“Jangan Remehkan Millenial Belum Punya Rumah”

PROPERTY INSIDE – Di sudut sebuah kedai kopi di pusat perbelanjaan ternama di Jakarta Barat, Rissa (27 tahun) seorang millenial generasi pertengahan sedang asik memainkan jarinya di tuts komputer jinjingnya. Dirinya tidak sedang iseng berselancar internet atau sekedar bermain game komputer di waktu luang.

Ya, Rissa sedang merampungkan pekerjaannya sebagai desain grafis sembari menikmati suguhan kopi susu dingin di kedai kopi brand ternama itu. Pemandangan seperti ini sebenarnya sangatlah awam bagi masyarakat urban di kota Jakarta.

“Kantor gue sebenarnya gak jauh, di Jakarta Barat juga. Tapi zaman now, bekerja bisa remote dari mana saja kan? Gue tinggal di apartemen di kawasan mall ini juga, sekarang ini lebih enak menyewa apartemen disini, mau kerja tinggal turun ke mall, pakai wi-fi di Starbuck, beres,” kata Rissa.

Rissa sendiri mengaku sangat berminat memiliki tempat tinggal sendiri, dan jika harus memilih, dia lebih memilih untuk membeli hunian vertikal daripada rumah tapak. Alasanya simple, kepraktisan. Namun lebih dari itu, tinggal di apartemen di tengah kota Jakarta adalah pilihan paling logis menurut Rissa.

“Kalau tinggal di apartemen di tengah kota seperti ini kan lebih praktis, tidak dikejar waktu kalau mau ngantor. Mau kemana-mana dekat dan gampang, mau nonton, ngopi, nongkrong tinggal turun ke mall. Kalau gue beli rumah di luar Jakarta mau ke kantor jauh, mau kongkow juga susah kan?” tegas Rissa.

Fenomena seperti ini jelas merupakan salah satu alasan yang patut diperhitungkan semua stakeholder mengapa minat kaum millenial membeli hunian. Jika selama ini banyak pihak menuduh para millenial tidak memiliki rencana yang pasti untuk memiliki rumah atau tempat tinggal, bisa jadi bukan karena perencanaan keuangan mereka yang buruk.

Sebagian besar pengamat, pemangku kebijakan, bahkan pelaku pasar menilai millenial hanya menghambur-hamburkan uangnya untuk bersenang-senang, travelling, beli gadget mahal, tanpa memikirkan kebutuhan pokok yang menjadi masa depan mereka.

Banyak yang sangat khawatir dalam beberapa tahun ke depan milenial Indonesia terancam tidak memiliki rumah. Bahkan lebih ekstrem lagi banyak yang menyebut millenial Indonesia terancam gelandangan, padahal pandangan itu jelas salah.

“Millenial lebih memilih investasi tempat tinggal yang simpel, di tengah kota, memiliki fasilitas lengkap dan yang pasti bisa memenuhi kebutuhan lifestyle mereka.”

Helen Hamzah – Associate Sales & Marketing Director Ciputra Group.

millenial home ownership

Sebagai rujukan & perbandingan riset Mortgage Guaranty Insurance Corporation di USA mencatat sebanyak 22% millenial kesulitan untuk menyisihkan uang untuk DP rumah. Sebanyak 80% millenial penyewa rumah melihat DP adalah hal yang menyulitkan.Padahal 74% dari penyewa tersebut berminat untuk memiliki hunian sendiri.

“Saya kurang setuju dengan pandangan-pandangan yang seolah-olah meremehkan millenial. Memang mereka ini terkesan santai dan enjoy  menjalani hidupnya. Tapi perlu dicatat, mereka inilah generasi paling kreatif, paling inovatif dan paling pandai mencari opportunity,” kata Helen Hamzah, seorang property expert yang juga Associate Sales & Marketing Director Ciputra Group.

Bahkan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, seperti Generasi X dan Baby Boomers, lanjut Helen, millenial ini lebih pintar memanfaatkan peluang dan mereka juga lebih berani mengambil resiko.

“Jadi terlalu khawatir mereka tidak memiliki rumah itu sangat berlebihan. Dan perlu dicatat, mereka ini tidak hanya punya single income dari main job-nya. Kalau generasi terdahulu loyalitasnya hanya pada satu pekerjaan saja, millenial dengan kreatifitasnya bisa mencari pemasukan dari hal-hal lain, seperti hobby, pertemanan dan lain-lain,” kata Helen.

Jika begitu, mengapa banyak dari millenial ini yang belum memiliki papan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya? Menurut Helen, ini dikarenakan millenial selalu berpikiran di luar kotak, mereka memiliki mindset investasi properti yang berbeda dari generasi sebelumnya.

“Kalau Gen-X dan baby boomers itu percaya berinvestasi properti harus memiliki tanah, dalam hal ini landed house. Sementara millenial lebih memilih investasi tempat tinggal yang simpel, di tengah kota, memiliki fasilitas lengkap dan yang pasti bisa memenuhi kebutuhan lifestyle mereka.”

Helen berpendapat, sebenarnya millenial memiliki kemampuan untuk membeli rumah di kawasan sub-urban. Dengan pendapatan mereka yang double income jelas mereka mampu melakukan hal itu. Namun mereka tidak melakukannya karena tinggal di sub-urban bukan pilihan gaya hidup mereka.

“Dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, seperti Generasi X dan Baby Boomers, millenial lebih pintar memanfaatkan peluang dan juga lebih berani mengambil resiko.”

“Mereka menunggu dan menunggu bagaimana bisa membeli hunian vertikal di dalam kota. Sayangnya, sementara tabungan mereka belum mencukupi untuk DP (down payment) kredit apartemen, uang yang idle itu akhirnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan experience style mereka, seperti travelling dan beli gadget mahal,” jelas Helen.

Kenyataan ini memang banyak terjadi karena harga properti yang selalu meningkat bahkan lebih tinggi dari inflasi tidak bisa dikejar serta merta oleh para millenial. Sementara mereka menunggu untuk mencukupi DP kredit apartemen, uang yang ada akhirnya digunakan untuk kebutuhan sekunder.

Menurut Helen, faktor ini harus diperhatikan oleh semua pihak, baik perbankan maupun oleh para developer sendiri. Dirinya melihat bahwa sudah saatnya pengembang fokus menggarap segmen milenial ini. Pengembang harus memberi mereka berbagai kemudahan pembayaran dengan opsi-opsi yang sesuai kemampuan mereka.

“Sebagai praktisi properti, saya melihat kendala para millenial untuk memiliki properti itu pada penyediaan down payment. Untuk mencicil saya yakin mereka mampu, apalagi mereka adalah generasi terdidik dan kreatif.”

“Nah, agar tidak ada lagi kekhawatiran-kekhawatiran mereka terancam gelandangan, mulailah memberi mereka kemudahan untuk DP, ini juga termasuk strategi yang bagus untuk menarik segmen market generasi ini,” tutup Helen.

Share this article:

Leave a Reply