PROPERTY INSIDE – Penyedia layanan jasa sektor transportasi saat ini tidak semata hanya memikirkan memindahkan penumpang dari satu titik ke titik berikutnya. Dan tak dipungkiri kehadiran moda tranportasi Moda Raya terpadu atau MRT Jakarta telah menjadi babak baru moda transportasi di Indonesia.
Untuk itu operator transportasi publik seperti MRT Jakarta harus bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan akses dan infrastruktur yang lebih baik, seperti fitur untuk pejalan kaki, penyandang disabilitas, dan pesepeda.
Selain itu juga harus bisa bersinergi dengan berbagai aspek dengan operator lain seperti bus, bahkan ojek online. Semua dilakukan dengan tujuan agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan ketika menggunakan transportasi publik di kota sibuk seperti Jakarta.
Baca juga: MRT Jakarta, Fase III Hubungakan Kalideres – Ujung Menteng
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi berdurasi sekitar dua jam di acara “Power Talk: Reinventing Transport in the Sharing Economy” yang diselenggarkan oleh IPMI International Business School pada Selasa (30-7) lalu di kampus IPMI, Jakarta Selatan.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, hadir sebagai pembicara mengatakan, setelah penantian lebih dari 30 tahun, akhirnya Jakarta, atau Indonesia, memiliki MRT pertamanya.
“Walau baru 16 kilometer, namun saat ini MRT Jakarta telah mampu mendapatkan penumpang harian hampir 100 ribu orang per hari,” imbuhnya seperti dikutip dari lama mrtjakarta.
Baca juga: Jokowi Naiki Ratangga, Berharap 2030 Jaringan MRT Panjangnnya 230 Km
Dan yang patut diapresiasi adalah soal ketepatan waktu MRT Jakarta, termasuk waktu keberangkatan, durasi perjalanan hingga waktu berhenti di stasiun, mencapai 100 persen.
“Ini yang sangat penting. Ketepatan waktu yang membuat masyarakat mau menggunakan transportasi publik dan mengubah gaya mobilitas mereka,” kata William.
William juga menambahkan bahwa saat ini, masyarakat telah berubah lebih tertib dan disiplin dalam menggunakan transportasi publik. Antarmoda transportasi publik pun telah terintegrasi dengan lebih baik.
Baca juga: Intiland Siapkan Akses Menuju Stasiun MRT Jakarta
“Misalnya ada sekurang-kurangnya lima stasiun MRT Jakarta dan halte Transjakarta yang terintegrasi secara fisik baik saat ini dan perencanaan di masa depan, yaitu di Stasiun dan Halte Lebak Bulus, Stasiun dan Halte Blok M, Stasiun dan Halte ASEAN, Stasiun dan Halte Dukuh Atas, serta Stasiun dan Halte Bundaran HI,” ujarnya.
Selain itu, pusat perbelanjaan pun juga terintegrasi,” ujar William yang menyebut bahwa salah satu pusat perbelanjaan di kawasan tersebut. Saat ini, sudah menjadi pemandangan biasa bila melihat pertunjukan seni dan budaya di beberapa stasiun MRT Jakarta.
Baca juga: Ada MRT, Poins Square Ubah Konsep Ritel Dan Komersial
“Kami berharap stasiun MRT Jakarta dapat menjadi ruang bersama dan menyatukan berbagai lapisan masyarakat di Ibu Kota,” tegas William.
Selain itu, sebagai salah satu badan usaha milik daerah PT MRT Jakarta memiliki tiga tugas utama perusahaan, yaitu membangun infrastruktur, mengoperasikan sarana dan prasarana, serta mengembangkan bisnis.
“Salah satunya adalah mendapatkan pemasukan dari sektor non-fare box, yaitu retail, telekomunikasi, iklan, dan properti,” kata William yang menjelaskan bahwa pendapatan tersebut akan membuat sebuah operator transportasi publik dapat lebih berkelanjutan untuk pengembangan bisnisnya di masa depan.



