Cakradana, Sang Arsitek Kerajaan Islam Banten Berdarah Tionghua

PROPERTY INSIDE – Komplek-komplek perumahan modern di setiap kota-kota besar di Indonesia kini sangat mudah ditemui. Selain memang tren pembangunan permukiman yang tertata dalam satu kompleks sedang menjamur, gaya hunian seperti ini menjadikan kota-kota lebih rapi dalam mengelompokkan peruntukkan kawasan perumahan, perkantoran dll.

Tetapi, jauh sebelum gaya hunian modern seperti ini berkembang pesat, pada awal abad ke 17, Banten telah memiliki sebuah kompleks perumahan yang dibangun permanen dari batu bata. Seorang keturunan Tionghua beragama Islam yang menjadi arsitek pembangunan 120 rumah petak di kawasan Pecinan Banten yang dibangun mulai tahun 1671 itu.

Cakradana, sang arsitek, sejatinya adalah seorang Syahbandar Utama Kerajaan Islam Banten. Dengan jabatan mentereng itu, dirinya diberi gelar Kyai Ngabehi Cakradana oleh Sultan Banten. Awalnya, Cakradana yang bernama asli Tantseko ini adalah seorang pandai besi, sebelum menjadi Syahbandar Utama, dirinya adalah Kepala Bea Cukai.

Baca juga: Problematika Perumahan Tak Pernah Berubah Sejak Dekade 50an

Sultan Ageng Tirtayasa, sangat menyukai rumah-rumah bata yang berasal dari tradisi China daripada rumah berbahan bangunan kayu seperti kebiasaan tradisi Jawa. Dalam buku Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, yang ditulis Claude Guillot, disebutkan juga bahwa banyak bagian dari Istana Banten terilhami dari arsitektur tradisi China.

Guillot juga menuliskan  pada 1671 di Banten, ada tiga jalan yang dibangun cukup baik. Di masing-masing sisi ada 20 rumah bata dan toko untuk menampung orang Tionghoa. Jalan tersebut, tulis Guillot, dibangun dari biaya Cakradana sendiri.

“Negara atau raja meluncurkan atau menyetujui pembangunan sebuah kawasan permukiman yang cukup besar, tapi menyerahkan realisasi dan pembiayaannya kepada sebuah perusahaan swasta, dalam hal ini Cakradana,” tulis Guillot.

Selain itu, dua jembatan batu juga dibangun di tahun yang sama. Satu di dalam kota di sebelah utara istana, dan satu lagi jembatan untuk melintas dari kota raja ke daerah niaga di Karangantu. Kedua jembatan ini dibangun di bawah kepemimpinan Cakradana.

Jembatan di Karangantu, sebagaimana digambarkan oleh C. De Bruijn adalah jembatan buka-tutup yang memungkinkan kapal berlalu lalang di sungai. Sedangkan yang di utara istana, adalah jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Rantai. Sebuah jembatan yang bisa diangkat dan diturunkan.

Baca juga: 7 Fakta Keren Istiqlal, Masjid Merdeka Kebanggaan Indonesia

Tahun 1677 Kesultanan Banten mulai merenovasi pertahanan kota dengan memperbaiki benteng pertahanan yang sudah ada seratus tahun sebelumnya. Benteng ini terbuat dari bata yang mengelilingi kota raja, karena itu maka disebut sebagai Banten, Negara Kota di dalam Benteng. Karena itu, Kesultanan Banten memiliki pertahanan yang sulit ditembus dari laut oleh para penjajah dari Eropa yang hendak memasuki Nusantara.

Benteng ini cukup unik, bagian yang berada di tepi laut berbentuk zig-zag, dan dibangun di lahan berpasir. Tembok tebalnya berbahan batu karang dan adukan kapur. Karang tersebut diambil di sekitar pulau oleh para tahanan khususnya para pecandu. Selain itu, tembok-tembok ini juga diperkuat oleh empat buah menara di sepanjang sisinya.

“Diperlukan keahlian yang tidak kami miliki untuk menentukan sumber-sumber yang mengilhami Cakradana dalam proyek arsitektur yang tiada bandingnya di Nusantara pada zaman itu,” tulis Guillot.

Setelah merebut kota itu tahun 1682, Belanda menghancurkan karya arsitektur Cakradana, dari benteng pertahanan hingga permukiman Tionghoa –hanya jembatan yang dirombak. Tersisa sebuah peninggalan berupa tembok di sebelah utara di benteng yang kemudian diberi nama Speelwijk tersebut.

Share this article:

Leave a Reply