New York Bakal Larang Penggunaan Kaca & Baja pada Pencakar Langit

By 27 April 2019Property News

PROPERTY INSIDE – Dalam upaya besar untuk mengatasi krisis perubahan iklim, Walikota New York City, Bill de Blasio berencana untuk melarang pembangunan gedung pencakar langit dari kaca dan baja.

“Kami akan memperkenalkan undang-undang untuk melarang gedung pencakar langit dari kaca dan baja yang telah berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Mereka tidak memiliki tempat di kota kita atau di bumi kita lagi,” kata De Blasio dalam konferensi pers pada Senin (22/4) awal pekan ini.

De Blasio mengungkapkan rencana itu sebagai bagian dari Green New Deal di New York City. Menurutnya, bangunan ada pada posisi nomor satu penyebab gas rumah kaca.

Baca juga: Samara Suites Raih Sertifikasi Bangunan Hijau

Dana inisiatif sebesar USD 14 miliar disiapkan sebagai bagian dari OneNYC 2050 Strategy, sejalan dengan tujuan Paris Agreement, perjanjian perubahan iklim internasional dimana presiden Donald Trump menarik diri pada tahun 2017.

Bangunan tinggi, yang membutuhkan sejumlah besar energi untuk beroperasi. “Penyebab nomor satu gas rumah kaca di kota ini adalah bangunan, bukan mobilnya,” kata De Blasio.

Bersamaan dengan melarang menara berlapis kaca, De Blasio juga meminta para pemilik lahan dan bangunan untuk menerapkan standar efisiensi energi pada gedung-gedung yang ada, yang menyumbang hampir sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca.

Para pemilik gedung harus menerapkan standar efisiensi energi pada tahun 2024 atau menghadapi denda hingga $ 1 juta (£ 772.800) per tahun. De Blasio percaya reduce ini dapat mengurangi emisi mereka 40 persen pada tahun 2030 dan 80 persen pada tahun 2050.

Baca juga: Gedung ASEAN Raih Tipe Platinum Sertifikat GBCI

“Salah satu yang menarik adalah untuk pertama kalinya di bumi ini, ini kota pertama yang mengamanatkan bahwa bangunan kita harus berhenti memancarkan begitu banyak polutan berbahaya,” kata De Blasio seperti dilansir Dezeen.com.

Bangunan, kata De Blasio, harus menjadi bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah. “Sudah menjadi hukum bahwa bangunan kita harus melakukan hal yang benar untuk masyarakat kota,” tambahnya.

“Jika sebuah perusahaan ingin membangun gedung pencakar langit besar, mereka dapat menggunakan banyak kaca, jika mereka melakukan semua hal lain yang diperlukan untuk mengurangi emisi kita,” lanjutnya.

Aspek-aspek lain dari strategi Green New Deal melibatkan tindakan keras terhadap penggunaan bahan bakar fosil, yang mendukung sumber energi terbarukan. De Blasio berencana untuk mendapatkan nol-emisi, tenaga air dari Quebec, Kanada.

Baca juga: Kota-kota Dunia Ramah Lingkungan

“Kota kita tidak perlu mendapatkan listriknya dari bahan bakar fosil itu, bahan bakar fosil itu dapat ditinggalkan di tanah dimana mereka berada,” katanya.

Dia juga mengungkapkan kota itu akan menuntut lima perusahaan minyak besar untuk “mendapatkan kembali ganti rugi uang untuk memperbaiki apa yang mereka lakukan terhadap kota”.

De Blasio bermaksud Green New Deal kota New York ini dapat menjadi trigger bagi kota-kota AS lainnya untuk mengatasi krisis iklim, setelah serangkaian peristiwa cuaca tak terduga yang telah terjadi di negara itu selama beberapa tahun terakhir.

Posisinya bertentangan langsung dengan sikap Donald Trump, yang skeptis terhadap perubahan iklim.  Sebelumnya, pada 2018, AIA (American Institute of Architects), organisasi profesional arsitek di USA meluncurkan petisi untuk memprotes kebijakan Trump tentang perubahan iklim dan mendesak para arsitek untuk mengatasi pemanasan global dalam proyek-proyek.

Share this news.

Leave a Reply