INTERVIEW: Michael Kurniawan, Direktur Utama Kurnia Group

By 25 February 2018In Depth, News

PROPERTY INSIE – Rumah adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Dan negara wajib untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara untuk memiliki tempat tinggal.

Ini dijamin oleh undang-undang, dan pemerintah sebagai pelaksana kebijakan negara sudah sepatutnya hadir dalam pemenuhan hak ini. Namun pemerintah tidak bisa dan tidak akan mampu berdiri sendiri mengatasi permasalah perumahan di Indonesia tanpa ada sinergi dengan pihak swasta.

Hal inilah yang mendorong Michael Kurniawan, Direktur Utama Kurnia Group untuk konsen mengembangkan hunian untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Baginya, kekurangan pasokan rumah paling besar di Indonesia ini berada pada pasar MBR ini.

“Saya ingin mendedikasikan diri untuk turut andil membantu pemerintah dalam hal pengadaan rumah bagi MBR, sebagai pengembang kita tidak boleh hanya memperhatikan profil bisnis semata.”

“Ambillah sisi sosialnya, karena kita hidup di negara ini, mencari nafkah di negara ini, maka berikan apa yang kita mampu untuk turut membangun negara ini,” ujar Michael ketika Property Inside bertanya mengapa memilih konsen mengembangkan rumah sederhana.

Jiwa sosial Michael ternyata diwarisi oleh sang ayah yang juga seorang entrepreneur. Bagi Michael, seorang pengusaha harus mampu berdiri seimbang dalam membangun usaha. Tidak hanya memikirkan keuntungan semata namun juga ikut andil dalam mencari solusi masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan bisnisnya.

Menurut Michael, ketersedian rumah bagi warga negara adalah salah satu indikator utama kesejahteraan negara. Sebab itulah semua stake holder terkait harus saling bersinergi bahu membahu memastikan rakyat Indonesia memiliki hunian yang layak.

Berikut ini petikan wawancara lengkap Property Inside dengan jebolan Stamford College, Singapore tersebut;

alt text

Apa yang mendorong Anda memilih industri properti sebagai pilihan bisnis?

Saya mengikuti jejak orang tua saya yang juga berbisnis di bidang ini. Saya melihat bagaimana orang tua saya membangun bisnis, sejak kecil saya sering diajak ikut ke proyek melihat bagaimana proses pengembangan dan pembangunan hunian. Saat itu saya berpikiran bahwa bisnis ini adalah bisnis yang berkepentingan untuk hajat hidup orang banyak, sejak itu saya mulai tertarik.

Dalam bisnis ini sendiri, mengapa Anda lebih banyak mengambil target pasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)?

Yang pertama, kita lihat backlog (kekurangan pasokan rumah) di negara kita masih sangat tinggi. Tahun 2010 kita kekurangan 13,6 juta unit rumah. Tahun 2014 sudah 15 juta unit rumah dan terus bertambah, karena kebutuhan rumah 800 ribu unit per-tahun sedangkan yang dapat di bangun hanya 300 ribu sampai 400 ribu unit rumah saja.

Dari angka tersebut, pasar MBR lah yang paling besar. Dari sisi bisnis tentunya ini peluang yang sangat baik. Dari sisi sosialnya, kita turut andil membantu pemerintah untuk pengadaan rumah bagi MBR. Ibarat dua sisi mata uang, aktifitas bisnis itu harus dibarengi juga dengan sisi sosialnya.

Bukankah keuntungan dari hunian MBR lebih minim dibandingkan dengan membangun proyek hunian real estate komersial?

Itu tadi, tidak merugikan pengembang koq. Sisi bisnisnya, potensi ini sangat besar. Ibaratnya kita ini grosiran, bukan ritel. Meski harganya murah dan profit sedikit, tapi perputarannya besar.

Namun tentu saja bukan itu yang menjadi domain utama pengembang menyasar pasar MBR. Tidak bisa dipungkiri, yang namanya usaha tujuannya pastilah mencari keuntungan. Tapi ingat juga bagaimana bisnis ini harus sejalan dengan sisi sosialnya.

Orang tua saya mengajarkan, kita mencari nafkah di negara ini, kita besar di sini, kita berkembang di sini, maka lakukan apa yang bisa kita lakukan, berikan apa yang kita mampu untuk turut membangun negara ini Itu yang selalu tertanam dalam pikiran saya.

Bagaimana Anda melihat peluang bisnis ini ke depan, dan wilayah mana saja yang bagus untuk pengembangan?

Potensi Jabodetabek masih sangat besar. Secara umum, tidak hanya MBR, kawasan sub urban Jakarta paling berpeluang untuk pengembangan bisnis properti. Semua sub-sektor memiliki peluang yang sama, perbedaannya cuma dari kuantitas saja.

Sementara untuk di luar Jawa, saya melihat potensi yang bagus itu berada di Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung. Daerah-daerah yang PDB (pertumbuhan domestik bruto)-nya besar, dipastikan membutuhkan banyak produk properti.

Bagaimana Anda melihat konsistensi pemerintah dalam pengadaan hunian bagi warganya?

Begini, indikator kesejahteraan suatu bangsa itu adalah bagaimana kebutuhan paling dasar dari rakyatnya terpenuhi. Apa itu kebutuhan dasar kita? Sandang, pangan dan papan. Papan adalah indikator kesejahteraan negara.

Pemerintah harus menyediakan itu. Jangan sampai kita dianggap gagal sebagai sebuah negara yang besar. Mimpi saya dan juga mimpi semua orang, semua warga negara di Republik ini harus memiliki rumah.

Share this news.

Leave a Reply