Tjong A Fie Mansion – Arsitektur Peranakan, Bukti Kekayaan Arsitekur Nusantara

By 25 February 2018In Depth, News

PROPERTY INSIDE – Kota Medan ternyata tidak hanya terkenal akan kelezatan kulinernya saja. Keindahaan arsitektur bangunan-bangunan Tempo Doeloe-nya pun sungguh tak habis-habis untuk digali. Mulai dari gedung Kantor Pos Besar Medan, Gedung Balai Kota Lama, Gedung London Sumatera, hingga jembatan besar yang biasa disebut Titi Gantung oleh masyarakat Medan.

Namun semua itu tidak akan lengkap jika tidak memasukan bangunan kuno nan indah satu ini dalam daftar kekayaan sejarah kota Medan. Gaya arsitektur campuran budaya Tiongkok kuno, Eropa dan Melayu berpadu membentuk sebuah harmoni yang sedap dipandang diterapkan dengan sangat elegan pada rumah ini.

alt text
Tidak bisa dipungkiri, Rumah Tjong A Fie ini adalah salah satu ikon dan simbol sejarah multi etnis di kota Medan. Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Gerbang rumah yang megah ini “dijaga” dua patung singa, pintu masuk dihiasi ukiran kayu yang cantik. Burung phoenix dari potongan keramik warna-warna bertengger manis di atas gerbang.

Rumah ini sendiri terbuka untuk umum, menjadi museum sejak tahun 2009, tepat pada saat peringatan 150 tahun kelahiran Tjong A Fie, sang pemilik. Bangunan cagar budaya nasional seluas 6000 m/square membawa kita ke era Baba dan Nyonya, seolah memasuki mesin waktu yang membawa kita ke awal tahun 1900-an.

Peninggalan sejarah dan budaya peranakan Tiongkok-Indonesia ini kini dikemas menarik, dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti galeri foto tua, lobby lounge excecutive, butik & museum cafe yang menyajikan resep khusus kuliner peranakan nan lezat.

alt text
Tjong A Fie Masion berlokasi di Jl.A.Yani, Medan atau lebih dikenal dengan sebagai kawasan Kesawan. Luas bangunan mansion diperkirakan 4.000 m2 dengan 35 ruangan. Beragam interior mulai dari klasik cina, eropa, dan retro menghiasi tiap ruangan. Mengajak pengunjung melintasi era yang sudah dilalui bangunan ini.

Beberapa bagian ruang memang dibuka untuk umum, namun bangunan di sayap kanan tertutup karena ditempati oleh keturunan Tjong A Fie. Di bagian ruang makan warna-warna terang seperti merah, hijau dan biru mendominasi. Langit-langitnya penuh lukisan tangan bernilai seni tinggi, berpadu dengan lampu gantung khas Eropa. Pernak pernik jamuan makan bernuansa Cina Melayu.

Tjong A Fie Masion ini memiliki dua kamar utama, keduanya mengapit altar ruang sembahnyang. Kamar di sebelah kiri menjadi ruang pamer foto. Memuat sejumlah kenangan Tjong A Fie bersama keluarga. Kamar di kanan merupakan ruang tidur, di ruangan ini terdapat tempat tidur kayu besar berkelambu.

alt text
Ruangan ini juga masih menyimpan barang-barang pribadi sang pemilik. Koper besi tua yang dibawa Tjong A Fie ketika pertama kali merantau ke tanah Deli terlihat masih terawat baik. Ruang terbuka di tengah yang menghubungkan antara ruang utama dan altar tempat sembahyang biasa di sebut sumur surga.

Mungkin karena dari sini kita bisa memandang birunya langit. Di kedua sisi sumur surga terdapat tangga menghantarkan ke lantai dua menuju ball room. Di lantai dua juga ada ruang sembahyang namun ini adalah area tertutup bagi penghunjung.

Relief Guan Sheng Di Jun atau yang lebih dikenal sebagai Guan Gong nampak terpahat di dinding altar. Relief Dewa Perang juga menghiasi kedua sisi ujung atap rumah. Living room berada di lantai satu berbatasan langsung dengan sumur langit. Ruang tamu ini dibagi tiga bagian, kanan, kiri dan tengah depan.

Ruang depan tempat Tjong A Fie menerima tamu umum, ruang di sebelah kiri untuk tamu-tamu masyarakat Tionghoa, sedangkan sebelah kanan khusus menerima tamu Sultan Deli beserta kerabatnya.

alt text

Sejarah dan Legenda Tjong A Fie
Tjong A Fie adalah symbol sukses cerita imigran Tiongkok. Ia berasal dari Kanton pada tahun 1875. Tjong Fung Nam yang lebih popular dengan nama gelarnya dengan Tjong A Fie dilahirkan tahun 1860 di desa Sungkow daerah Moyan atau Meixien dan berasal dari suku Khe atau Hakka.

Ia berasal dari keluarga sederhana, ayahnya yang sudah tua memiliki sebuah toko kelontong. Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, Tjong A Fie harus meninggalkan bangku sekolah, membantu menjaga toko ayahnya.

Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie ternyata cukup cerdas dan dalam waktu singkat dapat menguasai kiat-kiat dagang dan usaha keluarga yang dikelolanya mendapat kemajuan. Tapi, Tjong A Fie rupanya mempunyai suatu cita-cita lain, ia ingin mengadu nasib di perantauan untuk mencari kekayaan dan menjadi manusia terpandang.

alt text
Tekad inilah yang mendorongnya meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Hindia Belanda. Di Medan Tjong A Fie mempunyai pergaulan yang luas dan terkenal sebagai pedagang yang luwes dan dermawan.

Ia kemudian membina hubungan yang baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsjah dan Tuanku Raja Moeda. Tjong A Fie berhasil menjadi orang kepercayaan Sultan Deli dan mulai menangani beberapa urusan bisnis. Dengan demikian dia memperolah reputasi yang baik dan terkenal di seluruh Deli.

Ia terkenal baik di kalangan pedagang maupun orang Eropa serta pejabat pemerintah setempat. Hubungan yang baik dengan Sultan Deli ini menjadi awal sukses Tjong A Fie dalam dunia bisnis. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau antara lain untuk pembuatan bangsal.

alt text
Tjong A Fie menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga mengembangkan usahanya di bidang perkebunan teh di Bandar Baroe di samping perkebunan karet si Boelan. Ia juga memiliki perkebunan kelapa yang sangat luas. Di Sumatera Barat ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan.

Tjong A Fie adalah tokoh pembangunan di Sumatera Utara. Sepanjang hidupnya selama di Medan telah banyak menyumbangkan hartanya untuk kepentingan sosial dengan membangun sarana-sarana untuk kepentingan umum dan menolong orang miskin tanpa membedakan warna kulit, suku dan agamanya.

Kedermawanan dan kepedulian sosial yang masih terlihat hingga saat ini adalah titi berlian (jembatan di Kampong Madras) yang dibangun untuk menghormati abangnya Tjong Yong Hian sekaligus untuk kepentingan masyarakat luas.

alt text
Tjong A Fie juga membangun klenteng, masing-masing di Jl. Kling dulunya di Klingenstraat dan Pulo Brayan. Ia juga menyediakan tempat pemakaman di Pulo Brayan dan mendirikan perkumpulan kematian yang bertugas untuk memelihara kuburan. Ia juga membangun rumah sakit khusus untuk merawat pasien berpenyakit lepra di Pulau Sicanang.

Rasa hormatnya kepada Sultan Deli, Makmun Al Rasjid dan penduduk Islam Medan, diwujudkan dengan mendirikan Mesjid Raya Medan dengan menyumbang sepertiga dari seluruh biaya pembangunannya.

Pada 4 Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dunia karena apopleksia atau pendarahan otak, di kediamannya di Jalan Kesawan, Medan. Seluruh kota Medan gempar dan turut berkabung, ribuan orang pelayat datang berduyun-duyun bukan saja dari kota Medan, tetapi dari berbagai kota di Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapura dan Pulau Jawa.

alt text
Upacara pemakamannya berlangsung dengan megah dan penuh kebesaran sesuai dengan tradisi dan kedudukannya pada masa itu. Karena kedermawanannya, tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal-usul, Tjong A Fie telah menjadi legenda dan namanya dikenang oleh penduduk kota Medan dan sekitarnya.

Empat bulan sebelum meninggal dunia, Tjong A Fie telah membuat surat wasiat di hadapan notaris Dirk Johan Facquin den Grave. Isinya adalah mewariskan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia.

Yayasan yang berkedudukan di Medan diminta untuk melakukan lima hal. Tiga diantaranya untuk memberikan bantuan keuangan kepada kaum muda yang berbakat dan berkelakuan baik serta ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan.

Share this news.

Leave a Reply