PROPERTY INSIDE – Bahasan potensi pasar milenial dalam industri properti menarik perhatian Ketua Kehormatan Real Estat Indonesia (REI), Lukman Purnomisidi.
Ketua DPP REI periode 2004-2007 saat ditemui di ICE BSD City menegaskan bahwa potensi milenial harus disikapi otoritas perbankan dengan memberikan berbagai kemudahan.
Saat ini stakeholder properti berjalan sendiri untuk meggrapa pasar milenial. Menurut Lukman, sebaiknya regulator harus membuat formulasi, skim-skim baru bagi generasi milenial agar mereka mampu memiliki rumah sendiri.
Baca juga: Kebutuhan Zaman Now, Kementerian ATR/BPN Digitalisasi Arsip Pertanahan
Lukman berkeyakinan meski anak muda makin sulit membeli rumah, namun mereka bisa diselamatkan dengan insentif khusus agar bisa membeli rumah dengan rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 500 juta,
“Mereka mampu kok mencicil Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Namun, harus diberi insentif supaya aware untuk membeli rumah dan tersadarkan kalau properti itu produk investasi,” imbuhnya.
Ketua DPP REI 2004-2007 itu berharap segera ada kebijakan di sektor perumahan untuk milenial agar bisa juga mengubah kebiasaan dan gaya hidup konsumtif mereka dan mengalihkan kesadarana akan kebutuhan atas hunian.
Baca juga: Jepang Masuk, Proyek Serpong Garden Apartment Bertransformasi
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata, mengatakan kelompok milenial berusia 25 hingga 35 tahun dengan rentang penghasilan antara Rp 8 juta hingga Rp 20 juta-an per bulan menjadi target pangsa pasar bagi industri perumahan.
Kelompok primer ini menurut Eman, nama panggilan Soelaeman merupakan target end-user. Mereka belum memiliki rumah karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk bayar uang muka pembelian rumah.
“Selama ini penghasilannya selalu habis untuk membiayai gaya hidup yang mahal seperti bergonta-ganti gawai, traveling ke lokasi tujuan wisata, atau hang-out di restoran dan kafe,” imbuh Eman beberapa waktu lalu.
Baca juga: Citra Living, Diminati Orang Dalam Hingga Arlines Crew dan Pebisnis
Sialnya lagi, kata Eman, kebanyakan dari generasi milenial yang telanjur punya gaya hidup mewah ini terbiasa bertempat tinggal di apartemen di tengah kota. Padahal penghasilannya tidak akan mampu mencicil atau sekadar membayar uang mukanya saja.
“Pertanyaannya, apakah generasi milenial ini mau menurunkan standarnya untuk membeli rumah di pinggiran kota,” imbuhnya
Menurut Eman, pemangku kebijakan dan pelaku usaha pembangunan perumahan harus memikirkan upaya penyediaan fasilitas hunian dengan pola kepemilikan bagi generasi milenial.
Baca juga: Carstensz Residence, Modern dan Banyak Kelebihannya
Pelaku usaha pengembangan perumahan harus membuat inovasi dengan menyediakan hunian seharga Rp 400 juta-an hingga Rp 600 juta-an bagi generasi milenial.
Hitungannya, rumah seharga itu dapat dibeli dengan cara mencicil kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan selama 15 tahun.
“Itu untuk generasi milenial dengan rerata penghasilan Rp 18 juta per bulan karena asumsi maksimal cicilan KPR adalah sepertiga gaji,” kata Presiden Federasi Realestat Dunia (FIABCI) Regional Asia Pasific ini.
Lalu, bagaimana dengan generasi milenial yang penghasilannya di kisaran Rp 8 juta-an? “Rata-rata penghasilan generasi milenial yang baru menyelesaikan pendidikan dan baru mulai bekerja adalah Rp 8 juta-an. Untuk kelompok ini harus disediakan fasilitas KPR dengan cicilan Rp 2,5 juta per bulan,” pungkasnya.




