Soemarno Sosroatmodjo, Gubernur Jakarta Penggagas Rumah Rakyat

By 3 February 2021Featured

PROPERTY INSIDE – “Kalau kita bisa menyelenggarakan Asian Games, maka sayang sekali kalau kita tidak bisa menyelesaikan soal perumahan.” Itulah sepenggal ungkapan Soemarno Sosroatmodjo, Gubernur DKI Jakarta periode 1960-1964 kepada wartawan Star Weekly, 13 Mei 1961.

Soemarno Sosroatmodjo adalah gubernur pertama ketika status Kota Praja Jakarta Raya berubah menjadi Daerah Tingkat I. Soemarno Sosroatmodjo lahir di Jember, Jawa Timur, pada 24 April 1911. Sebelum terjun ke kancah politik, ia adalah seorang dokter militer yang kerap ditugaskan ke wilayah-wilayah pelosok.

Bimbim, pentolan grup band Slank adalah cucu kandung Gubernur pertama DKI tersebut. Ayah Bimbim, Sidharta M Soemarno adalah anak  Soemarno yang pernah menjabat gubernur dua kali, yakni pada periode 1960-1964 dan 1965-1966. Soemarno juga sempat merangkap jabatan gubernur DKI sekaligus Menteri Dalam Negeri RI atas perintah Presiden Sukarno.

Baca juga:  Bisa Selenggarakan Asian Games, Harus Bisa Juga Sediakan Rumah Rakyat

Di masa pertama sebagai Gubernur, lima hari usai dilantik atau pada 9 Februari 1960, Jakarta dilanda banjir parah akibat hujan sangat lebat yang turun mengguyur selama 12 jam. Kawasan Grogol, Jakarta Barat, yang baru dibangun sebagai kota satelit, dilanda banjir besar. Termasuk yang dilanda banjir adalah kompleks DPR-RI. Jakarta bagaikan kota di atas air, hampir semua wilayah terbenam dan ada pula yang tenggelam.

Kala Soemarno menjabat, Jakarta tengah bersiap menyongsong Asian Games 1962. Pemerintah pusat meminta Soemarno ikut membantu keberhasilan pembangunan gedung, fasilitas, dan jalan penunjang pesta olahraga terbesar Asia tersebut. Konsekuensinya, pembangunan tersebut harus mengorbankan penduduk Jakarta,  jumlah rumah yang dibongkar dan dibangun kembali sebanyak 8.652 buah.

Padahal, di saat yang sama Ibukota Negara ini juga kekurangan 100 ribu rumah dan terus bertambah setiap tahun sebanyak 10 ribu rumah. Hal yang dilematis bagi pemimpin Ibukota saat itu, puluhan ribu orang tidak punya rumah, tidak sedikit yang mendirikan bangunan-bangunan liar. Segelintir yang mampu, beruntung masih bisa menyewa rumah-rumah petak.

Soemarno mengupayakan jalan keluar masalah perumahan. Tanah lapang luas seperti di Cempaka Putih atau Pulo Mas menunggu digarap. Harga tanahnya pun masih murah sehingga Soemarno berangan-angan warga golongan ekonomi lemah mampu membeli tanah di sana secara legal.

Baca juga: Problematika Perumahan Tak Pernah Berubah Sejak Dekade 50an

Demi menyediakan rumah untuk rakyat, pemerintah harus menguasai sebanyak mungkin tanah agar dapat mencegah adanya spekulasi harga, begitu pemikiran seorang Soemarno.

Pada masa kepemimpinannya juga dibangun Monas, Gedung Sarinah, Patung Selamat Datang,  dan Patung Pahlawan di Menteng. Gebrakan paling menonjol yang dilakukan Soemarno saat menjabat gubernur DKI adalah program rumah minimum (minimalis) untuk rakyat Jakarta.

Bisa dibilang Soemarno adalah penggagas ide hunian terjangkau di ibukota. Konsep rumah minimum ini adalah rumah dengan luas 90 meter persegi, dibangun di atas tanah 100 meter persegi, terdiri dari dua lantai, lokasinya dekat dengan tempat kerja.

Tapi, pemerintah daerah pun tak bisa sepenuhnya membangun rumah murah. Kemampuan keuangan pemerintah daerah saat itu tidak sanggup menyediakan kebutuhan papan itu sepenuhnya.

Sebagai solusi, pemerintah daerah bakal menjamin harga tanah murah, menghapus aturan Surat Izin Penghuni, menyediakan akses jalan, dan membangun fasilitas penunjang lainnya seperti air dan listrik. Pemda meyarankan warga untuk membangun rumah secara sederhana di Cempaka Putih dan Pulo Mas.

Baca juga:  Asmat Amin: Sektor Perumahan Harus Punya Kementerian Sendiri

Soemarno juga mengajak perusahaan swasta dan warga turut andil mendukung pembangunan rumah minimum bisa menyentuh masyarakat lapisan bawah.

Tiga tahun kemudian, hal itu benar-benar terwujud. Harian Djaja, 11 Juli 1964 mencatat, proyek Cempaka Putih dibangun dengan lahan seluas 235 ha, 22 ha telah di land clearing dan di atasnya sudah dibangun seluas 6 ha terdiri dari 204 unit tipe rumah minimum, 33 pintu tipe rumah sedang dan 11 pintu tipe villa.

Soemarno sengaja melebur lingkungan rumah minimum dengan rumah sedang dan rumah villa. Dia ingin penghuninya bekerja sama membentuk lingkungan baru di luar pusat kota.

Itulah legacy yang ditinggalkan Soemarno untuk sektor perumahan di ibukota. Soemarno tutup usia pada 9 Januari 1991 di usia 79 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri, tujuh anak, 22 cucu, dan 3 cicit.

Beliau dimakamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit di kawasan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Hal ini karena Soemarno sempat memimpin rumah tersebut pada era prakemerdekaan.

Share this news.

Leave a Reply