PROPERTY INSIDE – Pemerintah telah mempertimbangkan beberapa Kota yang menjadi opsi pusat pemerintahan baru Republik Indonesia. Rencana Presiden Joko Widodo memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta masih terus digodok Kementerian PPN/Bappenas, rencananya akan segera dilaporkan kepada presiden di akhir Desember.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, usai acara Sarasehan 100 Ekonom 2 di Jakarta, Selasa (12/12) mengatakan bahwa telah muncul beberapa kandidat yang akan disampaikan kepada presiden. Namun Bambang belum mau membeberkan kota-kota yang menjadi pilihan Ibukota baru tersebut.
“Saya harus lapor dulu ke presiden, akhir Desember ini selesai. Yang pasti, lokasinya di luar Jawa,” ujarnya.
Bambang juga menjelaskan bahwa selain lokasi, skema pembiayaan, perkiraan kebutuhan masuk dalam kajian Bappenas, namun untuk desain kota belum dimaskukkan dalam kajian tersebut.
“Lokasi, termasuk skema pembiayaan, perkiraan kebutuhan, dan lain-lain. Tapi belum sampai desain mengenai kotanya,” kata Bambang.
Sebelumnya, Presiden Jokowi telah meminta Bappenas untuk mengkaji rencana pemindahan Ibukota ini. Beban Jakarta dinilai sudah cukup berat menjadi Ibukota negara. Berbagai permasalahan seperti kemacetan, defisit air tanah, polusi, kepadatan peduduk hingga penurunan permukaan tanah, menjadi permasalahan serius bagi kota Jakarta.
Urbanisasi yang tidak terkendali juga merupakan permasalahan serius bagi Jakarta. Dengan luas daerah 740,3 km2 Jakarta dihuni sebanyak 9.588.198 jiwa penduduk (sensus 2010). Jumlah ini meningkat hingga 14 juta jiwa pada siang hari.Peningkatan jumlah penduduk pada siang hari ini disumbang oleh penduduk dari kota-kota satelit (Tanggerang, Bekasi, Depok, Bogor) yang bekerja di Jakarta.
Permasalahan lain yang cukup mengkhawatirkan bagi Jakarta adalah defisit air tanah. Seiring pesatnya laju pembangunan perumahan, perkantoran, apartemen dan sejumlah bangunan lainnya tentu berimbas dengan berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta.
Dari data yang dihimpun Property Inside, defisit air baku Jakarta telah mencapai 11.982 liter per detik pada tahun 2010. Jumlah tersebut diyakini akan membengkak lebih dari tiga kali lipatnya pada akhir 2025, yakni menjadi 35.786 liter per detik.




