Fort Rotterdam, Benteng Milik Kerajaan Gowa-Tallo yang Direbut Kompeni

By 6 December 2021News

PROPERTY INSIDE – Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada disebelah utara Benteng Somba Opu, kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Pada zamannya benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai pusat kegiatan pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo.

Benteng ini dibangun oleh Raja Gowa ke IX Daeng Matare Karaeng Manguntungi Tumapa’risi’ Kallonna dan diselesaikan oleh putranya Raja Gowa X Imanriogau Bontokaraeng lakiung Tonipallangga Ulaweng dengan konstruksi tanah liat pada tahun 1545. Atas perintah Raja Gowa XIV Imangerangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin) pada tahun 1634, tembok benteng diperbaiki dan menambah material batu karang, batu padas, dan batu bata menggunakan kapur dan pasir sebagai perekat.

Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Benteng Rotterdam - Fort Rotterdam 1

Benteng Ujung Pandang mempunyai lima buah sudut pengintaian atau biasa disebut Bastion dalam bahasa Perancis. Kelimanya adalah Bastion Bone terletak di sebelah barat, Bastion Bacam terletak di sudut barat daya, Bastion Butan terletak di sudut barat laut, Bastion Mandarsyah terletak di sudut timur laut dan Bastion Amboina yang terletak di sudut tenggara.

Benteng ini memiliki nama asli yaitu Benteng Ujung Pandang, karena letaknya berada di ujung atau tanjung yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua (Penyu), karena disini merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.

Sebelumnya Gowa-Tallo telah memiliki 14 benteng yang kukuh dan tertutup untuk menangkal serangan tiba-tiba musuh. Selain itu, Fort Rotterdam memiliki fungsi pengontrol perdagangan dan transaksi ekonomi yang jadi penopang utama kehidupan dan eksistensi raja-raja Goa-Tallo. Karena itu, maskapai dagang Belanda, VOC yang memiliki niat monopoli perdagangan Nusantara merasa terancam oleh kedudukan politik dan ekonomi Kerajaan Goa-Tallo.

Serangan Belanda pada tahun 1655 hingga tahun 1669, dalam peperangan mengakibatkan kekalahan dari pihak Kerajaan Gowa. Kekalahan tersebut membuat Raja Gowa Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungaya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam.

Fort Rotterdam

Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.  Sosok yang nantinya menjadi Gubernur Jenderal ke-14 VOC itu jadi juru strategi penyerangan terhadap Makassar. Armada yang dikomandoi Speelman terdiri dari 21 kapal dengan kekuatan 300 tentara Eropa. Kekuatan itu boleh dibilang kecil. Namun, VOC juga membawa serta pasukan cadangan dari kaum bumiputra di bawah komando Kapten Jonker dan sebagaian pengikut Arung Palakka dari Bone.

Seusai perang, VOC tak cuma memperbaiki benteng. Mereka justru membangun banyak sarana dan prasara tambahan sesuai selera arsitektur Belanda. Benteng yang dulunya menjadi penopang kegiatan ekonomi kerajaan, kini menjadi simbol kekuatan militer VOC. Terutama, ketika infrastruktur ditambahkan sehingga memenuhi fungsi benteng sebagai pemukiman orang Belanda dan juga pusat kekuasan militer di tanah Makassar.

Di dalamnya pula terdapat tempat untuk menegakkan kuasa politik dan VOC. Sederet ruang penyiksaan dan penjara kemudian di tambah oleh VOC. Fasilitas itu dirasa penting karena Speelman sendiri memiliki seabrek citra buruk. Ia sering terlibat penjualan budak, berbuat curang, korup, hingga sering memenjarakan orang tanpa bukti yang kuat.

rotterdam 1

Pangeran Diponegoro jadi yang paling kesohor pernah menghuni penjara dalam benteng. Tak main-main, selama 22 tahun. Sebelumnya, Diponegoro mendekam di Fort Nieuw Amsterdam, Manado. Diponegoro ditempat di sana sejak Juni 1830 hingga juni 1833. Akhirnya, Diponegoro direlokasi ke Fort Rotterdam bersama istri dan 22 pengikut setia. Ia sendiri menempati penjara sempit. Pun Belanda melarang Diponegoro keluar dari benteng dan menerima tamu tanpa persetujuan Belanda.

Ia sempat ingin direlokasi kembali oleh pemerintah kolonial Belanda. Diponegoro menolak. Ia memilih menghabiskan sisa hidupnya di Benteng Rotterdam. Tercatat, Diponegero menghabiskan waktunya di Fort Rotterdam selama 22 tahun, dari 12 Juli 1833 sampai 8 Januari 1855.

Benteng Rotterdam dan Kerajaan Gowa-Tallo adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan. Keduanya saling berkaitan. Benteng yang mula bernama Benteng Ujung Pandang dibangun oleh Raja Gowa ke-10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung dengan gelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng pada 1545.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Share this article:

Leave a Reply