Pengembang Australia: Tidak Semua Real Estate Terpengaruh Pembatasan Capital Outflows China

Share on Facebook
Tweet on Twitter

PROPERTY INSIDE – Pengembang properti Australia mengakui bahwa kebijakan pemerintah China melakukan pembatasan arus keluar modal (capital outflows) memang berdampak pada kondisi pasar real estate negeri Kanguru tersebut. Namun menurut mereka dampak yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.

Crown Group, salah satu perusahaan properti terkemuka Australia menyebut bahwa pasar properti untuk proyek-proyek yang sedang mereka kembangkan tidak mengalami stagnasi penjualan ataupun koreksi harga. Kondisi ini terjadi karena perusahaan properti yang dikomandoi Iwan Sunito, pengusaha asal Indonesia, tidak mendominasi komposisi penjualan luar negeri.

Bagus Sukmana, Head of Strategic & Corporate Communication Indonesia at Crown International Holding Group, menjelaskan bahwa penurunan penjualan properti Australia ke luar negeri hanya berdampak pada developer yang menargetkan pembeli dari China saja.

“Kebijakan restriksi atau pembatasan capital outflows di China dampaknya tidak sebesar seperti yang diberitakan banyak media global. Memang diakui kebijakan itu berdampak pada pasar overseas properti Australia, namun dampaknya tidak signifikan,” jelas Bagus dalam perbincangan dengan Property Inside, Senin (18/12) di Jakarta.

Di Australia, menurut Bagus, kebijakan ini hanya berdampak pada developer asal China yang memang penjualannya bergantung pada pasar negeri Tirai Bambu tersebut. Sementara untuk pengembang yang komposisi penjualannya tidak bergantung pada pasar overseas, target penjualan masih bagus.

Komposisi target penjualan, lanjut Bagus, adalah faktor yang sangat mempengaruhi pasar. Biasanya developer yang fokus pada target penjualan luar negeri (overseas market) menerapkan komposisi sebesar 55% untuk pasar lokal berbanding 45% untuk overseas. Ini adalah angka maksimum yang diterapkan oleh pemerintah Australia.

“Sementara kami, Crown Group berada pada komposisi antara 80% – 20% atau maksimal 70% – 30%. Itu sebabnya tidak terlalu berdampak karena pasar lokal di Australia masih kuat. Seperti di Sydney, tahun depan diprediksi kenaikan harga bisa mencapai angka 8 persen. Apalagi di kawasan-kawasan Central Business District-nya, demand masih kuat.”

“Pemerintah Australia juga terus mendorong potensi pasar dan optimis ekonomi Australia stabil. Buktinya Bank Federal Australia menetapkan suku bunga rendah yang manfaatnya jelas bagi pembeli di tahun 2018 nanti dan ini sangat mungkin terus berlanjut,” jelas Bagus.

Sebelumnya, beberapa media global melaporkan bahwa Beijing telah melakukan kontrol ketat atas pengeluaran investasi luar negeri pada bulan November lalu. Kebijakan ini dirasa cukup berdampak pada pasar real estate global, termasuk Australia.

Pemerintah China telah memberi batasan ketat investasi di luar negeri dengan memantau secara teliti transfer modal di atas USD 5 juta. Pemerintah China juga telah memberi batas kuota tahunan devisa menjadi USD 50.000 sejak Juli, dan bank-bank China diminta untuk melaporkan transfer luar negeri oleh perorangan sebesar USD 10.000 atau lebih.