PROPERTY INSIDE – Kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya ini adalah salah satu kota perjuangan Republik Indonesia yang penuh dengan sejarah peradaban. Sejak dulu Medan telah terkenal akan kemajemukan dan pluralisme. Berbagai suku bangsa hidup rukun berdampingan di Paris van Sumatera ini, yang patut menjadi contoh Bhineka tunggal Ika sesungguhnya.
Kota ini kaya akan budaya dan berbagai kuliner khas hasil perpaduan cita rasa suku bangsa yang berabad telah menetap di Medan. Tak hanya itu, kota durian ini juga memiliki sejarah peradaban urban dan arsitektur yang sangat kaya dan beragam.
Kawasan Kesawan
Kawasan Kesawan
Sangat banyak peninggalan urbanisme kota Medan sejak zaman kolonial Hindia Belanda yang hingga kini masih berdiri sebagai saksi sejarah. Salah satu yang paling tersohor tentu Kawasan Kesawan. Kawasan yang sempat menjadi lokasi street food Medan ini sejak dulu memang telah menjadi pusat pertokoan dan restoran kelas atas. Tip Top adalah salah satu restoran yang masih eksis sejak zaman Belanda dan sampai saat ini masih beroperasi.
Kawasan ini dipenuhi dengan bangunan bersejarah. Sebelum tahun 1880, Kampung Kesawan dihuni oleh orang-orang Melayu Deli dan Tionghoa. Mereka datang dari Malaka dan Tiongkok kemudian menetap di daerah ini. Setelah kebakaran besar melalap rumah-rumah kayu di Kesawan pada tahun 1889, para warga Melayu Deli dan Tionghoa Medan lalu mulai mendirikan ruko-ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini.
Tjong A Fie Mansion
Tjong A Fie Mansion
Masih di kawasan Kesawan, sebuah rumah megah bergaya arsitektur peranakan kokoh berdiri. Rumah ini milik seorang saudagar Tiong Hua bernama Tjong A Fie. Rumah Tjong A Fie ini adalah salah satu ikon dan simbol sejarah multi etnis di kota Medan. Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Gerbang rumah yang megah ini “dijaga” dua patung singa, pintu masuk dihiasi ukiran kayu yang cantik.
Luas bangunan mansion ini diperkirakan 4.000 m2 dengan 35 ruangan. Beragam interior mulai dari klasik cina, eropa, dan retro menghiasi tiap ruangan. Masuk ke Tjong A Fie Mansion ini seolah kita melintasi berbagai era yang sudah dilalui bangunan ini.
Balai Kota Lama dan Lapangan Merdeka Medan
Balai Kota Lama
Bergeser sedikit dari Kesawan sebuah bangunan bergaya eropa yang tidak terlalu besar masih berdiri kokoh. Dulunya bangunan ini adalah Balai Kota lama Medan, pada zaman kolonial Gedung ini dibangun untuk De Javasche Bank. Dibangun pada masa Hindia Belanda tahun 1908 oleh Hulswit & Fermont dan direnovasi tahun 1923 oleh Eduard Cuypers, mereka adalah arsitek bangunan kolonial ternama lainnya di Hindia Belanda.
Gedung Balai Kota ini sendiri merupakan kilometer nol di Medan. Bangunan ini kini menjadi bagian dari kompleks hotel dan serviced apartemen Grand CityHall Hotel, dan kini difungsikan sebagai kafe.
Kantor Pos Besar Medan
Kantor Pos Besar
Tak jauh dari Balai Kota lama, terdapat sebuah gedung yang sejak lama telah menjadi legenda di kota Medan, gedung itu adalah Gedung Kantor Pos Besar. Sampai saat masih berfungsi sebagai kantor pos. Kantor Pos Medan dibangun pada tahun 1909 dan selesai pada tahun 1911.
Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter. Desain bangunan bergaya Art Deco Geometrik, dengan karakter utama bangunan didominasi dengan warna putih dan oranye. Bentuk kubahnya yang unik tetap dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi.
Kantor Pos Besar Medan telah yang tetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sejak tahun 2010. Desain arsitekturnya yang unik membuat bangunan ini terlihat seperti kandang burung merpati pos yang dulunya dimanfaatkan sebagai sarana berkirim surat.
Menara Air Tirtanadi
Menara Air Tirtanadi
Selanjutnya adalah menara air Tirtanadi, bangunan ini juga merupakan salah satu ikon kota Medan. Bangunan ini didirikan pada tahun 1906 oleh pemerintah Belanda sebagai tempat penampungan air bagi masyarakat Medan.
Menara Air Tirtanadi yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda ini dikelola oleh perusahaan NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih. Menara ini dirancang oleh Hendrik Cornelius.
Pada masanya, air yang berasal dari menara ini hanya boleh dipakai oleh kalangan menengah ke atas saja. Sementara itu untuk kalangan menengah ke bawah masih mengandalkan sumur-sumur untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.
Istana Maimun
Istana Maimun
Landmark paling penting di kota Medan yang tak boleh dilewatkan adalah Istana Maimun, istana Kesultanan Deli. Istana Maimun didesain oleh Capt. Theodoor van Erp, seorang tentara Kerajaan Belanda.
Atas perintah Sultan Ma’moen Al Rasyid, arsitektur Istana dibangun bergaya Mughal memiliki 2 lantai, serta 30 ruangan. Istana ini dominasi dengan warna kuning keemasan. Yang menarik, desain inetrior bangunan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan yang berbeda-beda, dan itu akan terlihat pada ornamen lampu, kursi, meja, lemari serta bentuk pintu dan jendela yang lebar dan besar.
Masjid Raya Medan tempo doeloe.
Masjid Raya Medan
Bergeser ke arah Timur dari Istana maimun, terdapat bangunan fenomenal di Medan, yakni Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini menyatu dengan kompleks istana.
Gaya arsitekturnya percampuran antara gaya Timur Tengah, India dan Spanyol. Pembangunan Masjid Raya ini diprakasai oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, pemimpin Kesultanan Deli.
Keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden pada waktu itu. Konon Tjong A Fie, yang berteman dekat dengan Sultan juga ikut membantu biaya pembangunannya.
Denah masjid ini disusun simetris segi delapan dalam corak bangunan bergaya campuran Maroko, Eropa dan Melayu. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid-masjid kebanyakan.
Empat penjuru masjid masing-masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing-masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan.
Itulah beberapa ikon atau landmark dari kota Medan yang sangat terkenal hingga saat ini. Meski demikian masih banyak lagi bangunan bersejarah kota Medan seperti lapangan Merdeka, Stasiun Kereta Api dan Titi Gantung, de Oranje Bioscoop, gedung London Sumatera, dan masih banyak lagi. Kota ini memang benar-benar terkenal akan kekayaan arsitektur dan budayanya.









