Adi Ming E, Man On Fire, Semangat Pantang Menyerah CEO Samera Propertindo

PROPERTY INSIDE –  Optimis dan sangat bersemangat adalah kesan yang akan langsung tertanam dalam pikiran setiap lawan bicara sosok pengusaha muda satu ini. Positive vibes itu jelas membuat lawan bicara akan ikut terbawa persona yang kuat dari seorang Adi Ming E.

Tentu aura Man on Fire, – pribadi yang sangat bersemangat dan pantang menyerah, itu terbentuk dari tempaan perjalanan kehidupan Chairman Samera Propertindo ini. Memulai bisnis di usia yang masih sangat muda, Adi sudah sangat kenyang akan jatuh bangun bisnis dan kehidupan.

Gagal itu hal biasa, namun komitmen dan kerja keras adalah senjata untuk memenangkan batu uji kegagalan tersebut, begitu menurut Adi. “Bagi saya, faktor hoki itu hanya satu persen mendorong kesuksesan seseorang, 99 persen sisanya adalah kerja keras,” jelasnya.

Apa yang disampaikan pria penggemar olahraga Mix Martial Art ini tentu bukan hanya sekadar retorika, dia telah membuktikannya. Terlahir dari keluarga sederhana, Adi benar-benar memulai dari bawah, mulai dari menjadi sales rumah secondary, kemudian membuka kantor agency property, hingga kini sukses membangun salah satu imperium bisnis properti yang merajai Kota Medan.

Dalam kesempatan wawancara dengan Chairman Samera Propertindo ini, kepada kami dirinya bercerita tentang bisnis properti yang telah dirintisnya sejak 21 tahun lalu. Dari awalnya hanya membangun beberapa puluh unit rumah hingga kini telah berhasil membangun puluhan proyek prestisius di kota Medan.

Adi juga membongkar strategi bagaimana menahkodai “Kapal Bisnis”-nya di tengah hantaman badai pandemi Covid-19. Berikut petikan wawancara Property Inside dengan Adi Ming E.

2_ adi ming e

Bagaimana kisah awal Anda merintis dan membangun bisnis properti di Kota Medan ini?

Sebelum jadi developer saya berkutik sebagai sales. Usia sangat belia, 16-17an tahun tapi pede kesana-kemari nawarin rumah. Begitu terus sampai tahun 2004 saat usia 24 tahun, saya beranikan diri menjadi developer. Saya mulai satu proyek yang masih dalam skala kecil sekitar 32 unit.

Yang menariknya ada satu kejadian pada saat transaksi AJB. Saat itu, saya bersama dengan notaris dan customer sudah duduk bersama. Lalu ada salah satu customer menanyakan ke notaris, “Developernya mana? Developer belum hadir? Kenapa marketingnya saja yang ada?”. Nah, pada saat itu saya langsung merasa, apa saya belum pantas menjadi seorang developer ya? Lalu, langsung notaris menunjuk ke saya, dia bilang ini developernya, dan pada waktu itu serentak semua langsung tertawa.

Apakah hal ini terjadi karena ada mindset bahwa pebisnis properti adalah orang-orang tua?

 Jadi karena umur saya 24 tahun waktu itu, yang saat itu seumuran saya rata-rata masih marketing. Bisnis properti ini memang bisnis yang sangat kompleks, tentu perlu kematangan dari segi usia untuk menghadapi semua tantangan, jadi wajar juga banyak orang berpikir sebelah mata pada anak muda di bisnis ini.

Tapi bagi saya, itu benar-benar pengalaman yang sangat luar biasa. Artinya dengan umur yang masih sangat muda itu kita harus bisa menghadapi tantangan, kita harus mencoba terus. Kita harus paham dan belajar.

Mulai dari perizinan, tantangan birokrasi, perpajakan, hingga SDM sekalipun. Jadi learning by doing, kita coba satu-satu. Itulah yang membuat saya sekarang cukup nyaman dengan bisnis ini. Karena itu saya tidak pernah terjun ke bisnis lainnya.

Apa tantangan yang paling berat saat itu?

Pada saat itu banyak sekali tantangan dari perizinan. Saya ingat sekali pada waktu itu terkait dengan perizinan. Kita ajukan aplikasi perizinan seperti biasa, namun tidak ada respon. Sampai saya ingat, saya waktu itu pagi-pagi sekali, dari jam 6 pagi saya tunggu Kepala Dinas yang mengeluarkan izin itu. Begitu saya lihat beliau datang, saya langsung hampiri, jadi begitu ngototnya saya.

Karena pada waktu itu rasanya tidak ada takut-takutnya, jadi semua dihadapi. Akhirnya kita bisa lewati satu-satu dan beruntungnya proyek itu cukup berhasil. Saya masih ingat, saat itu kami buat exhibition dan hanya dalam dua minggu itu sold out. Karena memang saya punya basic marketing, jadi saya bisa tahu bagaimana caranya dengan dua minggu bisa sold out.

adi ming

Di usia yang masih sangat muda Anda sudah memilih bisnis properti yang sangat sulit dan penuh tantangan, tidakkah berpikir untuk beralih bisnis pada saat itu?

Kalau dihitung sampai sekarang, saya sudah 21 tahun di industri ini dan tidak pernah berbisnis yang lain, hanya properti. Di awal karier, saya menjadi sales marketing, kemudian membentuk agent property, kemudian menjadi developer kecil, terus berkembang dan saya tidak pernah masuk ke bisnis yang lain. Nah, di situ dituntut komitmen yang luar biasa.

Bicara komitmen, penafsiran saya terhadap komitmen adalah bagaimana kita melakukan sesuatu secara konsisten, terus-menerus, pantang menyerah, dan menghasilkan yang terbaik. Dan itu yang saya lakukan selama ini.

Kenapa Anda begitu setia pada bisnis ini?

Bagi saya bisnis properti ini bisnis yang paling potensial dan esensial. Artinya bisnis properti ini tidak kenal ketinggalan jaman, tetap ada potensinya sepanjang masa. Akan selalu dibutuhkan dan akan selalu menguntungkan. Saya merasa bisnis ini paling menarik, ya paling cuan-lah!

Saya lihat juga figur-figur kenamaan, mereka pasti punya bisnis properti. Kita tahu Donald Trump sekalipun, bisnisnya juga properti. Itu menjadi acuan juga bagi kita bahwa bisnis ini paling potensial dan menarik.

Sepanjang perjalanan bisnis ini, pernahkah ada proyek yang gagal?

Gagal karena tidak profit tentu ada. Tapi kalau gagal karena proyek tidak selesai itu tidak pernah. Selama 21 tahun ini kami selalu komitmen untuk menyelesaikan semua proyek. Menurut saya, soal untung rugi itu urusan belakang, yang penting komitmen. Apalagi sektor ini sangat sensitif dengan trust issue. Berkali-kali krisis ekonomi menggempur, komitmen itu masih tegas kami pegang.

adi ming e

Bisa diceritakan apa saja portfolio Samera Propertindo dan proyek apa yang menjadi flagship perusahaan ini?

Saat ini kami sudah memiliki puluhan proyek di Kota Medan. Tidak salah juga label yang Anda sebutkan merajai properti Kota Medan. Salah satu proyek yang cukup membanggakan di kota Medan itu namanya J-City yang dikembangkan awal tahun 2010. Proyek J-City ini sudah menjadi jantungnya di kawasan Kota Medan bagian selatan.

Jadi bisa dibilang Medan Selatan itu semua kegiatan-kegiatan bisnis terpusat di J-City. Dan proyek ini saya mulai benar-benar dari nol. Mulai dari pembebasan lahan, pembuatan konsep, pemasaran sampai dengan selesai itu benar-benar saya ikut di dalamnya.

Beberapa proyek lain di antaranya seperti De Casa Villa, Villa Samera, City Suites, Sam City, dan yang terbaru Samera Djohor. Selain itu, kami juga sudah membangun area pergudangan, Amplas Centre. Kami juga sudah pernah masuk ke perumahan subsidi pemerintah di daerah Simalingkar. Serta beberapa proyek lain dengan kategori lainnya. Intinya hampir di seluruh kota Medan ini sudah kita lakukan pengembangan.

Apakah Samera Propertindo menyasar segmen khusus di bisnis ini?

 Kita punya beragam pilihan di setiap segmen pasar.  Mulai dari residensial middle-low, middle-up, pertokoan, pergudangan, kavlingan, dan masih banyak lagi. Samera Propertindo tidak berfokus pada satu segmen, hampir semua jenis pengembangan properti kami kerjakan. Pilihan ini juga bukan berarti menyimpan visi khusus, kami hanya mencoba menangkap peluang yang masih terbuka lebar khususnya di Kota Medan. Oh, iya, bahkan dalam waktu dekat kami juga akan masuk ke high-rise building apartment.

 Bagaimana strategi Anda menahkodai Samera Propertindo di tengah “badai” pandemi saat ini?

Menyusun financial management yang tepat adalah strategi penting bagi saya menghadapi tantangan pandemi ini. Poinnya, perusahaan benar-benar harus disiplin dalam penggunaan budget. Disiplin juga bukan berarti mengerem total pengeluaran, melainkan lebih bijak menentukan prioritas.

Contohnya, sikap keuangan Samera Propertindo di pasar digital. Saya bisa pastikan, Samera Propertindo paling jor-joran dalam belanja marketing digital tahun ini. Tapi visi kita jelas, apa yang didapat jangka pendek, dan apa yang dituai jangka panjang, semua terproyeksi.

adi ming samera

Lalu seperti apa adaptasi strategi marketing yang dilakukan Samera Propertindo itu?

Tentu kita harus beradaptasi pada tren-tren pemasaran yang up to date. Saya juga tahu diri, nggak akan mampu ngikutin dan mempelajari semua perubahan sendirian.

Strategi bijaknya adalah memanfaatkan potensi-potensi yang ada yang dimiliki anak-anak muda saat ini.  Saya harus jujur, anak-anak muda ini jauh lebih kreatif, jauh lebih inisiatif.

Kita sebagai entrepreneur, juga harus jeli melihat dan bagaimana bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh anak muda sekarang. Misalnya saja saat memanfaatkan potensi dari para influencer yang juga diisi anak-anak muda kreatif itu.

Mereka lebih tahu bagaimana untuk engage dengan pasar. Masing-masing segmen berbeda, treatment-nya juga beda dong. Saya minta mereka jalankan dan hasilnya sangat efektif.

Bagaimana Anda melihat kondisi bisnis properti saat ini di Kota Medan?

Di Medan, sekarang ini saya melihat memang kondisinya banyak developer yang wait and see. Bahasa wait and see itu menurut saya bahasa yang kurang berani saja.  Pada saat mereka mengatakan wait and see, kami bergerak. Bagi Samera Propertindo tidak pernah ada bahasa menunggu, dan terbukti di pandemi ini saja kami sudah merilis dua proyek yang cukup besar.

Di awal pandemi tahun 2020 kami launching proyek Sam City sebanyak 1.000 unit.  Pada saat itu banyak pertanyaan-pertanyaan dari media kenapa kami berani meluncurkan produk di masa pandemi. Saya jelaskan bahwa kami yakin pasar tetap ada, saya hanya perlu menargetkan penjualan yang rasional dan ternyata berhasil.

Di tahun 2021 ini pun kami kembali meluncurkan proyek baru, namanya Samera Djohor. Proyek ini menyasar segmen market middle up.  Jadi yang saya bilang bahwa Samera Propertindo tidak mengenal wait and see bukan cuma kita lips service. Kami benar-benar buktikan dengan meluncurkan dua proyek besar di masa pandemi ini.

adi ming e 2022

Menurut pandangan Anda, bagaimana potensi Kota Medan dalam beberapa tahun mendatang?

Kalau saya selalu berpendapat, Kota Medan bukan hanya ibukota Sumatera Utara. Saya selalu bilang Medan ini ibukota Pulau Sumatera, karena Medan selalu menjadi satu tolok ukur di Pulau Sumatera. Kota Medan sangat didukung oleh industri-industri di sekelilingnya yang sangat hebat seperti perkebunan, perindustrian, dan ekonomi kreatif.

Medan juga banyak menghasilkan pengusaha-pengusaha yang tangguh, sehingga pengusaha-pengusaha tangguh ini bisa menciptakan banyak bisnis dan lapangan kerja.  Karena itu saya selalu yakin bahwa kota Medan ini akan selalu growth di atas kota-kota lainnya.

Selain itu, Medan ini juga dekat dengan Singapura, Malaysia, Thailand. Penerbangan bandaranya juga sudah sangat luar biasa, infrastrukturnya juga sudah sangat mendukung.  Saya yakin, dalam lima tahun ke depan akan sangat berbeda.  Saya tidak pernah pesimis, Kota Medan akan semakin berkembang.

Apakah olahraga MMA mempengaruhi karakter Anda dalam berpikir dan mengambil keputusan?

Olahraga ini mungkin dalang yang membuat saya kekurangan rasa takut. Jatuhnya juga nekat. Bahasa Medannya, gas teros! Ketika di ring, keputusan serang atau bertahan itu harus diambil kurang dari lima detik. Kalah cepat, lewat kita dihajar lawan.  Jadi sambil nahan sakit di wajah, perut, otak terus mikir nih, gimana nguncinya ya, dimana mukulnya ya. Mungkin ya itu juga yang buat saya sensitif sama situasi.

Tapi sekali lagi itu semua akumulasi dari pelajaran hidup yang saya jalani. Setiap ronde kehidupan punya kesulitan dan keberhasilannya masing-masing.

 

Share this article:

Leave a Reply