PROPERTY INSIDE – Beberapa produk material atau bahan bangunan perlahan-lahan harganya mulai terkerek akibat melemahnya rupiah terhadap dollar.
Seperti harga semen per Sak naik Rp4 ribu kenaikan ini karena mengikuti kenaikan batu bara sebagai sumber energi yang juga tersundul naik.
Akibatnya, pelemahan rupiah ini berpengaruh kepada harga jual properti. Kenaikannya bisa mencapai 10 persen. Michael Kurniawan, Direktur Utama PT Frymar Pratita Agung mengatakan, kenaikan harga ini tidak bisa dihindari, dan kita tetap harus komit untuk membangun walau harga material naik.
Baca juga : Efek Dolar, Pasar Properti Menahan Diri
Saat ini PT. Frymar Pratita Agung sedang mengembangkan perumahan kelas menengah bawah di Cikupa, Tangerang, Banten. Dirinya mengaku juga terganggu proyeknya akibat naiknya harga bahan bangunan seperti besi, semen dan lainnya.
Menurut Michael, siklus perekonomian Indonesia berdasarkan pengalaman terjadi setiap satu dekade. “Contohnya, pada 1997-1998 kemudian terjadi kembali di 2008 namun fundamental ekonomi kita cukup bagus. Saya berharap rupiah kembali menguat dan ekonomi kembali normal,” ujar Michael.
Baca juga : Konsep Japanese di Cikarang Kian Kental
Tak hanya harga unit yang naik. Developer saat ini juga dipusingkan oleh daya beli yang juga ikut melemah. “Kondisi ini membuat beberapa developer menahan diri meluncurkan proyek baru dan proyek yang sedang berjalan saya berharap tidak molor jadwalnya,” imbuh Michael.
Kondisi ini diyakini Michael bisa berlanjut hingga tahun depan karena di 2019 mendatang akan ada hajatan politik. Kondisi ini sedikit banyak akan mengerem laju bisnis properti.
Michael berharap, semoga di tahun politik nanti tidak berpengaruh pada perekonomian nasional dan khususnya sektor properti. Sektor properti menurut Michael sangat berperan penting karena menggerakan perekonomian, di dalamnya ada produk ikutan yang jumlahnya ratusan item produk material dan lainnya.




