PROPERTY INSIDE – Perkembangan teknologi merubah cara pola bisnis, tak terkecuali dalam industri properti. Salah satu contohnya, penjualan bergaya marketplace banyak hadir dalam industri properti dengan menawarkan listing produk properti, baru maupun secondary.
Namun para penjaja produk properti yaitu sales marketingnya pun merubah cara pandang berjualan mereka. Selain memanfaatkan media online yang berkarakter marketplace, para sales pun harus piawai memanfaatkan teknologi digital untuk berjualan.
Baca juga: Home Credit Luncurkan Pembiayaan Renovasi Rumah
Perubahan ini pun diakui oleh Associate Sales & Marketing Director Ciputra Group Helen Hamzah yang menjelaskan bahwa kita harus bisa mengikuti perubahan teknologi Apalagi saat ini kondisi pasar sudah berbeda, generasinya berbeda dibandingkan 5 tahun lalu.
“Kita harus pahami dan paling mudah melihat perbedaan generasi tersebut adalah dengan cara bagaimana kita memasarkan produk tersebut. Kondisi saat ini berbeda dan kita harus bisa mengikuti,” jelas Helen saat ditemui di marketing gallery Ciputra International, Jakarta Barat.
Baca juga: Propan Tower Topping Off, Kawasan Ciputra International Kian Lengkap
Ia menambahkan, marketing saat ini diuntungkan dengan kemajuan teknologi. Menurutnya lagi, dengan memanfaatkan teknologi dan hanya melalui handphone sudah bisa melakukan pemasaran dengan beragam cara.
“Mulai dari berkirim foto, video hingga ilustrasi penjualan semua bisa dalam satu kesatuan. Semuanya melalui sosial media sehingga lebih bisa leluasa berjualan bahkan juga secara personal pada konsumen,” imbuhnya.
Namun menurutnya, yang harus dipahami bagi seorang sales adalah bagaimana mereka memberikan informasi kepada klien atau calon konsumennya.
Baca juga: Pasar Lesu, Developer Harus Merespon Pasar
“Kita memberikan warning dan juga menyamakan informasi terkait proyek yang kita pasarkan agar pesan yang disampaikan sales benar-benar memberikan efek kepada konsumen,” tegasnya.
Tujuannya agar semua data dan fakta produk tidak melenceng sehingga konsumen tidak merasa dibohongi. Sehingga kepercayaan konsumen kepada sales tersebut tetap terjaga.
“Selain itu kita juga mendorong agar para sales lebih inovatif dalam memasarkan produknya di sosial media. Karena cara pemasaran yang berbeda dan menarik menurut saya akan menjadi pintu masuk penjualan,” imbuhnya.










