PROPERTY INSIDE – Tren gaya hunian coliving space belakangan ini terus meningkat, generasi milenial mulai melirik tren yang sedang berkembang pesat di dunia itu. Di Bali, konsep ini sudah diterapkan sejak dua tahun lalu.
Adalah Alexis Dornier, seorang arsitek berkebangsaan Jerman telah mengubah sekelompok blok apartemen tua di Ubud, Bali menjadi coliving community development. Dornier, yang telah bermukim di Bali ini sudah menyelesaikan proyek tersebut sejak tahun 2015 lalu.

Roam adalah sebuah brand hunian coliving yang memberi kesempatan kepada para penghuni untuk beralih tinggal dalam komplek hunian bersama yang berbeda di seluruh dunia. Roam Ubud, merupakan salah satu dari dua lokasi pertama yang dibuka oleh brand tersebut, bersamaan dengan yang lainnya di Miami.
Roam Ubud menawarkan ruang lounge di puncak gedung, kolam renang, dapur komunal yang besar, dan taman barbekyu. Setiap kamar memiliki kamar mandi pribadi, dengan tempat tidur queen size atau king size. Roam menyediakan layanan pembersihan untuk seprai dan handuk, sehingga penghunu benar-benar menikmati privasi dan kenyamanan seperti di rumah sendiri.

“Visi tempat ini adalah untuk menciptakan komunitas, sebuah model mikro society di mana orang menemukan ruang mereka sendiri untuk privasi, selain menjadi tempat edukasi bersama, berkumpul, exchange, dan movement,” jelas Donier.
Proyek ini mengikuti model standar coliving complex, yang berfungsi seperti persilangan antara perumahan mahasiswa dan hotel. Penghuni menyewa kamar servis, yang juga memiliki ruang tamu dan sumber daya komunal.

Lantai dasar dibangun dengan banyak ruang dan dapur komunal yang besar yang berada di sekitar kolam dengan sistem penyaringan UV yang ramah lingkungan. Ruang kerja, restoran dan area untuk acara-acara besar berada di bagian atap yang memberikan pemandangan indah ke seluruh kawasan.
Penempatan antara area umum di atap, ruang komunal di halaman dan privasi unit pribadi, memberi perbedaan yang jelas antara area. Menunjukkan bahwa sang arsitek sangat cerdas menempatkan posisi ruang.

Dornier menciptakan ruang yang menggabungkan desain tradisional Bali dengan detail domestik yang umum di seluruh dunia. Lantai dasar dan lantai bangunan berisi serangkaian kamar tidur, masing-masing dengan kamar mandi dan teras pribadi.
Sementara wilayah komunal sebagian besar terletak di atap terbuka, namun terlindung di bawah kanopi. Ini termasuk dek berjemur, kafe, wine bar, restoran, lounge dan area yoga.

“Mengambil model senyawa tradisional Bali ke tingkat yang lain, perasaan kekeluargaan selalu menjadi pendorong utama dalam desain Roam. The Roam community menemukan tempat kolektif dan kebersamaannya yang akan tumbuh sepanjang waktu,” ,” kata sang arsitek.
Roam Ubud menawarkan harga menginap sekitar USD 57.14 per-malam yang sudah termasuk di dalamnya fasilitas private room & bath, community, coworking space, wifi, Yoga space, room cleaning, dan lain-lain.













