Akibat Covid-19, 30 juta Pekerja Properti Terancam PHK

PROPERTY INSIDE – Pandemi covid-19 benar-benar mengancam industri properti yang memiliki banyak sektor-sektor turunan terkait. Apalagi industri properti tidak hanya didukung oleh sektor formal semata, namun juga didukung sektor non formal yang banyak berkaitan dengan industri padat karya ini.

“Jumlah tenaga kerja yang akan terdampak langsung ini jumlahnya sangat besar dan tak main-main. Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan,” ujar Ketua Bidang Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar.

Oleh sebab itu, dirinya khawatir terjadi skenario terburuk apabila seluruh bisnis properti ambruk lantaran tak dapat bertahan akibat melemahnya ekonomi, maka sebanyak 30,3 juta pekerja di bidang properti terancam di PHK (pemutusan hubungan kerja)

Baca juga: BI: Penjualan Properti Residensial Triwulan I Minus 43%

Seperti dilaporkan Tempo, dari 30,3 juta pekerja itu, sebanyak 18,7 juta bekerja di sektor pengembang non-MBR (hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah) dan non-Tbk. Lalu, 44 ribu lainnya di pengembang Tbk dan 327 ribu sisanya di pengembang MBR.

Kemudian, 3,8 juta orang bekerja di sektor properti yang terkait langsung dan 7,3 juta lainnya di sektor properti yang tidak terkait langsung.

Sanny menyebut, saat ini pengusaha tengah berupaya untuk megantisipasi adanya PHK massal dengan berbagai cara. Kebijakan ini sesuai dengan yang diminta oleh pemerintah agar pengusaha menahan adanya pemutusan hubungan kerja.

Baca juga: Ekonomi Lesu, REI: Pemerintah Harus Gerakan Industri Properti

Namun, sebagai kompensasi, pengusaha meminta pemerintah mendukung penuh sektor properti dengan memberikan sejumlah stimulus. Menurut dia, seandainya industri properti bertahan, keberadaannya akan berkontribusi mendongkrak langsung pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Apindo bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), sektor properti sepanjang 2019 telah memberikan sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 2,7 persen. Kontribusi ini dimungkinkan akan meningkat seandainya pemerintah memberikan kebijakan yang terintegrasi untuk pendanaan, perizinan dan pertanahan, perpajakan, hingga kepemilikan.

Baca juga: Penjualan Apartemen Jabodetabek Anjlok Hingga 75%

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo menuturkan, saat ini ada 175 sektor industri yang bergerak di bidang properti. Dalam situasi sekarang ini, kata dia, pergerakan sektor properti dalam negeri harus dioptimalkan untuk ikut kembali membangkitkan ekonomi.

“Industri properti Indonesia itu 90 persen kandungannya adalah lokal, bahkan 100 persen untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian,” tutur Hendro.

Share this news.

Leave a Reply