PROPERTY INSIDE – Bentuk hotel yang adaptif terbentuk dari struktur ‘tulang’ yang membentang sepanjang satu kilometer, menjadikannya struktur aquatik independen dari bagian orthogonal dan diagonal.
Setiap bagian dari struktur aquatik independen ini dapat ‘melepaskan’ dirinya dari kapal induk dan dapat berlayar secara individual namun tetap dalam jarak yang ditentukan. Hal ini ditujukan untuk memberikan kesempatan para tamu untuk menjelajahi area yang diinginkannya.
Hotel ini dilengkapi dengan panel surya terintegrasi yang dapat memasok kebutuhan energi dari aktivitas di hotel. Tak hanya itu, hotel ini juga dapat menampung air hujan yang kemudian diolah hingga dapat digunakan sebagai air bersih. Teknologi ramah lingkungan lainnya ialah seperti perkebunan sayur yang juga mengambang.
Berbaris linear bak struktur tulang belakang manusia, proyek hotel konseptual ini memiliki kamar berbentuk seperti kapsul dengan fasilitas mewah yang saling terhubung secara individual. Struktur bangunan yang didesain dapat mengapung di atas laut ini bisa bergerak, walaupun lambat, mengikuti arus laut. Hotel ini bergerak pada kecepatan yang lebih lambat dari perahu. Berbeda dari kapal pesiar, jika Anda menginap di hotel ini, Anda tak akan tahu akan sampai dimana Anda berlabuh.

Oleh karena tak ada nahkoda yang mengarahkan serta pergerakannya hanya mengikuti arus laut yang mengalir, pengalaman yang ingin diberikan pada para tamu adalah perjalanan yang berkesinambungan dan tanpa tahu arah tujuan. Tapi, Morphotel akan berhenti untuk waktu tertentu di kota-kota yang ditemui sepanjang perjalanan.
The Morphotel menggunakan laut tidak hanya sebagai media untuk memindahkan wisatawan dari satu tempat ke tempat lain, seperti kapal pesiar, tetapi juga untuk menemukan tempat-tempat yang tidak diketahui. Hotel ini menghindari konsep tradisional kapal pesiar, yaitu konsumsi bahan bakar pada kecepatan jelajah rata-rata 20 node, adalah 470 liter per kilometer.
Dilengkapi berbagai fasilitas mewah seperti bioskop, taman, restoran, kolam renang dan bahkan helipad, mungkinkah ini adalah sebuah awal berakhirnya dominasi kapal pesiar untuk wisata laut?






















