Bisnis Perhotelan Bakal Bertumbuh, Ini Indikasinya

By 7 July 2018Property News

PROPERTY INSIDE – Potensi bisnis perhotelan dalam negeri diyakini akan mencatat perkembangan yang cukup signifikan. Salah satu yang menjadi indikasi pertumbuhan positif ini adalah menjamurnya banyak agen-agen perjalanan dan booking hotel daring (online).

Kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi yang mendorong pembangunan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata juga dapat menjadi stimulus berkembangnya bisnis perhotelan di tanah air.

Seperti diketahui, pemerintah berupaya mendorong perkembangan Borobudur, Danau Toba, Bromo Tengger Semeru, Pulau Komodo, Kepulauan Seribu, Tanjung Kelayang, Mandalika, Wakatobi, Morotai, dan Tanjung Lesung demi meningkatkan kunjungan wisatawan manca negara.

Baca juga: Keindahan “Hotel Berhantu” Tommy Soeharto di Bali

Bahkan Colliers International Indonesia mencatat, 6 hotel mewah akan hadir di Bali hingga 2019 mendatang. Keenamnya adalah Como UMA Canggu, Jumeirah Hotel di Jimbaran, Solis Capella Resort Hotel di Ubud, Hyatt Regency Bali di Sanur, Waldorf Astoria Bali di Uluwatu dan Shangri-La Nusa Dua Resort and Spa.

Catatan ini tentu membawa angin segar bagi perkembangan bisnis perhotelan. Industri perhotelan juga tidak hanya ditopang oleh kehadiran turis asing, para pelancong lokal juga merupakan pasar domestik yang menjanjikan.

Ignatius N.Satriyo, Direktur Bintang Megah Wirasakti perusahaan properti yang bergerak di bidang perhotelan, menyebut bahwa indikator-indikator tersebut membuat para pebisnis properti hospitality cukup optimis melihat peluang pasar dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Inilah 5 Hotel Terbaik dan Instagrammable di Dubai

“Untuk beberapa lokasi wisata tertentu memang didominasi oleh turis asing, namun sebagian lainnya di dominasi turis domestik. Kawasan wisata ke arah Selatan Jakarta seperti Bandung, Garut dan beberapa lainnya terus dipadati wisatawan domestik,” ungkap Satriyo kepada www.PropertyInside.id, Jumat (06/07).

Menjamurnya perusahaan start-up perjalanan wisata dan booking hotel online, menurut Satriyo, menunjukkan bahwa kebutuhan urban lifestyle orang Indonesia bertumbuh. “Kelas menengah kita, khususnya daerah Jabodetabek membutuhkan hotel-hotel yang representatif di kawasan-kawasan wisata yang dekat dan mudah dijangkau.”

“Jika pemerintah komit dan konsen untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus ini, maka pemerintah harus memberi stimulus dan mendorong investor dalam negeri untuk andil di dalamnya.”

Ignatius N.Satriyo – Direktur Bintang Megah Wirasakti

Selain itu, generasi milenial saat ini menjadikan pelesiran sebagai salah satu kebutuhan mereka, dan jumlahnya sangat besar. Menurut Satriyo, segmen pasar ini membutuhkan hotel yang tidak hanya nyaman namun juga memiliki desain yang menarik. “Desain harus instagramable-lah istilahnya,” kata dia.

Baca juga: Pelajari Hal ini Sebelum Berinvestasi Kondotel

Meski demikian, Satriyo mencatat bahwa para pebisnis hotel tidak boleh hanya mengandalkan pasar wisata semata. Hotel yang seharusnya dibangun juga dapat menampung kebutuhan para bisnis atau konsumen dari kalangan corporate.

“Target market wisata dan bisnis sebaiknya dikombinasikan, di Bandung misalnya, okupansi hotel saat weekend cukup tinggi, lalu bagaimana dengan weekday? Inilah yang harus disiasati dengan menyasar segmen para pebisnis, misalnya para pedagang Malaysia yang kulakan (membeli barang dagangan dalam jumlah besar,-red) ke Bandung.”

“Hotel juga harus menyediakan fasilitas MICE (Meeting, Incentives, Convention, Exhibition), ini harus ada karena captive market-nya juga ada, perusahaan-perusahaan yang ingin mengagendakan even-even tertentu.”

Baca juga: Bernilai Fantastis, Proyek-proyek Properti ini Mangkrak dan Angker

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, Bintang Megah Wirasakti sendiri dalam waktu dekat ini sedang melakukan re-branding sebuah hotel bintang dua di Bandung. Re-branding diperlukan untuk menangkap peluang pasar turis domestik dan milenial, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Selain itu, perusahaan ini juga sedang menggarap pembangunan hotel bintang 4 di kota Bandung yang pengerjaan konstruksinya akan dimulai pada akhir 2018. “Potensi bisnis perhotelan di Bandung opportunity-nya masih bagus, dan kami menangkap peluang itu,” jelas Satriyo.

Ke depan, Bintang Megah Wirasakti juga sedang membidik beberapa kawasan yang memiliki potensi wisata besar untuk bisnis ini. Salah satunya Labuan Bajo, Nusat Tenggara Timur yang telah ditetapkan pemerintah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Wisata dengan membangun Hotel & Resort.

Baca juga: 26 Negara Ambil Bagian dalam Ajang Hotelex Indonesia & Finefood Indonesia 2018

Secara umum Satriyo melihat bahwa potensi bisnis perhotelan di tanah air akan berkembang dalam beberapa tahun mendatang jika pemerintah konsen pada rencana pembangunan 10 KEK Wisata yang telah digaungkan. Dari 10 KEK tersebut, 4 diantaranya tengah menjadi prioritas, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika dan Labuan Bajo.

“Jika pemerintah komit dan konsen untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus ini, maka pemerintah harus memberi stimulus dan mendorong investor dalam negeri untuk andil di dalamnya. Berikan kemudahan berinvestasi dan utamakan kepada investor domestik, untuk bisnis ini jangan sampai perusahaan asing yang mendahului.”

Share this news.

Leave a Reply