PROPERTY INSIDE – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mematangkan skema pembiayaan rumah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri.
Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuldjono, saat ditemui di Bali pekan lalu, konsep skema baru tersebut saat ini tengah dibahas oleh Kementerian PUPR bersama Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Implementasi skema tersebut akan mulai dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang sesuai instruksi Presiden Joko Widodo. Semoga sebelum tutup tahun skemanya sudah bisa kita terbitkan,” imbuhnya.
Baca juga: Riset BTN, Rumah Tapak Selera Milenial
Selain mengembangnkan skema untuk ASN,TNI dan Polri, Kementerian PUPR juga sedang mempersiapkan skema pembiayaan rumah untuk milenial.
Keduanya menurut Basuki selama ini tidak bisa memanfaatkan KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) karena adanya batasan maksimal penghasilan sebesar Rp 4 – 7 juta per bulannya, sehingga harus menggunakan KPR komersial.
Untuk itu skema baru nantinya tidak akan dibatasi besaran penghasilannya. Suku bunga yang dikenakan dibawah 5%, uang muka 1 % dan bantuan uang muka sebesar Rp 4 juta.
Baca juga: FIABCI Summit 2018: Rumah Terjangkau Butuh Dukungan Perbankan
Terkait harga rumah agar senantiasa terjangkau, Menteri Basuki mengatakan akan memanfaatkan tanah pemerintah sebagai solusi. Terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi para milenial,ASN, TNI, dan Polri serta karyawan BUMN.
Harga tanah terutama di kawasanperkotaan menjadi komponen penentu harga rumah yang terbesar. Dan khusus untuk rumah ASN, TNI dan Polri akan memanfaatkan lahan-lahan milik negara.
Basuki berharap, jangan sampai pada saat pensiun, para milenial sekarang termasuk ASN, anggota TNI/Polri dan karyawan BUMN, nantinya masih belum juga memiliki rumah.
Baca juga: Rumah MBR Curi Perhatian FIABCI Summit 2018
Sementara, Sekretaris Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Dadang Rukmana mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi para milenial di kawasan perkotaan yang lahannya mahal, pembangunan rumah susun berkonsep transit oriented development (TOD) yang dekat dengan lokasi stasiun kereta menjadi pilihan.
“Pembangunannya diintegrasikandengan simpul-simpul transportasi publik. Sehingga para milenial harus merubah mindset dari rumah horizontal jadi vertikal mengingat keterbatasan lahan perkotaan,” imbuhnya.









