INTERVIEW: Indra Widjaja Antono, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land

By 25 February 2018In Depth, News

PROPERTY INSIDE – Apa yang pertama kali terlintas jika pembaca diminta menyebutkan siapa pengembang apartemen yang paling diingat? Dapat dipastikan bahwa Agung Podomoro Land (APL) masuk dalam daftar ingatan Anda. Property Inside telah membuktikan dengan melakukan survey kecil pada masyarakat Jakarta, sebagian besar responden menyebut nama perusahaan ini di urutan pertama.

Meski perusahaan yang sangat konsen di industri properti ini telah merajai proyek-proyek apartemen di Indonesia, namun tidak mudah membangun brand image seperti ini. Tidak hanya terkenal di masyarakat, bahkan konsep-konsep yang mereka kembangkan banyak ditiru.

Mengapa Agung Podomoro Land begitu lekat dalam ingatan masyarakat? Tentu bukan perkara mudah menjadi terkenal dan terpercaya. Indra Widjaja Antono, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land adalah salah satu nama di balik kesuksesan perusahaan ini mendapat tempat di masyarakat Indonesia.

Selama 15 tahun memegang posisi kunci sebagai Direktur Marketing di group pengembang ini, tak bisa dipungkiri Indra dan perusahaannya telah memberi warna tersendiri bagi industri properti.Hebatnya lagi, dirinya diberi amanat besar ini di usia 33 tahun, usia yang sangat muda untuk sebuah perusahaan properti kelas atas.

Namun pria yang memiliki segudang filosofi ini tidak memandang usia menjadi penghalang bagi seseorang untuk tampil memimpin. Bahkan Indra terus memantau bawahannya, mencari siapa “rising star” generasi selanjutnya yang mampu menerima kesempatan besar seperti dirinya.

“Saya telah diberikan opportunity yang sangat besar, mengapa saya tidak memberikan hal yang sama juga kepada orang lain,” ungkapan sederhana namun bermakna cukup dalam ini kami catat saat wawancara ekslusif dengan Indra Widjaja Antono beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancara lengkap Property Inside dengan Indra;

Survey kecil yang kami lakukan menjawab bahwa perusahaan Anda sangat lekat di masyarakat. Strategi apa yang dilakukan Agung Podomoro Land hingga bisa seperti ini?

Memang dalam 10 tahun terakhir ini kita semua melihat track record APL mengembangkan begitu banyak produk properti, ini secara tidak langsung membangun brand sendiri. Yang paling utama sebenarnya adalah membangun kepercayaan konsumen. Ketika konsumen kami puas dengan produk APL, otomatis ini menjadi media promosi.

Selain itu, kami juga melakukan branding ke media-media yang tidak dilakukan oleh developer lain seperti kebioskop, provider dan lain-lain. Kami juga melakukan branding dengan masuk dalam komunitas-komunitas masyarakat. Dengan begitu maka bila masyarakat ingat apartemen atau superblok, itu ya Agung Podomoro.

Dalam hal pengembangan bisnis, mengapa APL tidak menyasar bisinis lain di luar properti?

Ada hal yang membedakan Agung Podomoro dengan yang lain, yakni inti dari bisnis kami betul-betul fokus di industri properti dan kami kembangkan properti sesuai dengan porsinya. Kami tidak membangun pabrik semen, tidak membangun pabrik keramik. Kami benar-benar fokus, nah inilah yang membuat kami mampu konsisten menjaga performace perusahaan.

Mana yang lebih didahulukan, membangun brand image atau membangun sales marketing?

Bisnis properti adalah bisnis kepercayaan. Ketika seseorang memutuskan untuk membeli atau berinvestasi properti, mereka belum mendapatkan properti itu langung secara fisik, masih berupa lahan. Ketika orang sudah percaya kepada kita, tentu ia akan membeli kembali, karena telah terbukti mereka mendapat benefit dari properti tersebut. Brand memang utama dalam bisnis properti, patron masyarakat Indonesia masih kepada brand. Perlu dicatat, bukan hanya di industri properti saja, di industri lain pun branding memegang peranan penting.

Apa yang dilihat APL sebelum memetakan lokasi proyek dan jenis produk properti yang akan dibangun pada suatu kawasan?

Sebelumnya kita harus mempelajari konsep apa yang cocok untuk dibuat pada area tersebut. Saya bersama tim dan juga dengan manajemen setiap hari melakukan riset. Misalnya, memantau data seperti stock exchange yang setiap hari fluktuatif. Dari sana kita dapat melihat mengenai kawasan yang telah mejadi sorotan kami, bagaimana perkembangan suatu kawasan dengan data yang ada.

Berdasarkan pengalaman, kami dapat membuat kesimpulan mengenai bagaimana perkembangan kawasan tersebut nantinya. Kita ambil contoh Batam, infrastrukturnya sangat luar biasa, merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Di sana banyak sekali WNA, mengapa kita tidak melihat peluang itu? Kita bangun hunian dengan gaya atau lifestyle mereka.

APL selalu menjadi trendsetter, bahkan banyak konsep-konsep properti perusahaan Anda yang ditiru pengembang lain. Bagaimana APL menerapkan konsep sebelum membangun produk tersebut?

Dalam memutuskan membangun proyek properti dibutuhkan analisis yang betul-betul riil, melakukan suatu riset mendalam. Contoh, konsep superblok, memang sekarang banyak yang membuat superblok di Jakarta, tapi kami sudah lama memulai. Bahkan kini APL dengan konsep superbloknya telah merambah ke kota- kota selain Jakarta.

Seperti prinsip Pak Trihatma, dalam membangun, kita harus memperkuat suatu kawasan yang sebelumnya memang telah ada magnetnya. Seperti di superblok Podomoro City ini, kita memperkuat properti-properti yang telah ada sebelumnya. Bukan bertujuan untuk mematikan, tetapi mendukung satu sama lain, yang nantinya nilai kawasan ini akan semakin tinggi.

alt text

Ada yang menggelitik kami, seperti rusunami di Kelapa Gading. Mengapa membangun rusunami padahal disana merupakan prime area bukankah lebih menguntungkan membangun apartemen high-end? Apakah ini salah satu bentuk tanggung jawab sosial Agung Podomoro Land?

Kami melihat di daerah itu banyak industri dan pekerjanya tinggal di daerah-daerah yang jauh. Membutuhkan waktu 2-3 jam untuk mencapai tempat kerja mereka. Mereka tidak mampu membeli properti di dekat tempat mereka bekerja. Setelah kami survey, ternyata minat mereka sangat kuat untuk memiliki hunian di sana dan kami datang menawarkan konsep hunian high rise yang tidak mahal.

Memang keuntungan yang di dapat tidak sebanding dengan membangun hunian apartemen dengan konsep mewah. Tetapi dalam konsolidasi, secara group kita juga harus memberikan sesuatu yang berbeda kepada masyarakat. Di dalam membangun properti, kita tidak dapat memilih untuk kalangan atas saja. Kita juga harus mempersiapkan dari bawah hingga atas, sebab semua lapisan masyarakat membutuhkan hunian, bukan kalangan tertentu saja.

Yang dilakukan APL dalam mendukung pemerintah menyediakan hunian bagi masyarakat menengah dan bawah kurang terekspos. Kenapa?

Kami akui Agung Podomoro Land kurang dalam membranding proyek CSR (corporate social responsibility) kami, padahal kami telah membuat sekitar 25.000 unit rusunami dan 65.000 unit hunian menengah. Mungkin kami akan lebih meningkatkan branding di CSR ini, agar masyarakat juga mengetahui bahwa Agung Podomoro tidak hanya konsen di bisnis saja, tetapi juga peduli dengan kebutuhan kalangan bawah akan hunian.

Misi pribadi untuk industri properti di Indonesia?

Saya ingin Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan kekuatan SDM yang begitu luar biasa serta bahan baku, dengan pangsa domestik yang sangat kuat. Saya yakin kita bisa menjadi tuan rumah di properti kita sendiri, tak ada yang bisa membantu selain kita sendiri. Pangsa pasar di kalangan bawah itu sangat besar sekali, tetapi mengapa kita tidak menggali hal ini.

Ingat, kebutuhan hunian masyrakat kita sangat tinggi, ini tanggung jawab bersama yang harus kita penuhi. Karena rumah-lah awal dimana karakter suatu bangsa dibentuk. Semua berawal dari rumah. Ada salah satu filosofi dari orang tua saya, manusia itu cikal bakalnya dari tempat mereka berteduh, teduh secara fisik, juga teduh secara hati. Dengan keteduhan tersebut akan timbul kreatifitas dari diri mereka sendiri. Itu selalu saya ingat, saya bangga kepada orang tua saya.

Bagaimana Anda menyelaraskan visi tersebut dengan visi perusahaan?

Saya akui jiwa saya memang di properti, sejak awal saya memang telah berkecimpung di bidang properti. Suatu keberuntungan saya dapat bergabung di Group Agung Podomoro ini. Perusahaan telah memberikan suatu delegasi kepercayaan yang luar biasa, saya menjadi Marketing Director di umur yang boleh dibilang masih muda. Kami ingin memberikan kontribusi yang sesuai dengan kemampuan kami.

Kami tidak memaksakan diri membuat industri pendukung properti, segala macam kebutuhan pembangunan proyek masih kami beli, dengan cara itu secara tidak langsung berkontribusi bagi industri lain untuk terus bergerak. Kami ingin berkontribusi kepada Indonesia dengan cara kami.

Apa filosofi hidup Anda?

Dulu saya bercita-cita menjadi pilot, bahkan sampai sekarangpun saya masih selalu takjub dengan pilot dan pesawat. Asal tahu saja, saya betah berlama-lama di airport, saya orang paling norak kalau sudah di airport..hahaha. Saat terbang saya selalu menikmati, bahkan saat turbulance, nikmati saja. Jangan khawatir turbulence, di depan pasti cerah, jangan mempermasalahkan kesulitan.

Saat mampu melewati kesulitan, membuat kita semakin kuat. Filosofi pilot juga selalu saya terapkan dalam memimpin tim marketing perusahaan ini. Seorang pilot bertanggung jawab pada penumpangnya dan pada Tuhan. Vertikal dan horizontal tanggung jawabnya, artinya tanggung jawab kita lakukan yang terbaik untuk orang-orang di belakang kita dan serahkah hasilnya pada Tuhan dengan doa.

Apa goal yang belum dicapai saat sekarang ini?

Saya ingin membawa Agung Podomoro bisa diterima di pasar di seluruh kota Indonesia. Setelah kuat di skala nasional barulah kita go international. Saya juga ingin ada tranformasi kepada generasi berikutnya dengan memberikan mereka kesempatan. Untuk membangun mereka ini saya mengibaratkatkan musik jazz, boleh berimprovisasi tetapi tetap dalam koridor yang sudah ditetapkan.

Share this news.

Leave a Reply