Digital Branding Adalah Kunci Jualan Properti

By 1 November 2019Property News

PROPERTY INSIDE – Developer properti Indonesia masih berkutat pada pemahaman hard selling atau digital marketing  dalam menjalankan strategi pemasaran mereka. Tidak banyak yang betul-betul memahami dan menjalani digital branding.

Padahal, digital branding bisa membantu pelaku industri untuk lebih dikenal dan dipercaya oleh konsumen. Di tengah pasang surutnya prospek bisnis properti di Indonesia, pengembang properti perlu dengan cerdas mengatur strategi pemasaran mereka dengan menyertakan digtal branding di dalamnya.

Managing Director Lamudi.co.id, Mart Polman menyebut bahwa pentingnya digital branding dalam strategi marketing untuk membangun kepercayaan konsumen.

“Lamudi.co.id bekerjasama dengan Facebook Indonesia mengajak berbagi wawasan mengenai hal ini dengan para pakar industri mengenai tren & praktik terbaik untuk membangun digital branding,” kata Polman, Kamis (31/10) di Jakarta.

Baca juga: Antara Digital Branding Dan Marketing, Saling Melengkapi !!!

Edwin Tirta, B2B Digital Lead One Labs dalam kesempatan terpisah mengamini bahwa zaman digital saat ini memang menuntut para pebisnis properti untuk memanfaatkan teknologi dalam membentuk brand image.

“Dari penelitian kami, beberapa tahun belakangan ini dalam 1 menit saja sebanyak 4,5 miliar viewers mengakses youtube, sebanyak 3,5 miliar orang mengakses sumber-sumber informasi internet lainnya, seperti situs berita, media sosial dan lainnya,” sebut Edwin di acara #TAYTB FEST 2019, Kamis (31/10) di Jakarta.

Video-video promosi di youtube sendiri saat ini sudah bisa menjadi basis informasi yang tepat guna, mudah dan dapat langsung disebarrkan secara masif. Aplikasi ini juga jelas dapat menghemat waktu, biaya dan mengurangi penggunaan kertas yang biasanya developer banyak menggunakan leaflet atau brosur.

Baca juga: Sektor Properti Lemah Karena Bunga KPR Tinggi

Sementara, Business Dev & Commercial Div Head Jakarta Land, FX Tri Nugroho mengatakan bahwa saat ini banyak pemain properti yang belum sepenuhnya menggunakan Internet of Thing (IoT) dikarenakan cost yang lumayan besar.

“Tapi meski cost cukup besar namun sebanding dengan hasil yang diharapkan. Seperti kami yang sudha menggunakan Virtual Reality sejak tahun 2011 di proyek kami di Bali. Untuk 10 detik saja cost-nya sampai Rp 100 juta,” jelasnya.

Namun Tri menyebut bahwa angka tersebut sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Para calon konsumen tidak perlu jauh-jauh ke lokasi proyek di Bali untuk melihat rumah contoh. Selain itu aplikasi tersebut bisa dibawa kemana saja saat mengadakan pameran atau road show.

Share this news.

Leave a Reply