Asmat Amin: Pembebasan Lahan dan Kecepatan Penjualan Jadi Kekuatan SPS Group

PROPERTY INSIDE – PT Sri Pertiwi Rejeki (SPS Group) merupakan pengembang yang fokus pada segmen rumah sederhana yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Selama 18 tahun SPS Group sudah mensuplai sebanyak lebih dari 100 ribu unit rumah. Seperti pada tahun 2017 SPS Group berhasil menjual sebanyak 10 ribu unit dari tiga proyeknya.

Salah satunya melalui proyek Villa Kencana Cikarang (125 hektar) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dengan melakukan akad kredit serempak sebanyak 4 ribu unit rumah.

Baca juga: Fokus Rumah Subsidi, Tahun Ini SPS Group Kejar Target 15 Ribu Unit

Pada tahun yang sama Grand Cikarang City (560 ha) dan Grand Vista Cikarang (65 hektar) berhasil dijual sebanyak 10 ribu unit. Kemudian Grand Cikarang City (280 hektar) sebanyak 2.400 unit dan Grand Vista Cikarang (65 hektar) sebanyak 4 ribu unit.

Dari rata-rata penjualan 5 ribuan unit per tahun, SPS menggenjot kapasitas produksinya menjadi rata-rata 10 ribu unit per tahun.

Asmat Amin, CEO SPS Group menegaskan bahwa keberhasilan ini karena strategi khusus terkait pembebasan lahan, karena ini yang paling sulit.

Baca juga: Mudik Lebaran 2019, Cijago Seksi II Dibuka Fungsional Selama 8 Hari

“Tidak semua pengembang memiliki kemampuan membebaskan lahan yang bisa dikembangkan untuk rumah bersubsidi dan itu yang menjadi expertise kami,” imbuhnya beberapa waktu lalu.

Strategi lainnya yang dilakukan yaitu aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti Bank BTN yang menjadi mitra utama terkait pembiayaan perumahan.

Kemudian SPS Group juga menggandeng BPJS Ketenagakerjaan untuk memperlancar pemasaran rumahnya. Pemasaran kepada berbagai  industri yang memiliki karyawan besar juga dilakukan untuk membukukan penjualan borongan (bulk sales).

Baca juga: Hingga Mei, Progres Program Satu Juta Rumah Capai 400.500 Unit

Tahun 2019 ini, SPS Group menargetkan penjualan yang lebih tinggi lagi mencapai 15 ribu unit. Yang akan menjadi andalan adalah proyek Grand Cikarang City 2 (280 hektar) yang berlokasi sangat dekat dengan koridor Jalan Gatot Subroto, jalan raya utama yang melintas Cikarang-Lemah Abang sekaligus akses ke Stasiun Lemah Abang dan Cikarang.

Kecepatan juga menjadi kunci sukses pengembangan rumah murah. Karena margin keuntungan yang tipis, pengembangannya harus dilakukan dengan kecepatan yang tinggi untuk memperlancar cashflow perusahaan.

Misalnya, memasarkan 2.500 unit rumah harus bisa dilakukan dalam 1,5-3 bulan sehingga dana yang ada bisa digunakan untuk membeli lahan baru sehingga pengembangan dan belanja tanah bisa berjalan seiring untuk menjamin kontinuitas perusahaan.

Baca juga: Safa Marwa Tower, Kembangkan Konsep Muslim Friendly-Premium Residence

Menurut Asmat, cashflow harus cepat sehingga kita bisa segera belanja lahan baru untuk pengembangan berikutnya. Rata-rata yang kita lakukan fifty-fifty untuk pengembangan proyek berjalan dan belanja tanah.

Hingga saat ini landbank yang sudah kita kuasai sekitar 1.000 hektar dan 70 persennya ada di Cikarang sisanya di Karawang, Subang, dan Purwakarta.

“Tahun ini kami optimistis pengembangan rumah subsidi akan semakin baik terlebih dengan sudah diberlakukannya harga patokan baru untuk rumah bersubsidi per Mei 2019,” tandas Asmat.

 

 

 

Share this news.

Leave a Reply