menjadi solusi untuk memudahkan proses jual beli rumah yang sebelumnya tidak efisien dan biasanya kurang transparan, menjadi transaksi yang transparan.
“Pashouse dapat menghadirkan proses end-to-end serta mampu menyajikan harga wajar bagi penjual dan pembeli rumah, yang meliputi renovasi, penempatan furnitur, aplikasi KPR dan proses terkait lainnya,” jelas Junghans saat Media Gathering, Selasa (31/5/2022) di Jakarta.
Paltform ini sangat berbeda dengan banyak platform jual beli properti yang sudah ada sebelumnya, Pashouses berfokus pada pasar rumah secondary yang memungkinkan penjual rumah memasarkan rumahnya secara mudah.
Dan bahkan Pashouses memberi opsi renovasi rumah yang akan dijual dengan palfon biaya renovasi maksimum Rp50 juta dan dibayarkan saat rumah telah laku terjual. Dengan opsi ini tentunya nilai rumah akan dapat terjual dengan nilai yang lebih maksimal.
COO dan Co-founder Pashouses, Bin Anindita, menyampaikan bahwa pasar rumah secondary di Jabodetabek sangatlah besar. Dirinya memperkirakan nilai pasar rumah seken di Jabodetabek mencapai US$6 miliar.
“Peluang besar ini menjadi sangat penting bagi industri properti, dan kami menargetkan mengelola 10% dari inventaris rumah seken di Jabodetabek. Sejauh ini Pashouses telah mencatatkan 10 ribu pipeline yang telah terdaftar untuk dijual dengan rentang harga Rp400 juta hingga Rp2 miliar,” ungkap Bin.
Pashouses sendiri telah berkembang pesat sejak berdirinya pada tahun 2020, perusahaan ini telah berkembang sangat cepat, dimulai dengan tim awal sebanyak 5 orang, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun telah bertumbuh menjadi hampir 100 karyawan.
“Kami menerapkan big data, teknologi berbasiskan data yang dapat digunakan untuk menentukan nilai jual dan beli rumah berdasarkan data penjualan dan pembelian yang diperoleh dari transaksi yang telah terjadi,” jelas Budi Waskita, Chief Technology Officer Pashouses.
Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa penggunaan teknologi ini menjadikan Pashouses sebagai salah satu perusahaan teknologi properti andal di Indonesia. Dengan menggunakan teknologi, Budi menyampaikan bahwa Pashouses mampu memberikan penawaran harga dengan cepat dan transaksi yang lebih efisien.
General Manager Pashouses, Shirley Pranoto, menambahkan bahwa saat ini mereka menghadirkan inovasi terbaru dengan diluncurkannya program Booster Sell. Program ini menawarkan solusi bagi para penjual rumah untuk dapat menjual rumahnya dengan lebih cepat dengan cara melakukan renovasi.
“Kami menawarkan program Booster Sell yakni renovasi ringan pada rumah dan juga menempatkan furniture yang sedang banyak diminati saat ini sehingga membuat rumah terlihat lebih menarik dan membantu penjualan rumah lebih cepat,” pungkas Shirley.








