Desain Arsitektur RSJ Bak Arkham Asylum Takkan Menyembuhkan Orang Seperti Joker

PROPERTY INSIDE – Awal Oktober 2019 ini dunia perfilman dihebohkan dengan akting luar biasa Joaquin Phoenix yang memerankan sosok Joker. Bahkan akting Joaquin disebut-sebut setara dengan mendiang Heath Ledger yang sebelumnya sukses besar memerankan Joker di film Batman: Dark Knight.

Menonton Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix membawa penonton mampu merasakan bagaimana posisi seorang difabel yang jiwanya sakit dirundung dan disakiti sepanjang hidupnya. Membawanya menjadi pemberontak yang anti kemapanan, anti orang kaya dan berjiwa nihilistik.

Di semua cerita dan film seri Batman terbitan DC Comic, sosok Joker ini tak pernah lepas dari Arkham Asylum, adalah sebuah rumah sakit jiwa yang ada di pulau dekat kota Gotham. Batman sering sekali mengunjungi Arkham Asylum karena musuhnya rata-rata memiliki kelainan jiwa.

Di Elizabeth Arkham Asylum for the Criminally Insane, nama asli dari Arkham Asylum, Batman memenjarakan para gembong penjahat seperti Dr. Harleen Quinzel (Harlley Quinn), Lyle Bolton (Lock Up), Dr. Jonathan Crane (Scarecrow) dan Dr. Thomas Hugo Strange (Hugo Strange).

danvers hospital

Danvers State Hospital, disebut-sebut sebagai inspirasi dari RSJ Arkham Asylum. Rumah sakit jiwa yang berlokasi di Danvers, Massachusetts. Dibangun pada tahun 1874 dan dibuka pada tahun 1878, rumah sakit ini dirancang oleh arsitek Boston Nathaniel Jeremiah Bradlee di situs pedesaan yang terisolasi.

 

Baca juga: Albert Speer, Arsitek Kesayangan Hitler

Sedikit cerita tentang Arkham Asylum, Rumah sakit ini dibuat untuk mengenang ibu dari Amadeus Arkham yang meninggal pada 4 Juni 1920.  Dari awal rumah sakit ini memiliki sejarah yang gelap. Sejarah tersebut dimulai pada tahun 1900-an, di mana saat itu Elizabeth Arkham menderita gangguan kejiawaan dan berusaha bunuh diri sepanjang hidupnya.

Agar kejadian yang menimpa ibunya tidak terulang lagi, Arkham sebagai pewaris tunggal Arkham Mansion memutuskan untuk mengubah fungsi rumah tersebut guna mendirikan rumah sakit khusus untuk orang sakit jiwa. Saat Arkham Mansion sedang dibangun ulang, Arkham bekerja di rumah sakit jiwa Gotham dan tinggal bersama istri dan anak perempuannya yang bernama Harriet.

Suatu hari Arkham hendak melihat pembangunan Arkham Mansion, dia meninggalkan istri dan anaknya di rumah. Ketika berada di Arkham Asylum Arkham menerima telepon yang isinya menyatakan kalau Martin “Mad Dog” Hawkins berhasil kabur dari penjara dan saat ini mencari opini yang matang tentang hasrat membunuh.

Saat tiba di rumah Arkham menemukan kalau pintu rumahnya tidak terkunci, di lantai atas Arkham menemukan anak dan istrinya dalam keadaan bersimbah darah dan terpotong-potong. Di tubuh Harriet, Arkham menemukan inisial Mad Dog yang mengacu pada Martin Hawkins.

Karena adanya tragedi tersebut Arkham akhirnya memutuskan untuk membuka Elizabeth Arkham Asylum for the Criminally Insane saat itu juga dengan pasien pertama Martin Hawkins. Setelah berusaha mengobati Hawkin selama enam bulan, akhirnya Arkham mendudukan Hawkin pada kursi listrik dan membunuh Hawkins dengan sengatan listrik ribuan volt.

Kejadian tersebut dilaporkan sebagai insiden dan Arkham sedikit demi sedikit menjadi gila hingga akhirnya masuk ke rumah sakitnya sendiri.

Baca juga: CP Wolff Schoemaker, Guru Teknik Sipil Bung Karno Yang Insinyur Militer

Di film Joker yang baru rilis ini, kita juga melihat sekilas tampilan rumah sakit ini, dimana dinampakkan sebagai rumah sakit biasa. Di rumah sakit ini pula diceritakan Joker membunuh Ibunya, Penny Fleck (diperankan Frances Conroy).

Karakter arsitektur Arkham Asylum selalu ditampilkan kelam dan mengerikan di setiap cerita-cerita Batman. Yang tentunya menambah seram tampilan rumah sakit jiwa yang menata mental-mental gila para penjahat dan musuh-musuh Batman.

ketawa joker

Karakter Joker sukses diperankan Joaquin Phoenix. Joker memiliki sakit mental Pathological Laughter and Crying (PLC), suatu kondisi di mana seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa sebab.

 

Padahal sebenarnya beberapa penelitian menyebut bahwa desain arsitektur dan interior rumah sakit jiwa harus memberi kenyamanan yang manusiawi agar bisa memanusiakan para pasien sakit jiwa tersebut.

Fasilitas kesehatan mental harus dirancang dengan tujuan untuk menciptakan ruang di mana pasien dirawat dengan baik, rehabilitasi dan reintegrasi difasilitasi dan yang memberikan kesadaran, pendidikan dan pelatihan kepada anggota keluarga yang bertindak sebagai pengasuh.

Ketika memikirkan rumah sakit jiwa, biasanya yang tersirat dibenak kita adalah ruang isolasi, jendela berjeruji, koridor putih besar dengan lampu berkedip-kedip dan terapi kejut. Tak hanya Arkham Asylum, RSJ tempat Hannibal Lecter di Silence of the Lamb pun penuh kegelapan.

Intinya, rumah sakit seperti itu umumnya dianggap negatif, ruang yang membosankan di mana orang seperti ditahan daripada disembuhkan, tempatnya seperti penjara dengan koridor luas. Meskipun praktik dalam perawatan pasien telah berevolusi, citra eksklusi dan penjara tetap saja ada.

Maka, arsitektur lah yang harus bertindak sebagai katalis untuk membawa perubahan pada pola pikir klise ini. lalu pertanyaan pertanyaan pentingnya adalah: dapatkah arsitektur berkontribusi pada perang melawan prasangka dan stigma? Ini adalah mediator penting yang mentransmisikan gambaran nyata dan terkini dari institusi psikiatris kepada masyarakat.

Baca juga: Welthauptstadt, Rancangan “Ibukota Dunia” Ala Hitler

Bisakah disiapkan desain arsitektural sedemikian rupa sehingga RSJ bisa menampilkan suasana seperti hotel, di mana pasien merasa mereka tidak menyadari bahwa ia berada di rumah sakit? Pasien juga harus merasa dilindungi di ruang yang dirancang dengan baik, mengingat kebutuhan fisik dan mental mereka memang mengharuskan mendapat hal-hal yang nyaman.

Desain fasilitas kesehatan mental adalah komponen penting dari perawatan pasien. Desain ini sangat memengaruhi perencanaan sistem layanan kesehatan di fasilitas-fasilitas ini. Staf, layanan yang ditawarkan dan efisiensinya, serta harapan dan persepsi pasien tentang diri mereka sendiri, sebagian besar didasarkan pada desain fasilitas.

Desainnya berdampak pada pengguna yang mencakup desain arsitektur dan interior. Pertimbangan arsitektur meliputi pengenalan fasilitas, estetika bangunan, aksesibilitas, inklusi alam, tata letak dan konfigurasi ruang. Pertimbangan desain interior termasuk furnitur, lantai, warna dinding, tekstur, trim, penggunaan karya seni dan fitur estetika lainnya.

Rekomendasi WHO tentang layanan dan arsitektur psikiatris dari tahun 1959 menyatakan bahwa keakraban dengan tempat dan orang, akan meningkatkan rasa aman pasien. Dengan demikian, RSJ memang benar-benar dibuat untuk menyembuhkan pasien, bukan hanya sekedar mengobati dan menekan hasrat kejiwaan mereka yang sakit.

Share this news.

Leave a Reply