Tak Hanya Jago Bikin Pesawat, BJ Habibie juga Jago Bangun Kota

By 12 September 2019Featured, News

PROPERTY INSIDE – Pernahkah terbayangkan jika Batam yang menjadi kota industri dan salah satu kota pusat ekonomi Indonesia saat ini dulunya hanyalah pulau tak berpenghuni penuh rawa? Pada tahun 1965, Batam masih berstatus desa dalam lingkup kecamatan Pulau Buluh Belakang Padang.

Namun lihatlah kini, Batam berkembang pesat  menjadi kota industri dengan jumlah penduduk hampir 1.3 juta jiwa. Inilah salah satu bukti sukses sentuhan tangan emas Presiden Ketiga Republik Indonesia, Alm Bacharuddin Jusuf Habibie saat menjadi figur utama pembangunan kawasan otorita ini.

Batam juga menjadi bukti bahwa BJ Habibie tidak hanya seorang teknokrat yang melulu cakap membuat pesawat terbang saja. Di satu sisi, dirinya juga sukses merancang sebuah kawasan yang bukan apa-apa menjadi sebuah kota, pusat ekonomi baru Indonesia di zamannya.

Baca juga: BJ Habibie: Meisterstadt Batam Menjadi Destinasi Dan Wisata Internasional

Saat menjadi Ketua Otorita Batam, BJ Habibie membuat konsep pengembangan kawasan Barelang (Batam – Rempang – Galang) dengan dihubungkannya 6 jembatan Barelang agar luasnya menjadi 715 km2  supaya dapat lebih bersaing dengan Singapura dan lebih luas 13% dari wilayah negeri Singa tersebut.

“Batam dibangun untuk bisnis agar mampu menyaingi Singapura,” kata Habibie suatu ketika. Dan Batam yang mengkilap ini tentu membuat ketar-ketir Singapura.

Kengototan Habibie membangun Batam menjadi pusat ekonomi pesaing Singapura menjadi isu sensitif. Lee Kuan Yew, pemimpin Singapura meski akhirnya menjadi teman Habibie, pernah menyindir pria kelahiran Pare-pare, 83 tahun lalu itu.

Baca juga: Ciputra: Pemindahan Ibukota Tidak akan Mengurangi Harkat dan Martabat Jakarta

Tahun 1998, saat BJ Habibie menjadi calon kuat wakil presiden mendampingi Soeharto, Lee melontarkan pernyataan mengejutkan. Jika Habibie jadi wakil presiden, nilai tukar rupiah akan terus melemah menyentuh Rp 16000/dolar kata Lee.

Tapi sejarah membuktikan, pria berjuluk Mr. Crack ini berhasil menjaga nilai tukar rupiah, bahkan mencapai Rp 6500/dolar. Pada tiga bulan setelah dilantik sebagai presiden menggantikan Soeharto, Habibie membalas Singapura. Kepada The Asian Wall Street Journal Sang Jenius ini menyebut Singapura hanyalah titik merah kecil di peta.

Sebelum ditangani Habibie, Batam adalah pusat logistik Pertamina, pada tahun 1978, di tangan Habibie Batam menjadi proyek nasional yang memberikan nilai tambah tinggi untuk kepentingan nasional dengan menjadikan pulau ini menjadi basis industri berteknologi tinggi, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata.

Baca juga: Sejarah Lahirnya Konsep Pengembangan Jabotabek

Di bawah kepemimpinannya juga infrastruktur, prasarana dan sarana untuk mendukung dan menarik investasi di bangun. Dibentuk juga pemerintah kotamadya administratif dalam upaya pemberian pelayanan kepada masyarakat yang semakin bertambah.

Habibie juga mendirikan badan bernama BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Selanjutnya kawasan industri besar mulai terbangun di Batam. Bahkan Singapura ikut menanamkan modalnya dengan investasi yang cukup besar.

Batam adalah salah satu jejak emas karya Presiden BJ Habibie yang dipersembahkan untuk Indonesia. Di tangannya, Singapura patut takut dan khawatir bahwa mimpi BJ Habibie menjadikan Batam sebagai pesaing akan terwujud.

Share this news.

Leave a Reply