Jangan Menggurui Pasar & Bersahabat dengan Teknologi

Share on Facebook
Tweet on Twitter
Andreas Nawawi (photo doc pribadi)

PROPERTY INSIDE – Ayahnya wafat saat dia berusia 14 tahun, masih sangat muda untuk kehilangan figur orang yang dicintai sekaligus pembimbing dan panutan hidup. Moment ini menjadi titik awal perjuangan hidup seorang Andreas Nawawi. Tidak kehilangan asa, tidak kehilangan semangat, Andreas menempa dirinya sendiri menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.

“Karena anak sulung, saya benar-benar merasakan bagaimana harus berjuang melakukan segala hal sendirian. Mengurus sekolah, membantu Ibu untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan adik-adik, juga memilih langkah hidup.”

“Karena saya kehilangan Bapak, tempat dimana seharusnya saya dapat berbagi keluh kesah. Maka saya pernah berjanji dalam hidup saya, suatu saat jika diizinkan Tuhan, saya ingin menjadi Bapak bagi banyak orang,” ujar Marketing Director Paramound Land itu.

Ternyata memang Tuhan mengizinkan doa Andreas. Kini, di tengah kesibukan profesinya, Andreas masih sempat berbagi ilmu dengan menjadi Bapak asuh di Yayasan Nurkhazanah yang didirikannya.

Yayasan ini fokus memberi pelatihan, bimbingan dan bantuan modal yang bertujuan membangun karakter entrepreneur bagi penggiat UMKM (usaha kecil mikro & menengah). Saat ini, foundation ini sudah menaungi sekitar 200 anak asuh dengan berbagai bidang usaha.

Meski mengaku awal berkenalan dengan dunia properti karena “dijorokin” (didorong,-red), terbukti berbagai produk properti yang pernah ditanganinya mencapai sukses besar. Bahkan tidak sedikit kompetitor memuji strategi bisnis jebolan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

“Awalnya Bapak Eddy Sindoro (Chairman PT Paramount Enterprise International) mengenalkan saya kepada Bapak Mochtar Riady (Founder Lippo Group). Lalu saya berkarir di perbankan milik Lippo Group, hanya tujuh bulan di sana lalu tiba-tiba saya ditantang untuk menangani proyek Lippo Cikarang, sejak itulah saya komit dengan dunia properti,” kenang Andreas.

Malang melintang di industri ini, Andreas menyimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam industri properti adalah hal krusial. Menurutnya, dengan teknologi semua lini dalam bisnis menjadi mudah, dengan teknologi keterbatasan manusia bisa terbantu dan dengan teknologi pula kita dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Kepada Property Inside, Andreas menjelaskan garis besar penerapan bisnis properti berbasis teknologi. Tak hanya itu, kami juga berbincang mengenai strategi marketing Paramount Land dan kegiatan sosial beliau, berikut petikannya;

“Pemanfaatan teknologi dalam industri properti adalah hal krusial. Dengan teknologi, semua lini dalam bisnis menjadi mudah. Dengan teknologi, keterbatasan manusia bisa terbantu. Dengan teknologi pula, kita dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik”

Andreas Nawawi

Kami mengutip dari quote yang pernah And lontarkan, “Jangan pernah menggurui pasar, karena akan menguras energi”, maknanya seperti apa?

Itu awalnya seperti ini, pada sebuah seminar yang saya hadiri bersama Pak Ali Tranghada (Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch,-red), ada yang bertanya, “Apakah Anda pernah memperhatikan apa yang dikerjakan kompetitor, dan apa yang dilakukan untuk menghadapinya?”

Saya langsung menjawab, saya tidak pernah mempelajari kompetitor dan tidak memikirkan apa yang dilakukan kompetitor. Yang saya pelajari adalah pasar, apa yang dilakukan pasar saya harus tahu, mereka punya kesulitan, punya peluang apa, apa yang menjadi trend pasar, saya harus tahu.

Apapun yang berkaitan dengan pasar saya harus tahu. Intinya, pelajari, amati dan analisa semua hal yang terbaik untuk calon konsumen kita. Karena itu saya tidak pernah berpikir tentang hal-hal untuk menggurui pasar, saya hanya menawarkan sesuatu yang dapat menjadi solusi dari permasalahan.

Saya menawarkan sesuatu agar masalah teratasi, agar investasi mereka bertumbuh baik. Inikan sebenarnya berkaitan dengan ilmu dasar marketing itu sendiri, how to satisfy customer needs, and takes out of the problem. 

Dalam penerapannya, jika mengikuti keinginan pasar, cost yang dikeluarkan pengembang tidakkah akan menjadi besar? Bagaimana strateginya agar selalu seimbang?

Nah, di sinilah salah satunya teknologi berperan. Jadi menurut saya, sekarang ini zaman dimana teknologi bergerak sangat pesat, teknologi berperan sangat penting dalam semua lini. Kalau dulu mungkin saya susah sekali mencari jawaban dari pertanyaan Anda ini.

Tapi sekarang dengan adanya teknologi, semua dapat diatasi. Yang paling gampang begini, saya ambil contoh, tahun 2013 bank mengeluarkan peraturan LTV (loan to value, -red), dan waktu itu juga keadaan pasar kurang baik.

Saat itu kami di Paramount menawarkan rumah tipe kecil, memang kami bukan yang pertama membangun ini, tapi karena timing yang tepat jadi menjadi sangat luar biasa. Pada minggu pertama kami menawarkan hanya 98 unit, hanya dalam waktu singkat permintaan mencapai 1400 unit.

Dengan lonjakan permintaan hingga ribuan unit tersebut peran teknologi sangat membantu, kami sangat dimudahkan, mulai dari mencari ide design di internet, menggambar rumah dengan berbagai aplikasi arsitek yang sudah ada, demikian juga program-program lain yang berbasis teknologi. Kalau dulu, mungkin kami repot dengan lonjakan permintaan tersebut, dan cost juga tentu besar.

Strategi yang diterapkan Paramount Land selalu diterima pasar, dan bahkan dipuji oleh para praktisi properti dan kompetitor Anda. Contohnya custom home, dari mana ide dan inspirasinya?

Inspirasinya dari mobil Ford Mustang yang legendaris itu, bagaimana pabrikan Ford Motor Company mengikuti keinginan konsumen dengan memberi keluasaan konsumen Mustang untuk mendisain mobilnya sendiri.

Mau pintunya seperti apa, boleh, mau knalpotnya empat, boleh,  ya seperti itulah. Custom home kami di sini memberi keleluasaan itu. Luar biasanya, kami menerima sebanyak 1.295 tipe varian rumah.

Wah, terbayang bagaimana repotnya kalau itu terjadi saat dulu. Di sinilah teknologi berperan sangat penting.  Seperti yang saya katakan tadi, mulai dari design, dan lain sebagainya dengan komputerisasi saat ini semua selesai, apa sih yang tidak bisa dengan komputer sekarang ini.

Nah, untuk pengaplikasian teknologi secara spesifik untuk rumah yang memudahkan penghuni, kami memiliki sebuah produk yang kami beri nama advance home, selangkah lebih maju dari smart home.

Sebagai orang teknik yang pastinya lebih sistematis dan sedikit kaku, bagaimana Anda menguasai ilmu marketing dan pembangunan SDM yang tentunya lebih fleksible?

Ada masa waktu menjadi titik balik hidup saya, saat saya kehilangan ayah di usia 14 tahun. Untuk survive dalam kerasnya hidup, maka saya harus belajar. Dari sana saya tahu bagaimana marketing yang baik dan secara langsung membangun karakter diri.

Karena anak sulung, saya benar-benar merasakan bagaimana harus berjuang melakukan segala hal sendirian. Mulai dari mengurus sekolah, membantu Ibu untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan adik-adik, juga memilih langkah hidup. Karena saya kehilangan Bapak, tempat dimana seharusnya saya dapat berbagi keluh kesah.

Maka saya pernah berjanji dalam hidup saya, suatu saat jika diizinkan Tuhan, saya ingin menjadi Bapak bagi banyak orang. Maka saya mendirikan Yayasan Nurkhazanah, dimana saya memiliki peluang membagi apa yang saya punya untuk banyak orang.

“Bagaimana pabrikan Ford Motor Company mengikuti keinginan konsumen dengan memberi keluasaan konsumen Mustang untuk mendisain mobilnya sendiri.”

Apa latar belakang pendirian foundation ini?

Jadi latar belakangnya itu, saat krisis tahun 1998. Saat itukan perekonomian kita parah dan terseok-seok sekali. Saat itu ada jutaan orang di PHK terpaksa harus menghadapi keadaan yang tidak mereka inginkan. Masa-masa itu menjadi pembelajaran, dan di awal tahun 2001 saya terbuka mata melihat bahwa orang-orang yang di PHK itu menjadi orang yang berani.

Mereka mulai menjadi entrepreneur, dan itu berhasil. Hari ini mereka menjadi pengusaha-pengusaha hebat.  Lalu saya berpikir, “Apakah butuh krisis lagi seperti 1998 agar kita terpacu menjadi entrepreneur? Atau kita sadarkan anak-anak muda Indonesia untuk memiliki jiwa itu?”

Di yayasan ini saya mengajak semua, tidak hanya anak muda untuk menjadi pengusaha. Para pensiunan juga ikut bergabung agar tetap produktif. Ini penting agar bisa membuka lapangan kerja. Kalau ingin membangun Indonesia, bangunlah dari diri sendiri dengan menjadi pengusaha.