Cosman Citroen, Arsitek Belanda Perancang Balaikota Surabaya

By 22 September 2020Featured

PROPERTY INSIDE – Cosman Citroen datang ke Surabaya pada tahun 1914, dia adalah generasi kedua dari arsitek-arsitek muda Belanda yang datang ke Hindia Belanda. Di tangannya banyak gedung-gedung mentereng dengan arsitektur yang indah hadir di Surabaya, salah satunya Gedung Balaikota Surabaya sekarang.

Lahir pada 26 Agustus 1881, ayahnya Levie Citroen adalah seorang pemotong berlian di Amsterdam. Ibunya bernama Sara Levie Coltof.  Citroen menyelesaikan pendidikan bangunan di Rijknormaalschool, Amsterdam. Sejak tahun 1902 hingga 1915, ia bekerja di biro arsitek B.J Quendaq di Amsterdam.

Baca juga: Sejarah Perumahan Rakyat [Part 1] – Zaman Kolonial

Sebelum 1900, arsitektur zaman penjajahan Belanda di Surabaya memiliki mutu kurang karena tidak ada arsitek profesional yang berpendidikan berpraktik di Indonesia. Gaya arsitektur Belanda sebelum tahun 1900 sering disebut gaya imperial yang dipopulerkan Daendels, Gubernur Jenderal Belanda yang memerintah pada 1808-1811.

cosman citroen

Para arsitek Belanda yang berpendidikan akademis mulai datang ke Indonesia setelah tahun 1900. Pada generasi pertama, arsitek Belanda di Surabaya menerapkan gaya bangunan arsitektur Belanda saat itu dengan mencoba beradaptasi dengan iklim di Surabaya. Ini ditunjukkan dengan penggunaan tower pada pintu masuk dan tempat strategis lainnya.

Pada 1914, gaya arsitektur di Surabaya mengalami perubahan dengan kehadiran arsitek muda generasi kedua, termasuk Citroen. Kantor arsitek tempat ia bekerja yang membawa dia datang ke Indonesia untuk terlibat dalam perancangan bangunan di Indonesia.

Baca juga: Sejarah Perumahan Rakyat [Part 2] – Pasca Kemerdekaan

Citroen pun pindah dan menetap di Surabaya pada 1915 setelah bekerja selama 13 tahun di kantor B.J Quendag. Kepindahan Citroen tersebut juga berhubungan dengan rencana pembangunan Balaikota Surabaya. Gemeentee atau kotamadya Surabaya didirikan pada 1 April 1906. Sejak berdiri pada 1905-1925, Surabaya belum memiliki gedung sendiri.

Citroen pun pertama kali merancang bangunan Balaikota Surabaya pada 1915-1917. Karena masalah biaya dan lainnya, rancangan bangunan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Kemudian pada 1920, ia merancang bangunan Balaikota Surabaya tahap kedua. Pembangunan balaikota itu selesai 1925.

Balaikota Surabaya memiliki panjang 102 meter dan kedalamannya 19 meter. Citroen membangun gedung tersebut dengan menggabungkan gaya arsitektur Belanda dan disesuaikan dengan iklim Surabaya.

Rancangan Balaikota Surabaya ini merupakan karya utama Citroen di Surabaya. Namun, tak hanya Balaikota Surabaya saja yang menjadi karya Citroen. Ia membangun sejumlah bangunan mulai dari rumah tinggal, jembatan, serta rumah sakit.

Baca juga: Sejarah Perumahan Rakyat [Part 3] – Era Orde Baru

Sociëteit Concordia

Sociëteit Concordia, salah satu karya Cosman Citroen di Surabaya.

Sejumlah karya bangunan Citroen di Surabaya antara lain perombakan bekas gedung Societeit Concordia pada 1917-1918, rumah tinggal di Jalan Sumatra pada 1918, Rumah Sakit Darmo pada 1919, dan perbaikan gedung Suiersundicaat pada 1925. Lalu ada membangun rumah dinas Wali Kota Surabaya pada 1927, interior Balaikota Malang, Christ Church di Jalan Diponegoro, Surabaya dan rumah tinggal di Jalan Kayoon, Surabaya.

Ia juga merancang sejumlah jembatan besar di Surabaya antara lain Jembatan Kayu Kebon Dalem pada 1918, dan sudah dibongkar serta diganti dengan jembatan beton. Kemudian Jembatan Gubeng pada 1923 dan Jembatan Wonokromo pada 1932. Selain itu, viaduct kereta api di Jalan Pahlawan pada 1933.

Salah satu karya terakhir Citroen dan terkenal yaitu gedung kantor dari perusahaan Borneo Smatra Maatschappij di Jalan Veteran Surabaya. Citroen meninggal dunia pada 1935, dan dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur.

Share this news.

Leave a Reply