Pandemi ini Adalah Jeda Bumi untuk Memulihkan Alam

By 12 April 2020Featured

PROPERTY INSIDE –  Perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh coronavirus pertama kali terlihat dari luar angkasa. Di langit di atas kepala kita menjadi biru, udara di paru-paru kita terasa segar dan bahkan tanah yang kita injak.

Saat jalan raya berkurang drastis aktivitas kendaraannya, dan pabrik-pabrik ditutup, polusi kotor menyusut di kota-kota dan pusat-pusat industri di setiap negara dikunci, Bumi menjadi  lebih bersih. Pandemi ini, tampaknya membuat Bumi dapat bernapas dengan lebih mudah.

Ketika negara-negara terkena pandemi ini, mulai dari Cina, kemudian Italia, sekarang Inggris, Jerman dan puluhan negara lain Bumi pun mengalami penurunan sementara karbon dioksida dan nitrogen dioksida sebanyak 40%. Ini tentu sangat meningkatkan kualitas udara dan mengurangi risiko asma, serangan jantung dan penyakit paru-paru.

Bagi banyak ahli, ini adalah gambaran sekilas tentang dunia tanpa bahan bakar fosil. Setelah beberapa dekade tekanan terus-menerus meningkat, jejak kaki manusia di Bumi tiba-tiba berkurang. Lalu lintas udara berkurang setengahnya pada pertengahan Maret dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.

Bulan lalu, lalu lintas jalan turun di Inggris lebih dari 70%, ke level yang sama saat The Beatles masih mengenakan celana pendek. Dengan gerakan manusia yang lebih sedikit, planet ini benar-benar tenang, “cultural noise” seolah berhenti.

Indeks lingkungan, yang terus memburuk selama lebih dari setengah abad membaik sementara. Di Cina, sumber karbon terbesar di dunia, emisi turun sekitar 18% antara awal Februari dan pertengahan Maret dengan pengurangan hingga 250 juta ton, setara dengan lebih dari setengah produksi tahunan Inggris.

Eropa diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 390 juta ton. Penurunan signifikan juga dapat diperkirakan di AS, dimana lalu lintas kendaraan penumpang yang menjadi sumber utama CO2 turun hampir 40%.

Jeda untuk alam ini seolah menemukan solusi untuk masalah lingkungan, yang nanti setelah pandemi ini berakhir seharusnya manusia mulai bisa melakukan pemulihan alam. Dan mulai menerapkan semua hal yang ramah lingkungan seperti menggunakan energi bersih, membangun secara efisien tanpa merusak alam, dan menjaga infrastruktur alam.

Pada akhirnya, dampak lingkungan yang paling penting kemungkinan ada pada persepsi publik. Pandemi telah menunjukkan konsekuensi mematikan dan ini terjadi dari hewan-hewan liar. Menurut Program Lingkungan PBB, penyakit menular baru, 75% berasal dari hewan.

Perdagangan satwa liar dan deforestasi berkontribusi untruk itu. Cina sebagai pasar terbesar dunia untuk hewan liar tampaknya telah mengakui hal ini dengan melarang pertanian dan konsumsi satwa liar yang hidup.

Pandemi juga menunjukkan bahwa polusi menurunkan daya tahan kita terhadap penyakit. Lebih banyak paparan asap lalu lintas membuat paru-paru kita lebih lemah dan risiko kematian lebih besar dari Covid-19.

Seperti yang dikatakan oleh kepala lingkungan PBB, Inger Andersen, alam mengirimi kita pesan bahwa jika kita mengabaikan planet ini, maka kita membahayakan kesejahteraan diri kita sendiri.

Share this news.

Leave a Reply