Pembatasan Capital Outflows China Guncang Pasar Real Estate Australia

Share on Facebook
Tweet on Twitter

PROPERTY INSIDE – Kebijakan Beijing memberlakukan kontrol pengeluaran investasi luar negeri pada bulan November lalu, cukup berdampak pada pasar real estate Australia.

Seperti diketahui, China merupakan negara dengan kontribusi terbesar untuk pembelian properti-properti di Australia. Menurut analisis Credit Suisse antara bulan Januari dan Juni tahun ini, pembeli China menyumbang hampir seperempat dari semua pembelian baru untuk real estate yang dibangun di Sydney. Sementara di Melbourne angkanya mencapai sekitar 15 persen.

Pada pekan lalu Global Property Guide melansir, pemerintah China telah memberi batasan ketat investasi di luar negeri dengan memantau secara teliti transfer modal di atas USD 5 juta. Perbankan di China akan meminta penjelasan rinci dari nasabah yang akan membeli mata uang asing. Mereka harus menjelaskan penggunaa dana tersebut.

Pemerintah China memberi batas kuota tahunan devisa menjadi USD 50.000 sejak Juli, dan bank-bank China diminta untuk melaporkan transfer luar negeri oleh perorangan sebesar USD 10.000 atau lebih.

Pembatasan arus keluar modal (capital outflows) ini telah menyulitkan konsumen dari China untuk menyelesaikan investasi properti mereka di Australia. Kebijakan ini juga memaksa mereka untuk menjual rumah-rumah mereka kontrak di Australia dengan diskon yang tinggi.

Akibatnya, pengembang dan agen real estat Australia harus menawarkan potongan harga kepada pembeli lokal agar dapat mendorong mereka untuk memanfaatkan kondisi ini. Bank sentral Australia, yang khawatir dengan pelemahan pasar dalam negeri mereka, turut mengabil kebijakan yang lebih ketat dengan membatasi pinjaman rumah.

Laporan ini juga menyebut bahwa pasar real estate Australia sedang mengalami tren perlambatan sejak tahun 2015 lalu. Sydney, pasar real estate paling berpengaruh di Australia, telah melaporkan penurunan harga rumah sebesar 0,7% di bulan November, ini adalah penurunan berturut-turut dalam tiga bulan terakhir.

Investasi oleh perusahaan dan individu dari negeri tirai bambu itu dituduh telah mendorong kenaikan harga real estate di beberapa negara, termasuk Australia, Kanada, Inggris dan Selandia Baru. Beberapa dari pemerintah negara-negara tersebut telah mengambil langkah-langkah kebijakan untuk mengendalikan pembeli asing.

Photo source: Mark Merton