Trowulan, Kota Metropolitan Kuno

By 25 February 2018In Depth, News

PROPERTY INSIDE – Nusantara, nama lain Indonesia di zaman kerajaan Majapahit, memiliki ratusan atau mungkin bahkan ribuan keunikan arsitektur bangunan. Terbukti setiap daerah memiliki rumah-rumah adat yang berbeda-beda bentuknya.

Namun jelas bahwa Majapahit, kerajaan besar yang menguasai Nusantara, memiliki pengaruh paling besar dalam gaya arsitektur Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur tradisional maupun modern.

Tak hanya ilmu arsitektur, zaman Majapahit juga menampilkan teknologi penggunaan bahan bangunan seperti bata merah telah disempurnakan sebagai teknik pembuatan struktur bangunan. Selain itu, tata kota Trowulan, yang diyakini sebagai ibukota Majapahit disebut-sebut sangat maju untuk peradaban di zamannya.

Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena berada di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu. Berbeda dengan kerajaan – kerajaan lain yang menempatkan kerajaan mereka di pesisir dengan tujuan dekat dengan kegiatan perdagangan.

alt text
Catatan pelaut Cina yang ditulis oleh Ma Huan, sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) mencatat jika ingin mencapai Trowulan, mereka harus melewati Surabaya, akrena ibukota Majapahit berada dipedalaman.

Majapahit memilih Trowulan yang berada di pelosok Jawa Timur kemungkinan karena alasan keamanan. Mungkin ini berawal dari pengalaman Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang mengalami kekalahan saat menjadi panglima Kerajaan Singhasari saat diserbu oleh Kekaisaran Tiongkok-Mongol di bawah Dinasti Yuan.

Karena itu dirinya memilih mendirikan kerajaan di pedalaman. Selain itu, alasan pemilihan delta sungai Brantas yaitu wilayahnya yang subur dan menghubungkan dua dermaga besar yang ada di Ujung Galuh, Surabaya dan dermaga Pamotan di Sidoarjo.

Banyak pakar arkeologi percaya bahwa Trowulan adalah ibukota Majapahit, ini didasarkan dari dari penelitian yang dilakukan oleh Wardenaar atas perintah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-39, pada tahun 1815.

“Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng Keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut “Purawuktra” menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng “Brahmastana”, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga Paseban”. -Nagarakretagama

Dalam bukunya History of Java Raffles menyebutkan “remains of gateway at Majapahit called Gapura Jati Pasar” ketika menyebut Candi Waringin Lawang, dan menyebut “one of the gateway of Majapahit” ketika menyebut Candi Brahu.

Pigeaud, ahli sejarah kebangsaan Belanda, dalam kajiannya terhadap Nagarakretagama menyimpulkan bahwa Trowulan, ibukota Majapahit, bukanlah sebuah kota yang dikelilingi tembok-tembok benteng.

Menurut Pigeaud, komplek permukiman besar yang meliputi sejumlah komplek yang lebih kecil, di mana satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.

Maclains Pont, seorang arsitek Belanda, yang menggali hampir seluruh penjuru Trowulan dari tahun 1924-1926. Hasilnya berupa sejumlah besar pondasi bangunan, saluran air yang tertutup dan terbuka, serta waduk-waduk. Dari uraian Nagarakretagama tentang Kota Majapahit, dia berhasil membuat sketsa “kota” Majapahit di Situs Trowulan.

alt text
Tata letak kota Trowulan, ibukota Majapahit, dibuat dengan kanal-kanal berpola Grid. Dengan lebar 20-30 meter, dengan kedalaman 4 meter. Kanal terpanjang yang ditemukan adalah sepanjang 18 kilometer.

Foto udara yang dibuat pada tahun 1970-an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur.

Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 meter atau hanya 12 meter, dan bahkan 94 meter yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini. (Muljana, Slamet. 2006. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya).

Kekuasaan Majapahit perlahan mulai melemah, setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Majapahit semakin merosot akibat terjadinya konflik perebutan takhta. Antara tahun 1466-1474, Dyah Suraprabhawa Raja Majapahit yang memerintah kala itu memindahkan ibu kota kerajaan lebih jauh ke pedalaman di Daha, bekas ibu kota Kerajaan Kediri, hingga keruntuhan kerajaan itu berkisar pada kurun waktu tahun 1478 hingga 1527.

Share this news.

Leave a Reply