PROPERTY INSIDE – Serpong kian mencorong pasca krisis moneter 1997, dalam 10 tahun terakhir perkembangan kawasan semakin kinclong, apalagi infrastruktur kawasan ini sudah sangat baik. Serpong bak magnet bagi para pengembang kakap tanah air.
Lihat saja developer besar yang eksis mengembangkan produk properti di kawasan ini. Sinarmas Land, Ciputra Group, Lippo Group, Summarecon dan Paramount, nama-nama besar di industri properti ini menyemarakkan ragam properti di sini, mulai dari landed house, apartemen, office tower, retail hingga kawasan bisnis.
Kesiapan infrastruktur dan kawasan yang sudah tertata di sini tentu menarik minat para developer menggarap potensi Serpong. Pamor Serpong kian mentereng, lihat saja hasil riset Indonesia Property Watch (IPW) yang menyebutkan bahwa secara umum Serpong menunjukkan pertumbuhan properti tertinggi di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan nilai properti di kawasan ini mencapai 50 persen sampai 60 persen per-tahun. Angka ini sangat fantastis, mengingat Serpong bukanlah termasuk dalam administratif DKI Jakarta, namun harga tanah dan properti bahkan bisa melebihi harga di kawasan-kawasan tertentu ibukota.
Serpong kian padat, lahan terus berkurang, developer pun melirik hunian vertikal sebagai prospek yang harus digarap. Orientasi pasar properti di Serpong meski didominasi oleh end user (pengguna akhir), namun investor properti juga tidak ketinggalan melirik kawasan ini.
Kini, sudah semakin sulit menemukan landed house dengan harga di bawah Rp 500 juta di sini. Bagi keluarga muda atau para eksekutif yang menginginkan hunian praktis, modern dan lengkap dengan fasilitas, apartemen adalah pilihannya.
Potensi Investasi Apartemen Serpong
Potensi pasar apartemen di kawasan ini sangat besar, market yang terbanyak adalah apartemen kelas menengah atas. Masyarakat kelas ini menilai kawasan Serpong tengah tumbuh dan berkembang seiring dengan kondisi infrastruktur yang sangat baik.
Tentunya ini memudahkan akses, karena sebagian besar penduduk Serpong bekerja di Jakarta. Melihat kondisi ini, Serpong adalah sasaran tepat untuk pembangunan apartemen. Fenomena ini juga dipengaruhi tingginya harga lahan, pengembang mengkalkulasi ulang membangun rumah tapak di sini. Kalau pun ada, tentu mereka menyasar pembangunan rumah kelas premium.
Seperti disebutkan oleh Associate Director Residential Sales Colliers International Indonesia, Aliviery Akbar, biasanya pengembang akan menahan untuk membangun perumahan baru ketika harga properti suatu kawasan bertumbuh pesat. Pengembang lebih memilih membangun apartemen atau perumahan kelas premium.
Bagi pengguna akhir, membeli apartemen selain sebagai tempat tinggal tentu saja banyak keuntungan yang didapat. Kenaikan nilai properti yang signifikan tentunya menjadi investasi jangka panjang bagi konsumen pengguna akhir.
Selain itu, tinggal di apartemen di kawasan yang sedang berkembang pesat tentu lebih praktis dan dinamis. Sementara bagi investor, apartemen di Serpong memberi potensi kenaikan harga yang menarik.
Para investor yang memburu apartemen di kawasan ini menilai harga jual kembali (secondary market) akan sangat menjanjikan. Selain itu harga sewa apartemen Serpong diyakini sangat menarik, tergantung fasilitas dan kelasnya.








